Epochtimes.com

Kantor Urusan Hongkong dan Makao yang berada di bawah Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini mengadakan konferensi pers untuk sekali lagi menunjukkan sikap kerasnya terhadap kejadian di Hongkong. Namun, tidak biasanya media resmi menghapus ucapan-ucapan keras yang disampaikan oleh Kantor Urusan Hongkong dan Makao. 

Beberapa analis percaya bahwa pemerintah Beijing mulai berubah sikap terhadap Kantor Urusan Hongkong dan Makao. Tidak disangkal bahwa mungkin saja Xi Jinping telah merasakan adanya “kejanggalan” dalam tubuh Kantor Urusan Hongkong dan Makao. 

Bisa jadi mereka yang sengaja membuat kekacauan, dalam upaya untuk menciptakan bentuk lain dari kudeta untuk melengserkan Xi Jinping dari jabatannya.

Gerakan anti-revisi undang-undang ekstradisi di Hongkong telah berlangsung selama 3 bulan, dan kekerasan yang dilakukan polisi Hongkong terus meningkat. Reuters pada 2 September 2019 melaporkan bahwa rekaman suara Carrie Lam, Kepala Eksekutif Hongkong dalam pertemuan dengan para pengusaha menyebutkan bahwa dirinya telah menimbulkan bencana yang tak termaafkan bagi Hongkong dan mengatakan bahwa ia akan mengundurkan diri jika memiliki pilihan.

Namun, dalam konferensi pers 3 September 2019, Carrie Lam mengklaim bahwa dirinya tidak pernah menyampaikan rencana mundur, meskipun ia tidak menyangkal keaslian rekaman. Hari itu Kantor Urusan Hongkong dan Makao kembali mengadakan konferensi pers, juru bicaranya Yang Guang mengklaim bahwa hingga 2 September 2019  ini, kepolisian Hongkong telah menangkap 1.117 orang warga Hongkong termasuk 3 orang anggota Dewan Legislatif.

Segera, Yang Guang menggunakan istilah terorisme, bibit terorisme dan revolusi warna dalam pernyataannya.  “Tujuan mereka adalah untuk mengambil keuntungan dari lumpuhnya pemerintahan Hongkong guna merebut hak memerintah yang akhirnya mematikan Satu Negara Dua Sistem,” kata Yang Guang.

Namun, hal yang janggal adalah bahwa dalam laporan yang diterbitkan oleh media resmi ‘Xinhua’ atau ‘People’s Daily’ semua berupa potongan dan istilah itu, yakni terorisme, bibit terorisme dan revolusi warna tidak muncul.

Beberapa analis percaya bahwa “penyaringan” terhadap isi pidato juru bicara Kantor Hongkong dan Makao jika dibandingkan dengan hasutan bernada tinggi yang menunjukkan sikap keras komunis Tiongkok terhadap Hongkong sebelumnya, kelihatannya ada perubahan sikap pemerintah Beijing terhadap Hongkong. Boleh dikatakan bersikap tidak sama dengan Kantor Urusan Hongkong dan Makao.

Sebelumnya, Reuters mengutip berita dari sumber terpercaya memberitakan bahwa Carrie Lam pernah menyerahkan laporan kepada Kantor Urusan Hongkong dan Makao pada pertengahan Juni 2019. 

Laporan itu sebagai tanggapan atas penyelesaian kelima tuntutan utama rakyat Hongkong, di antaranya menarik kembali rencana revisi undang-undang ekstradisi. Tetapi laporan itu ditolak oleh Kantor Urusan Hongkong dan Makao. Carrie Lam juga tidak diizinkan untuk membuat konsesi apapun terhadap rakyat Hongkong. Kabarnya Xi Jinping mengetahui hal itu.

Awal bulan Juli 2019, ‘Hongkong 01’ mengutip ucapan sumber dari Beijing menyebutkan bahwa gelombang anti-Ruu ekstradisi yang menghantarkan Hongkong ke situasi krisis politik yang sedemikian parah itu telah membuah pemimpin tinggi di Beijing “tidak habis pikir”. Karena di awalnya, laporan yang yang diberikan Kantor Urusan Hongkong dan Makao, Kantor Urusan Hongkong dan lainnya berisikan tulisan-tulisan yang bernada optimis dan mudah dalam penyelesaiannya. Tetapi hasilnya sangat jauh berbeda.

 Sumber itu mengatakan, Xi Jinping sedang melakukan peninjauan besar terhadap seluruh sistem kerja di Hongkong, sekaligus untuk menyelidiki asal sumber informasi palsu tentang Hongkong. Usai mengikuti rapat umum anti-RUU ekstradisi di Hongkong pada 18 Agustus 2019 lalu, seorang dari generasi merah kedua yang namanya minta tidak disebutkan, kepada Epoch Times mengatakan, Xi Jinping dan pejabat senior hari itu menyaksikan rapat umum di Hongkong melalui siaran langsung di internet. 

Keesokan harinya, pada 19 Agustus 2019, Xi Jinping meminta pemerintah Hongkong untuk mengatasi insiden secara baik, sesuai kemampuan sendiri. Menurut Xi Jinping,  siapa yang memprovokasi masalah, pihak bersangkutan itu yang harus menyelesaikannya. Tidak membebankan pemerintah pusat.

Generasi merah kedua mengatakan, sejak perang dagang berkobar Xi Jinping menghadapi musuh di depan dan belakang, membuat ia kelabakan dalam menghadapi masalah Hongkong. Jadi secara tidak langsung memberi kesempatan kepada orang kedua dari fraksi Jiang Zemin, yakni Zeng Qinghong dan mantan direktur Kantor Urusan Hongkong dan Makao, Liao Hui dan lainnya membuat kekacauan guna menjebak Xi Jinping berbuat kesalahan lalu dilengserkan.

Generasi merah kedua mengatakan, pendukung politik dari Direktur Kantor Penghubung Hongkong Wang Zhimin adalah Jiang Zemin, Zeng Qinghong dan Liao Hui. Jadi mereka itu  diam-diam menjadi penentang politik Xi Jinping.

Para pengamat menemukan bahwa dalam konferensi pers keempat yang diadakan oleh Kantor Urusan Hongkong dan Makao, isi pidatonya makin lama makin keras. Baru-baru ini, mereka mengatakan bahwa para pengunjuk rasa sudah ‘hilang akal sehat seperti orang gila’, ‘bibit terorisme sudah muncul di Hongkong’ dan ‘revolusi warna’ berkobar dan lain-lain. dengan tujuan untuk mendorong pemerintah pusat melakukan intervensi militer ke Hongkong.

Pada saat yang sama, tindakan keras pemerintah Hongkong terhadap pengunjuk rasa terus bertambah, termasuk lebih gencar dalam menggunakan bom gas air mata di daerah perkotaan. Pemerintah Hongkong menangkap pengunjuk rasa yang terlibat kerusuhan, menyerang masyarakat tanpa perbedaan, menciptakan pertumpahan darah dan lainnya yang membangkitkan kemarahan warga Hongkong. Hongkong selama ini menjadi wilayah kekuasaan Zeng Qinghong, sehingga krisis Hongkong tak terhindar ditengarai memiliki pengaruh dari faktor gesekan di internal tubuh komunis Tiongkok. 

Menurut berbagai sumber, sistem pemerintahan Hongkong dan Kantor Urusan Hongkong dan Makao sebelumnya memberikan informasi tidak benar kepada otoritas Beijing dengan maksud menyeret Beijing ke dalam kesulitan.  Beberapa hari yang lalu, media asing 2 kali berturut-turut menerima informasi dari sumber asal internal tubuh komunis Tiongkok dan pemerintah Hongkong yang mengungkapkan bahwa Beijing sepenuhnya mendominasi situasi di Hongkong dengan maksud agar Xi Jinping yang dikutuk masyarakat internasional.

Tang Hao, editor senior urusan internasional menulis dalam artikelnya bahwa Faksi Jiang selain menciptakan kekacauan melalui antek-anteknya, mata-mata agar Xi Jinping “tersesat” lalu membuat keputusan yang salah. 

Pada saat yang sama, Jiang Zemin melalui anteknya seperti Wang Huning, Han Zhen dan orang-orangnya Zeng Qinghong yang masih memiliki pengaruh di Hongkong dan Makau, berniat untuk menyulut bentrokan berdarah agar Xi Jinping mengirim tentara untuk melakukan penindasan berdarah. Dengan demikian bisa memaksa Xi Jinping mundur.

Beberapa indikasi menunjukkan bahwa kekuatan anti-Xi Jinping yang dipimpin oleh faksi Jiang terus-menerus menggali lubang jebakan, menggunakan masalah internal dan eksternal yang sedang dihadapi komunis Tiongkok untuk menggiring Xi Jinping berjalan ke arah yang buntu.

Generasi merah kedua juga mengungkapkan bahwa Xi Jinping pribadi berharap dapat segera meredakan amarah rakyat Hongkong karena undang-undang ekstradisi. Kantor Penghubung Hongkong, Kantor Urusan Hongkong dan Makao serta Kepala Eksekutif Carrie Lam semua diminta untuk mempertanggungjawabkan krisis Hongkong itu. 

Diperkirakan ada sejumlah pejabat di Kantor Penghubung Hongkong, dan Kantor Urusan Hongkong dan Makao akan diganti sebelum 1 Oktober 2019 mendatang. Sebagian besar akan lengser dengan alasan “kondisi fisik”, tetapi pertama-tama, itu tergantung pada apakah gerakan di Hongkong bisa atau tidak diredakan. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular