Wei Jingsheng – Epochtimes.com

Wadah pemikir dan media massa AS telah membicarakan soal perang dingin kedua sudah sejak lama. Baru-baru ini mendadak mencuat lagi. Isunya menjadi topik utama, serta jumlahnya melonjak.  Sejumlah kalangan berpendapat, hal itu tak terhindarkan. Ada pula yang berpendapat kelihatannya tidak seperti itu. 

Mayoritas memperdebatkannya dan membandingkannya dengan model perang dingin melawan Uni Soviet sebelumnya.  Menurut penulis, menyebutkan nampaknya agak dipaksakan. Apalagi, tidak menemukan poin utamanya.

Sejumlah akademisi telah mengenali perbedaannya dengan perang dingin pertama dengan Uni Soviet dulunya.  Sehingga kemudian menyimpulkannya bukan perang dingin.  Apakah tidak terpikir oleh mereka bahwa perang dingin juga bisa terjadi dalam wujud yang berbeda? Dalam kondisi yang berbeda menempuh strategi berbeda pula, berkat hikmah dari pendahulunya para penerus itu menyesuaikan kembali taktik dan strateginya, itu sangat lumrah bukan?

Apa pelajaran dari kegagalan Uni Soviet pada perang dingin terdahulu? Selain tekanan politik mengakibatkan rasa tidak puas terjadi dimana-mana, yaitu melambatnya pertumbuhan ekonomi, sulit memenuhi kebutuhan rakyat akan materi serta kebutuhan pokok yang terus meningkat.  

Yang mana, pada akhirnya mengakibatkan bangkitnya perlawanan rakyat dan pemberontakan internal partai. Akhirnya, partai komunis Uni Sovyet pun kehilangan kekuasaan dan sistem kediktatoran satu partai.

 Kelompok partai komunis generasi kedua Tiongkok yang diwakili oleh Deng Xiaoping kala itu, setelah mendapat pelajaran, lalu menerapkan strategi.  Yakni, pertumbuhan ekonomi harus diprioritaskan di atas segalanya sebagai prinsip mutlak. 

Tahap pertama, mengembangkan ekonomi negeri sendiri adalah prinsip mutlak. Tahap kedua, melampaui ekonomi musuh adalah prinsip mutlak. Sedangkan, pada tahap kedua ini termasuk merusak ekonomi musuh dan memecah belah internal musuh.

Maka Jiang Zemin dan Zhu Rongji memiliki andil besar bagi Komunis Tiongkok yakni, dengan memanfaatkan kebocoran/kelengahan dalam organisasi perdagangan dunia WTO.  Selain dapat, mengembangkan perekonomian Tiongkok dengan cepat, juga telah merusak perkembangan ekonomi Amerika dan negara Barat lainnya. 

Langkah demikian, membuat musuh menjadi lemah, adalah cara efektif pada perang dingin sejak dulu. Sejak zaman Dinasti Han, lebih dari dua ribu tahun silam, telah menerapkan berbagai kebijakan seperti melarang ekspor logam seperti besi dan tembaga. Termasuk,  perdagangan barter teh dari produk Tiongkok dengan kuda dan lain-lain. Tujuannya, untuk melemahkan dan memecah belah serta menjatuhkan suku nomaden di wilayah utara.

Apakah kebijakan ketua Komunis Tiongkok, Jiang Zemin dan Perdana Menteri Zhu Rongji kala itu? Yaitu memanfaatkan sifat dasar kaum kapitalis Barat, yang demi mendapat keuntungan siapa pun bisa dikorbankan. 

Dengan upah buruh rendah sebagai akibat HAM yang buruk sebagai umpan, mendorong mereka memindahkan perusahaan dan investasinya ke Tiongkok. Seperti yang diprediksi oleh Deng Xiaoping: Buatlah mereka supaya menginvestasikan uangnya kesini, maka mereka pun akan tunduk kepada kita.

Maka sejak lebih dua puluh tahun lalu, antara partai komunis dengan kalangan kapitalis seluruh dunia telah terjalin aliansi baru. Yang didengungkan oleh para akademisi, bahwa kaum kapitalis sejak lahir mencintai demokrasi, telah menjadi lelucon terbesar masa kini. 

Kekuatan utama yang melakukan lobi bagi partai komunis dan membantu partai komunis mendesak para politisi AS,  agar condong ke pihak Komunis Tiongkok, Kini tidak lagi dari pihak Kedubes Tiongkok. Melainkan para pelobi dari perusahaan bisnis besar dan para politisi Amerika, termasuk Presiden AS.

Kelemahan pada sistem demokrasi AS, dengan canggih telah dimanfaatkan oleh Komunis Tiongkok. Pengaruh berlebihan dari uang di tengah perpolitikan, adalah penyebab utama kekalahan demokrasi di dalam kancah perang dingin ini. 

Akibat serangan strategi sukses Komunis Tiongkok, banyak politisi yang berhati nurani dan memiliki prinsip, ada yang menyembunyikan hati nuraninya sendiri. Ada pula yang telah kehilangan kualifikasi karir politiknya.  Misi demokrasi dan HAM Tiongkok pun, tidak lagi menjadi perhatian masyarakat internasional, dan memasuki masa surut yang terabaikan. 

Sementara itu, penindasan dan eksploitasi oleh Komunis Tiongkok, justru telah mengalami masa klimaks. Termasuk secara perlahan menggerogoti demokrasi Barat, yang menyebabkan demokrasi di seluruh dunia pun memasuki masa kemundurannya. Yang dimaksud dengan model Tiongkok, juga merupakan model ekonomi pasar di bawah pemerintahan politik otoriter. Kini telah menjadi contoh yang dikagumi banyak negara ketiga di dunia. Juga dianggap sebagai suatu model perkembangan yang dipuji oleh banyak akademisi Barat. 

Demokrasi bebas lebih baik atau diktator otoriter, telah menjadi suatu topik yang dibahas mendetil oleh para akademisi yang tak berhati nurani. Ini menandakan budaya pemikiran seluruh umat manusia telah mengalami kemerosotan.

 Setelah para akademisi membahasnya dari hulu ke hilir, mereka pun melupakan prakondisi sebelum mereka membicarakannya. Apakah yang disebut perang dingin? Apakah hanya perang dingin antara AS dengan Uni Soviet yang bisa disebut perang dingin? 

Definisi perang dingin yang dengan sengaja diabaikan oleh para intelektual yang tak berhati nurani. Sebenarnya sangat sederhana dan lugas: Mengalahkan musuh tanpa melakukan tindakan berperang, itu yang disebut perang dingin.  Dalam sistem kosa kata modern, perang dingin adalah suatu konsepsi yang berlawanan dengan perang panas yakni menggunakan senjata modern.

Komunis Tiongkok  dan para politisi yang dibeli oleh kaum kapitalis, tanpa melancarkan peperangan dan tanpa menggunakan cara-cara dalam perang panas seperti meriam dan kapal perang dan lain-lain, sudah akan dapat memenangkan perang melawan musuh mereka. Inilah yang disebut perang dingin jilid dua. 

Akibat disesatkan oleh para akademisi yang tak berhati nurani, orang Amerika mengira partai komunis bukanlah musuh mereka. Sedangkan  setiap hari dipropagandakan oleh partai komunis kepada anggota partai dan rakyatnya adalah: Paham imperialisme dan demokrasi bebas Amerika adalah musuh mereka.  Yang paling mengerikan bukanlah Anda memiliki seorang musuh yang kuat, melainkan tidak mengetahui siapa musuh Anda itu. (SUD/WHS)

Share

Video Popular