Richard Szabo – The Epochtimes

Pemerintah Australia sedang membentuk satuan tugas khusus untuk melindungi kebebasan berekspresi di perguruan tinggi seluruh negeri kangguru itu. Pembentukan itu di tengah kekhawatiran pengaruh asing, khususnya dari Komunis Tiongkok.

Satgas Gangguan Luar Negeri Universitas itu, akan mempertemukan perwakilan dari berbagai universitas, organisasi keamanan nasional, dan Departemen Pendidikan Australia. Hal demikian disampaikan oleh Menteri Pendidikan Federal Australia, Dan Tehan dalam sebuah pidato di National Press Club di Canberra, pada 28 Agustus lalu.

Inisiatif baru itu akan melindungi kebebasan berbicara dan kebebasan akademik untuk semua mahasiswa dan staf di universitas Australia. 

Dan Tehan  menegaskan, Universitas berada pada posisi terkuat dan paling relevan.  Ketika mereka menyediakan platform untuk beragam pandangan. Serta memberikan kebebasan dari ancaman berbahaya  groupthink atau pemikiran kelompok. Ia mengatakan, Apa nilai kebebasan berbicara jika orang terlalu takut untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan? Perasaan bahwa beberapa mahasiswa dan staf di universitas melakukan swasensor — karena takut mereka akan diteriaki atau dikecam.  

Dikarenakan, mereka mengekspresikan pandangan dan kepercayaan yang dipegang dengan tulus. Bahkan, ketika mereka menantang gagasan yang diterima secara luas. Karena itu, harus menjadi perhatian bagi semuanya.

Menurut Tehan, ujian komitmen pihak Australia terhadap kebebasan berbicara, adalah apakah mereka bersedia menoleransi ucapan orang lain, terutama mereka yang paling tidak mereka setujui. Mereka harus memupuk kemampuan untuk mendengarkan sudut pandang orang lain. Sehingga harus mendorong dalam lingkungan di mana perselisihan tidak melibatkan serangan verbal atau ancaman. 

Satgas yang dibentuk itu, akan mengembangkan “pedoman praktik terbaik” untuk menangani campur tangan asing, hingga tenggat waktu November.  Tim juga akan memperbarui pertanyaan-pertanyaan survei Indikator Kualitas untuk Pembelajaran dan Pengajaran nasional Australia. 

Tujuannya, untuk mencari umpan balik mahasiswa, apakah mereka merasa didorong untuk menyuarakan “pendapat non-konformis.” Selain itu, bertujuan memiliki kebebasan berekspresi di kampus.

Menteri Pendidikan Australia itu mengatakan, dirinya percaya bahwa universitas ingin mengetahui apakah mahasiswa dan staf, takut membahas topik tertentu. Politikus  Partai Liberal Australia itu  mengatakan, hanya melalui keragaman pemikiran, perspektif, dan gaya intelektual, orang-orang mendapatkan inovasi dan pemecahan masalah. Ia mengatakan, seperti itulah jenis pemikiran yang didorong oleh pihak kampus. Ia juga meminta sektor pendidikan mampu menemukan pandangan staf mereka, mengenai masalah tersebut. 

Kekhawatiran tentang Pengaruh Komunis Tiongkok

Pengumuman Satgas Khusus oleh Menteri Pendidikan Australia, muncul pada hari yang sama ketika profesor etika Universitas Charles Sturt, Clive Hamilton, menyatakan keprihatinan bahwa universitas-universitas Australia gagal menetapkan batasan-batasan untuk pengaruh asing.

Hamilton pada presentasi publik yang diadakan di Universitas Queensland (UQ) di Brisbane pada 28 Agustus mengatakan, mereka belum melihat sebuah universitas Australia menarik garis  dan memperjelas, bahwa bersedia menanggung rasa sakit dalam membela kebebasan politik dan kebebasan berbicara di kampus. Menurut dia, Sebuah prinsip tidak ada artinya kecuali  mau berkorban serta melakukan pengorbanan untuk membela kebebasan politik negara itu. Sedangkan, universitas-universitas Australia akan berada di bawah bayang-bayang Beijing yang semakin gelap. 

Profesor Etika Universitas Charles Sturt Clive Hamilton (kanan) berbicara di Universitas Queensland di Brisbane, Australia, pada 28 Agustus 2019. (Richard Szabo / Epoch Times)

Hamilton menyarankan, agar universitas tidak bertindak lebih cepat, karena mereka mengandalkan pendapatan dari Tiongkok. Bahkan, dipengaruhi oleh kelompok Front Persatuan Beijing yang ada sebagian besar untuk melindungi citra komunis Tiongkok di luar negeri.

Hamilton memaparkan, korporasi sektor tersier dan ketergantungan luar biasa dari banyak universitas kepada pendapatan dari Tiongkok, ditambah dengan kampanye pengaruh yang berkelanjutan dan sangat efektif,  diarahkan kepada eksekutif universitas senior oleh berbagai badan Front Persatuan. 

Hal demikian, berarti bahwa banyak wakil kanselir dan eksekutif senior lainnya, memiliki kehilangan arti sebenarnya dari kebebasan akademik. Hamilton mengatakan, Wakil Kanselir  University of Queensland  Peter Hoj mendukung penunjukan Konsul Jenderal Tiongkok di Brisbane,  Xu Jie sebagai asisten profesor bahasa dan budaya di universitas tersebut pada 15 Juli lalu. Penunjukan itu, untuk masa jabatan dua setengah  tahun tanpa bayaran.

Dia mengatakan,  situs web konsulat Tiongkok telah mengunggah sebuah cerita, yang sejak itu telah dihapus.  Profesor Hamilton menyatakan, bahwa jabatan profesor tambahan University of Queensland  diberikan kepada “sangat sedikit sarjana yang memainkan peran unik dan memberikan kontribusi signifikan. Hingga saat ini hanya diberikan kepada segelintir orang.”

Menurut Hamilton, Sambil mempertahankan keputusan untuk menunjuk konsul jenderal, profesor Hoj meyakinkan orang-orang dengan mengatakan, bahwa profesor Xu tidak akan melakukan pengajaran apa pun. 

Hamilton mencatat, bahwa University of Queensland sebelumnya menunjuk Konsul Jenderal Zhao Yongchen pada saat itu, sebagai asisten profesor di bidang bahasa dan sastra pada tahun 2014.  Zhao pernah memberikan ceramah di universitas pada tahun 2015 tentang “kerja sama Tiongkok-Australia.”

Hamilton juga menunjukkan, bahwa Wakil Kanselir  University of Queensland  baru-baru ini, didukung oleh Hanban, otoritas yang didukung Beijing yang mengawasi Institut Konfusius yang kontroversial.  Yang mana, didirikan oleh universitas-universitas di seluruh dunia.

Catatan lainnya, Pada 2015, berita University of Queensland mengumumkan, bahwa profesor Hoj telah dihormati oleh Hanban sebagai individu terbaik tahun ini. 

Penghargaan bergengsi itu, seperti yang disebut oleh University of Queensland, sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap jaringan global Confucius Institute. Terakhir, Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu Yandong, langsung menyerahkan sendiri penghargaan itu. 

Hamilton mengutip contoh baru-baru ini, menggambarkan kekhawatiran tentang campur tangan asing, ketika mahasiswa  mendirikan dinding mosaik di kampus University of Queensland.  Tujuannya, untuk menunjukkan dukungan terhadap protes anti-ekstradisi di Hong Kong. Akan tetapi, apa yang dilakukan sejumlah mahasiswa itu telah dirusak oleh simpatisan pro-Beijing yang diklaim melindungi konsulat Tiongkok.

Hamilton menjelaskan, Seorang penjaga keamanan universitas harus menghadapi beberapa orang yang merobohkan Tembok Lennon.  Kemudian, mereka menolak untuk menunjukkan kartu mahasiswa. 

Kemudian, Ketika penjaga menunjukkan bahwa jika mereka  melakukannya, maka petugas keamanan akan memanggil polisi. Namun demikian, pemimpin ketiga pemuda itu  menjawab, ia tidak peduli jika hanya memanggil polisi, dikarenakan dirinya akan memanggil duta besar. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular