oleh Li Linyi

Pejabat tinggi Komunis Tiongkok, Zeng Qinghong, yang menjadi kepala tim kerja Urusan Hong Kong dan Makau pada tahun 2003, telah menerapkan strategi “boneka elit” untuk mengendalikan Hong Kong melalui elit lokal.

Selain itu, “keluarga merah” komunis Tiongkok dan aset mereka, terus mengalir deras ke Hong Kong. Itu setelah Zeng mengambil alih kekuasaan. Dampaknya, menyebabkan meroketnya harga properti selama 16 tahun terakhir. Tanda-tanda terbaru menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok dapat meninggalkan strategi “boneka elit.” Kemudian mengadopsi strategi baru. Tujuannya masih sama untuk memerintah Hong Kong.

Kebijakan ‘Boneka Elit’: Keputusan yang Dibuat Sebelum Serah Terima Hong Kong

Bahkan sebelum penyerahan kedaulatan Hong Kong dari Inggris ke Tiongkok, Beijing memutuskan bahwa Hong Kong harus diperintah oleh kebijakan “boneka elit”. Para pemimpin Komunis Tiongkok mengira dengan memenaklukkan elit-elit kaya dan sosial Hong Kong, maka Beijing dapat mengendalikan urusan politik, ekonomi, dan sosial Hong Kong.

Politikus Komunis Tiongkok, Xu Jiatun menjabat sebagai Direktur Cabang Hong Kong dari Kantor Berita Xinhua pada tahun 1983. Dalam pertemuan Komite Kerja Hong Kong dan Makau pada akhir 1983 di Shenzhen, Xu mengusulkan enam poin kunci untuk manajemen Hong Kong dan Makau. Salah satunya adalah “berusaha keras untuk memenangkan hati masyarakat lokal.” Tetapi pada kenyataannya, fokus Xu adalah untuk memenangkan hati para elit sosial Hong Kong. Pada saat Hong Kong dikembalikan ke Komunis Tiongkok pada tahun 1997, elit lokal telah menjadi boneka di tangan pemerintahan pusat Komunis Tiongkok.

Zeng Qinghong Menegakkan Kebijakan ‘Boneka Elit’

Zeng Qinghong, seorang pejabat tinggi yang tergabung dalam fraksi mantan pemimpin Jiang Zemin, menjabat sebagai kepala tim kerja pertama Urusan Hong Kong dan Makau pada tahun 2003. Posisinya sangat penting. Ia memegang kekuatan yang sangat besar untuk memerintah Hong Kong dan Makau .

Pada saat itu, Zeng adalah anggota peringkat kelima tertinggi di Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok, badan pembuat keputusan teratas Tiongkok.

Zeng menerapkan kebijakan “boneka elit” Komunis Tiongkok secara ekstrem. Terus terang saja, “boneka elit” adalah agen politik rezim Komunis Tiongkok di Hong Kong. Hubungan mereka dengan Beijing sama dengan seorang hamba yang melayani tuannya, dipertahankan dan distabilkan demi keuntungan bersama.

Komunis Tiongkok menginginkan kekuatan politik. Sejumlah elit menginginkan kepentingan politik dan ekonomi di Hong Kong. Ketika kedua kelompok ini berkolusi, kepentingan rakyat jelata sepenuhnya disingkirkan jauh-jauh. Itulah akar penyebab kekacauan saat ini di Hong Kong. Sebagai contoh adalah harga rumah Hong Kong, yang meroket setelah Zeng mengambil alih pekerjaan mengelola Hong Kong dan Makau. Selama masa jabatannya, pasokan tanah di Hong Kong anjlok dan proyek reklamasi terhenti.

 Statistik menunjukkan bahwa dari 2005 hingga 2012, transaksi tanah residensial Hong Kong sedikitnya delapan bidang tanah per tahun; dari 2005 hingga 2013. Rata-rata jumlah rumah hunian baru yang diselesaikan hanya 12.000 unit per tahun. Permintaan tanah dan perumahan jauh melebihi pasokan.

Selain itu, Kepala Eksekutif Hong Kong saat itu Donald Tsang Yam-kuen, yang dipilih oleh Zeng Qinghong, tidak menjual apartemen Skema Kepemilikan Rumah baru, mirip dengan perumahan yang terjangkau di Amerika Serikat, selama masa jabatannya.

Harga properti Hong Kong melonjak dari dua kali lipat, bahkan melampaui puncaknya pada tahun 1997. Pada tahun 2019, rasio harga rumah terhadap pendapatan Hong Kong adalah 49:42, salah satu yang tertinggi di dunia.

Tiongkok bergabung dengan WTO pada Tahun 2002, ketika Jiang Zemin dan Zeng Qinghong berkuasa. Komunis Tiongkok kemudian perlu untuk menarik dana dan bakat Hong Kong ke daratan Tiongkok. Karena itu, banyak elit Hong Kong pergi ke Tiongkok dan menyuntikkan uang mereka kepada perekonomian Tiongkok.

Beberapa dari mereka diberi gelar resmi di Kongres Rakyat dan Konferensi Permusyawaratan Politik Komunis Tiongkok. Bahkan diberi posisi penting di Dewan Legislatif Hong Kong dan pemerintah Hong Kong. Hingga, hak istimewa untuk memonopoli berbagai industri di Hong Kong.

 Akumulasi Kekayaan Besar Keluarga Merah Komunis Tiongkok di Hong Kong

Dengan perkembangan ekonomi Tiongkok dan filosofi Jiang Zemin di bawah kepemimpinannya saat itu yakni “membuat kekayaan besar sambil tetap tenang,” membuat banyak pejabat tinggi dan keluarga mereka, bermigrasi ke Hong Kong satu demi satu.

Beberapa pengembang real estate yang berbasis di Tiongkok juga pergi ke Hong Kong untuk berbisnis. Pada saat yang sama, sejumlah besar “modal merah” mengalir deras ke Hong Kong. Salah satu alasannya adalah untuk memfasilitasi transfer “keluarga merah” berpengaruh atas kekayaan mereka ke tempat yang lebih aman.

Jika Komunis Tiongkok runtuh atau mengalami krisis, mereka akan dapat segera melarikan diri ke Hong Kong dan melanjutkan gaya hidup makmur mereka dengan menyembunyikan identitas mereka. Kelompok orang-orang ini dan dana yang mereka bawa, berdampak langsung terhadap ekonomi Hong Kong.

Menurut informasi dari sumber tidak resmi, ada lebih dari 13.000 pejabat dan “pangeran” Komunis Tiongkok – anak dan cucu pejabat Komunis Tiongkok – yang telah menetap di Hong Kong, dan lebih dari 2.500 orang telah menetap di Makau. Sebagian besar dari mereka bergerak di bidang keuangan dan real estate. Mereka bekolusi dengan elit lokal. Kedua kelompok itu menghasilkan banyak keuntungan di Hong Kong.

Sekitar 70 persen dari “keluarga merah” ini tinggal di daerah Tingkat Menengah yang makmur di Pulau Hong Kong. Di semua sektor Hong Kong, “keluarga merah” berakar mendalam, hubungan pribadi dan bisnis mereka saling terkait erat.

Yang paling dikenal secara luas adalah Jiang Zhicheng juga dikenal sebagai Alvin Jiang. Ia adalah cucu Jiang Zemin, dan anggota dewan Investasi Hong Kong Boyu. “Pangeran” lain memegang posisi seperti eksekutif puncak di JP Morgan, Manajer Senior di Departemen Investasi dan Keuangan Hong Kong Deutsche Bank, dan salah satu pendiri Magnolia Capital Management.

Permira Advisers LLP, sebuah perusahaan Inggris, mempekerjakan cucu perempuan dari penatua Komunis Tiongkok, Chen Yun dan menawarinya posisi di cabang Hong Kong mereka.

Selain “pangeran-pangeran”, beberapa simpanan pejabat tinggi Komunis Tiongkok juga telah mengambil posisi berpengaruh dalam industri keuangan Hong Kong. Misalnya, Song Lin adalah Ketua dari China Resources Holdings Co., Ltd. Selirnya, Yang Lijuan, bekerja untuk Credit Suisse Hong Kong dan UBS Group AG. Ketika Yang bekerja di Credit Suisse, sejumlah transaksi perbankan investasi China Resources ditangani oleh Credit Suisse.

Dua tahun setelah Yang bergabung dengan UBS, UBS terpilih sebagai salah satu pialang buku bersama untuk dua penawaran obligasi besar China Resources. Dua transaksi obligasi China Resources dan dua akuisisi, menambah skala kerja sama bisnis antara UBS dan China Resources hingga 7,7 miliar dolar AS.

Sementara itu “keluarga merah” ini menghasilkan banyak uang di Hong Kong, rakyat jelata Hong Kong merasa bahwa mereka tidak memiliki masa depan. Lulusan perguruan tinggi baru memperoleh rata-rata 12.000 dolar Hong Kong, yang tidak jauh lebih tinggi daripada sebelum 1997 silam. Akan tetapi, harga komoditas sekarang beberapa kali lipat dari harga tahun 1997 silam. Mayoritas warga Hong Kong tinggal di flat kecil dan sempit.

 Komunis Tiongkok Mengkambanghitamkan Taipan Lokal Soal Melonjaknya Harga Properti

Komite Urusan Politik dan Legislatif Komunis Tiongkok menerbitkan komentar pada akun media sosialnya pada 12 September. Isinya mengkritik Li Ka-shing, seorang miliarder dan taipan bisnis Hong Kong. Karena ia menguasai tanah yang luas.

Artikel itu menghubungkan harga rumah yang melambung dengan  tanah Li Ka-Shing. Namun demikian, publikasi riset pasar real estate di Hong Kong mendaftarkan, lebih dari 10 akuisisi tanah baru-baru ini yang melibatkan dana dari Tiongkok.

 Untuk lahan pertanian di Wilayah Baru, dengan total luas lahan lebih dari 5 juta kaki persegi. Angka itu menunjukkan bahwa pembeli tanah paling aktif dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya  korporat dari daratan Tiongkok. Sebaliknya, perusahaan real estate Li Ka-shing, CK Asset Holdings, telah menjual tanah untuk melikuidasi aset perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Komentar Komite Urusan Politik dan Legislatif Komunis Tiongkok , berdasarkan tuduhan salahnya pada Li Ka-shing, meminta pemerintah Hong Kong untuk “mengambil tindakan segera untuk merebut kembali tanah dan memulai pengembangan rumah baru.”

Selain Komite Urusan Politik dan Legislatif Komunis Tiongkok , media corong Komunis Tiongkok Xinhua News Agency dan People’s Daily membuat komentar serupa. Ada juga artikel tentang berbagai platform media sosial Komunis Tiongkok yang menyerang pengembang real estate Hong Kong. Lagi-lagi menyalahkan kesenjangan besar antara si kaya dan si miskin. Tak satu pun dari artikel itu pernah menyebutkan akibat pengaruh “keluarga merah” di Hong Kong. Padahal sebagai penyebab sebenarnya dari akar masalah ekonomi dan konflik sosial.

Komentar Komite Urusan Politik dan Legislatif Komunis Tiongkok dan artikel-artikel dari media pemerintah Komunis Tiongkok, tampaknya menyarankan agar Beijing  mengevaluasi kembali kebijakannya. Bahkan, merevisi strategi “boneka elit” dalam memerintah Hong Kong. Dengan kata lain, Komunis Tiongkok mungkin tak lagi memberikan dukungan kepada elit bisnis Hong Kong.

 Komunis Tiongkok Ingin Mengendalikan Hong Kong secara Langsung

 Pada artikel 12 September,  Reuters mengungkapkan, bahwa hampir 100 eksekutif dari badan usaha milik negara Komunis Tiongkok,  menghadiri pertemuan di Shenzhen pada awal September. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi BUMN. 

 Laporan itu berbunyi : “Daripada hanya memegang saham di perusahaan-perusahaan Hong Kong,  BUMN Tiongkok juga didesak untuk mencari mengendalikan perusahaan dan memiliki kekuatan pengambilan keputusan di dalamnya.”

 Artikel itu mengutip seorang eksekutif yang menghadiri pertemuan itu dengan mengatakan, “Para elit bisnis di Hong Kong tentu saja tidak cukup. Kebanyakan dari mereka bukan salah satu dari kita. ”

 Sehari setelah artikel Reuters diterbitkan, Apple Daily yang berbasis di Hong Kong melaporkan bahwa sejumlah eksekutif tingkat tinggi BUMN Tiongkok, terlihat bertandang ke gedung kantor Carrie Lam pada 13 September. Mereka-mereka itu, termasuk Fu Yuning, Chairman China Resources Group; Meng Zhenping, Chairman China Southern Power Grid; Chairman China Southern Airlines Group dan  Ke Ruiwen, Chairman China Telecom Group.

Berdasarkan peristiwa-peristiwa itu, otoritas pusat berencana untuk mengadopsi serangkaian langkah-langkah. Tujuannya, agar secara bertahap menggantikan taktik “boneka elit.” Sehingga Komunis Tiongkok menerapkan secara langsung kendali terhadap segala sesuatu di Hong Kong. Mereka percaya bahwa dengan melakukannya, maka dapat memadamkan semua suara oposisi Hong Kong.

Jika Menteri Keamanan Publik Komunis Tiongkok, Zhao Kezhi, benar-benar menjadi wakil kepala tim kerja Urusan Hong Kong dan Makau seperti yang dikabarkan, komunis Tiongkok pada dasarnya bertujuan untuk memerintah Hong Kong secara langsung.

Tak pelak lagi, bahwa polisi Hong Kong secara bertahap akan menjadi aparatur negara dari pemerintah pusat, dan organisasi seperti mafia. Serupa seperti polisi di daratan Tiongkok.

 Hong Kong tidak akan lagi sama. Sangat disayangkan,  sampai hari ini pihak Komunis Tiongkok belum menyadarinya bahwa protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung,  menyampaikan pesan kepada mereka. Bahwa warga Hongkong bertekad untuk mengatakan “Tidak” kepada Komunis Tiongkok. (asr)

Artikel ini terbit di The Epochtimes

Share

Video Popular