Erabaru.net. Pada Tanggal 24 September 2019 menjadi hari bersejarah. Ketika kejahatan pengambilan organ secara paksa yang dilakukan rezim komunis Tiongkok dilaporkan ke Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Human Rights Council -UNHRC- di Jenewa, Swiss. 

Melansir dari  healtheuropa.eu, pengambilan organ secara paksa adalah bentuk perdagangan organ.  Di mana orang-orang dibunuh secara khusus untuk diambil organ mereka. Penerima transplantasi tersebut di Tiongkok termasuk warga negara Tiongkok serta sejumlah besar ‘turis transplantasi’ internasional. Mereka-mereka ini melakukan perjalanan ke Tiongkok, demi menerima organ dengan biaya yang besar. Akan tetapi hanya membutuhkan waktu tunggu yang tak lama.

Healtheuropa.eu melaporkan, penerima organ dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, Eropa dan Asia. Mereka umumnya dianggap tidak menyadari bahwa sumber transplantasi mereka adalah melalui pembunuhan ‘donor’ yang tak bersalah. 

Donor secara paksa itu, mereka ditahan di pusat-pusat penahanan dan penjara hitam. Yang mana organ mereka dicocokkan dan diekstraksi sesuai orderan .

Momen Bersejarah

Momen bersejarah ketika Hamid Sabi, Penasihat Pengadilan Tiongkok, menyatakan bahwa sekarang adalah “kewajiban hukum” dari negara-negara anggota PBB untuk menangani pengambilan organ secara paksa di Tiongkok. 

Pidato itu disampaikan setelah Pengadilan Tiongkok, sebuah pengadilan independen yang diketuai oleh Sir Geoffrey Nice, mengumumkan pada Juni 2019.  Ia mengatakan bahwa kejahatan pengambilan organ Tiongkok yang “jahat” sama dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ketika itu, ia menyimpulkan tanpa keraguan bahwa, di Tiongkok pengambilan organ paksa dari tahanan nurani telah dipraktekkan selama periode yang substansial  dengan melibatkan sejumlah besar korban. “Sir Geoffrey Nice sebelumnya memimpin penuntutan terhadap mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic di Pengadilan Kejahatan Internasional. 

Mr Sabi saat di Dewan HAM PBB memaparkan tentang temuan pengadilan yang memberatkan, bahwa korban yang tidak bersalah, terutama praktisi Falun Gong telah dibunuh untuk diambil organnya. 

Pengacara berbasis di London itu mengatakan, bahwa dengan memberikan bukti, dewan dan negara-negara anggota PBB sekarang memiliki “kewajiban hukum” untuk menangani “perilaku kriminal” Tiongkok.

Sabi menjelaskan : “Pengambilan organ secara paksa dari tahanan hati nurani, termasuk minoritas agama Falun Gong dan Uighur, telah dilakukan selama bertahun-tahun di seluruh Tiongkok dalam skala yang signifikan, dan itu berlanjut hingga hari ini. Melibatkan ratusan ribu korban, ” Pidato tersebut adalah seruan terbaru dan tertinggi dalam kancah  internasional terhadap pengambilan organ secara paksa yang didukung oleh Komunis Tiongkok.

Tekanan global terus meningkat kepada Komunis Tiongkok. Seruan itu untuk menghentikan pembunuhan orang tak bersalah demi organ mereka.  Industri skandal mengerikan itu, diperkirakan menghasilkan uang dalam jumlah besar. 

Sir Geoffrey Nice QC, Ketua Pengadilan Tiongkok, juga menyatakan terpisah dari acara PBB bahwa pemerintah, badan PBB dan badan yang berkuasa dari asosiasi medis yang berurusan dengan operasi transplantasi, tak dapat lagi menghindari ketidaknyamanan untuk mereka akui. Kejahatan yang diungkapkan dalam putusan Pengadilan Tiongkok, membutuhkan tindakan segera.

Ia mengatakan, PBB dan Masyarakat Transplantasi Internasional harus menghadapi apa yang diungkapkan dalam keputusan dan tindakan Pengadilan Tiongkok. Waktu tepat ‘ketidakpastian’ ketika semua entitas tersebut, bisa mengatakan bahwa kasus terhadap Tiongkok tak terbukti, maka semuanya akan berlalu.  

Susie Hughes, Direktur Eksekutif The International Coalition to End Transplant Abuse in China -ETAC- sebuah koalisi internasional yang memprakarsai Pengadilan Tiongkok,  mengumumkan bahwa dalam surat bersama baru-baru ini, menyerukan penyelidikan dari PBB untuk pengambilan organ secara paksa di Tiongkok. 

Pengadilan Tribunal Tiongkok, telah mendorong protes internasional untuk mengakhiri perdagangan terkutuk tersebut. Selain itu menyatakan bahwa “kebutaan yang disengaja” terhadap kasus itu, tak lagi menjadi pilihan.

Dalam pernyataan resmi pertama dari partai politik utama di Amerika Serikat tentang kejahatan organ tubuh, Komite Nasional Republik Amerika Serikat (RNC) dengan suara bulat, mengeluarkan resolusi yang mengutuk “pengambilan organ secara paksa oleh Komunis Tiongkok. Dinyatakan,  sebagai pelanggaran hak asasi manusia utama” pada bulan Agustus lalu. 

Di Inggris, House of Lords atau Parlemen Britania Raya mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencermati temuan Pengadilan Tiongkok. 

WHO, sebelumnya menyampaikan kepada Kantor Persemakmuran Luar Negeri Inggris bahwa praktik transplantasi Tiongkok adalah etis. Akhirnya  mengakui, bahwa informasi yang menjadi dasar sebagai saran mereka sebenarnya “berdasarkan penilaian diri yang dilakukan oleh negara yang merupakan penandatangan yakni Tiongkok. Di Inggris, Rancangan Undang-Undang untuk menghentikan pariwisata organ yang tidak etis, akan diajukan pada bulan Oktober mendatang. 

Sedangkan di Kanada, Rancangan Undang-Undang terkait penyelundupan organ baru-baru ini menerima dukungan dengan suara bulat baik dari House of Commons dan Senat Kanada.

Sebuah surat bersama kepada Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Sekretaris Jenderal PBB dan Negara-negara Anggota PBB, yang ditandatangani oleh 18 organisasi internasional menyerukan kepada Komisi Penyelidikan PBB untuk pengambilan organ secara paksa di Tiongkok. Dewan Hak Asasi Manusia PBB, kini sudah mendengarkan laporan tentang putusan pengadilan yang memberatkan  masalah pengambilan organ secara paksa di Tiongkok. 

Badan antar pemerintah terdiri dari 47 negara yang bertanggung jawab atas pemajuan dan perlindungan semua hak asasi manusia di seluruh dunia. UNHRC memiliki kekuatan untuk membentuk Komisi Penyelidikan formal tentang Pengambilan Organ Paksa dari Tahanan Hati Nurani di Tiongkok. Langkah itu bertujuan untuk mengekspos para pelaku dan menyeret mereka ke pengadilan.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual  dengan latihan meditasi dan ajaran moral berdasarkan pada prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan tersebut menjadi sangat populer di Tiongkok pada akhir 1990-an, dengan perkiraan resmi sebanyak 70 hingga 100 juta pengikut di Tiongkok. 

Popularitas latihan Falun Gong mengundang kemarahan pemimpin  Komunis Tiongkok saat itu Jiang Zemin. Ia percaya bahwa ajaran moral Falun Gong adalah ancaman bagi kekuasaan Komunis Tiongkok.  Jiang memobilisasi sistem keamanan, penuntutan, dan sistem peradilan negara untuk menganiaya kelompok yang dimulai pada Juli 1999.

Sejak itu, jutaan penganut telah mengalami penyiksaan, penahanan, pencucian otak, dan kerja paksa. Mereka juga merupakan sumber utama organ untuk industri transplantasi rejim Tiongkok yang luas. Bahkan, menjadi sasaran penyebaran ujaran kebencian, kampanye hitam, berbagai tuduhan serta fitnah yang bermaksud menjelek-jelekkan Falun Gong. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular