Eva Pu – The Epochtimes

Komunis Tiongkok telah meningkatkan penindasan terhadap oposisi. Tindakan keras dilakukan menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-70 pemerintahan komunis Tiongkok pada 1 Oktober. Hanya dalam persiapan untuk perayaan, termasuk parade militer berkekuatan 15.000 orang di Beijing, rezim komunis Tiongkok telah menempatkan memblokade kota secara efektif. Bahkan, memperketat kontrol atas kegiatan warga di berbagai wilayah di seluruh negeri.

Bagi pengacara hak asasi manusia, pembuat petisi, dan aktivis terkemuka, perayaan ulang tahun itu berarti meningkatnya ancaman penindasan, tahanan rumah, dan penahanan terhadap mereka. Belasan oposisi, salah satunya berusia berusia 70-an, menjadi sasaran para penguasa selama sepekan terakhir. Laporan itu menurut daftar 27 September oleh kelompok hak asasi manusia Civil Rights & Livelihood Watch.

Di bawah Pengawasan

Pengaju petisi Qu Hua yang berbasis di Jiangsu  kepada NTD mengatakan, seluruh keluarganya berada di bawah pengawasan. Mereka juga tidak dapat meninggalkan rumah walaupun hanya satu langkah.  Sebenarnya Qu, baru saja menjalani tujuh hari penahanan. Hanya gara-gara mengajukan banding atas penghancuran paksa rumahnya. Ia mengatakan, dirinya kadang-kadang melihat lebih dari 10 mobil diparkir di luar rumahnya. Ia juga mengatakan, Setiap hari, ada belasan orang bergiliran mengawasi mereka. 

Aktivis lainnya, Wu Lijuan dari Provinsi Hubei, mengatakan bahwa personel “pemeliharaan keamanan” mulai mengawasinya selama 24 jam sejak 24 September. Mereka hanya berhenti setelah berjanji tidak akan pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi. Wu Lijuan kepada NTD mengatakan, mereka memiliki empat atau lima orang di setiap shift. 

Jiang Tianyong, seorang pengacara hak asasi terkemuka yang berbasis di Beijing, mengatakan, rezim telah mengubah hari-hari yang sensitif secara politis, menjadi kesempatan untuk memperkuat kontrolnya terhadap warga.

Pada 26 September, empat orang dari biro kepolisian setempat mengunjungi Jiang. Polisi mengatakan kunjungan itu adalah wajib sehubungan dengan perayaan ulang tahun.  Jiang mengatakan, bahwa dirinya terlibat pertengkaran dengan polisi, di mana salah satu petugas memanggilnya “pengkhianat” dan mengancam akan memukulnya.

Jiang Tianyong kepada Epoch Times berbahasa Mandarin mengatakan, hal demikian tak hanya terhadap dirinya.  Mereka juga melakukannya kepada banyak orang.  Ia mengungkapkan, aparat takut ketika melonggarkan kontrol ketat terhadap dirinya akan menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan. Aparat juga ingin menakuti pengacara hak asasi manusia agar tak berbicara.  Jiang menambahkan pejabat dari berbagai daerah telah mengambil keuntungan dari tindakan keras. Tujuannya, untuk memperdalam kantong mereka sendiri.

Jiang telah berada di bawah tahanan rumah di kota asalnya Xinyang, Provinsi Henan, sejak 28 Februari lalu. Itu setelah menjalani hukuman dua tahun karena tuduhan versi Komunis Tiongkok  “menghasut subversi kekuasaan negara.”

Sekelompok pakar HAM PBB mendesak rezim untuk menghentikan pengawasan dan penindasan terhadap Jiang dalam pernyataan 24 September.  Mereka mengatakan, bahwa perlakuan hukuman yang diterima Jiang sejak pembebasannya “tidak dapat dibenarkan secara hukum.” Pegiat HAM juga menyatakan, keprihatinan atas kurangnya akses ke perawatan medis. Kesehatan Jiang telah memburuk sejak dipenjara.  Di mana dia dipaksa untuk menggunakan obat-obatan yang tidak dikenal. 

Terlepas dari keluhan bahwa ia menderita tekanan darah tinggi, kehilangan ingatan, penglihatan berkurang, dan kaki bengkak. Mirisnya, pihak berwenang menolak permintaan berulang kali dari Jiang untuk pemeriksaan medis atau ia memilih sendiri dokternya.

Diusir

Pengacara hak asasi lain di Provinsi Shandong, Tiongkok, Wu Li, mengatakan, bahwa polisi setempat menekan tuan tanahnya untuk menangguhkan sewa. Wu mengatakan bahwa pemiliknya memintanya untuk pindah dalam satu hari, atau diusir secara paksa tanpa kompensasi. 

Setidaknya delapan polisi muncul pada 7 September untuk mengawasi tindakan itu. Rekaman dari tempat kejadian menunjukkan seorang petugas polisi memperingatkan Wu “untuk tidak ikut campur sementara mereka menegakkan hukum.” Wu, dalam wawancara dengan Epoch Times berbahasa Mandarin, menyebut episode itu sebagai bagian dari kegiatan rutin otoritas Komunis Tiongkok.

Pengacara itu sebelumnya mengatakan, dirinya berusaha untuk menghubungi keluarga aktivis pro-demokrasi Wang Meiyu.  Ia tewas dalam tahanan pada 23 September setelah dua bulan ditahan, menurut laporan Radio Free Asia.

Sebelum ditahan pada bulan Juli lalu, Wang secara terbuka menyerukan pengunduran diri pemimpin Tiongkok Xi Jinping.  Pejabat telah menawarkan keluarganya uang 2,98 juta yuan atau 400 ribu dolar dalam penyelesaian, menurut Hu Guoqing, pengacara yang mewakili keluarga tersebut.

Wu Li menegaskan, selama beberapa dekade, Komunis Tiongkok telah menggunakan penindasan terhadap warga negara sesuka hati selama liburan yang sensitif. Ia mengatakan, dirinya “tidak memiliki kewajiban” untuk bekerja sama dengan mereka. (asr)

Share

Video Popular