Oleh Larry Elder

Dari banyak alasan yang ditawarkan oleh penentang Presiden Donald Trump karena kebencian mereka, kritik terhadap penarikan Donald Trump dari Kesepakatan Nuklir Iran adalah salah satu yang paling sulit untuk diikuti. Kritikus ini menyalahkan Donald Trump. Karena perilaku agresif Iran baru-baru ini bahkan menjadi lebih aneh.

Bagaimana bisa ketika Iran menyerang kapal tanker minyak dan mengebom fasilitas minyak Saudi, lalu malah Donald Trump menjadi penjahat?

Saat Donald Trump menarik diri dari Kesepakatan Nuklir Iran pada tahun 2018, editorial Koran The New York Times berbunyi :

“Saat datang menghampiri bahaya perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah, tidak ada tanda-tanda Iran atau kekuatan utama lainnya di Irak dan pakta yang ada sejauh ini tunduk pada rencana baru Donald Trump. Kemungkinan besar, keputusan Donald Trump akan memungkinkan Iran untuk melanjutkan program nuklir yang kuat, hubungan yang tidak memuaskan dengan sekutu dekat Eropa, terkikisnya kredibilitas Amerika Serikat, memberikan syarat bagi kemungkinan perang yang lebih luas di Timur Tengah. Membuat Amerika Serikat menjadi lebih sulit untuk mencapai kesepakatan yang baik dengan Korea Utara mengenai program senjata nuklir Korea Utara.”

New York Times, dengan kata lain, mengatakan bahwa setelah Amerika Serikat keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran, Iran akan terus terlibat dalam terorisme yang ekstrem. Di mana Iran memang sudah terlibat dalam terorisme yang ekstrem sebelum kesepakatan tersebut.

Menteri Pertahanan pertama di pemerintahan Presiden Barack Obama, Robert Gates, menjelaskan Kesepakatan Nuklir Iran didasarkan pada “harapan” yang dianggap oleh Robert Gates adalah “sangat tidak realistis.”

Setelah Robert Gates meninggalkan pemerintahan Barack Obama, Robert Gates berkata: “Pengejaran kesepakatan tersebut didasarkan pada harapan Presiden bahwa selama 10 tahun dengan sanksi dicabut, Iran akan menjadi pemangku kepentingan yang konstruktif. Bahwa saat ekonomi Iran mulai tumbuh lagi. Iran akan meninggalkan ideologinya, teologinya, prinsip-prinsip revolusionernya, campur tangannya dalam berbagai bagian wilayah. Dan sejujurnya, ia percaya hal tersebut adalah sangat tidak realistis.”

Sebelum Amerika Serikat mundur dari Kesepakatan Nuklir Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Iran melanggar kesepatan tersebut.

Dalam presentasi yang disiarkan televisi sangat jelas waktunya untuk mempengaruhi penarikan yang dilakukan oleh Donald Trump pada akhirnya. Benjamin Netanyahu mengatakan: “Iran berbohong bahwa Iran tidak pernah memiliki program senjata nuklir. Seratus ribu berkas rahasia membuktikannya. Kedua, bahkan setelah kesepakatan tersebut dibuat, Iran terus melestarikan dan memperluas pengetahuan senjata nuklirnya untuk penggunaan di masa depan.”

Pada tahun 2015, Badan Energi Atom Internasional,  pusat pemantauan nuklir milik PBB, mengeluarkan laporan yang disebut “Penilaian Akhir terhadap Masalah Terkemuka di Masa Lalu dan Masa Kini mengenai Program Nuklir Iran.”

Badan Energi Atom Internasional menyimpulkan bahwa “beberapa kegiatan terjadi setelah tahun 2003.” Akan tetapi “kegiatan itu tidak melakukan kemajuan melampaui studi kelayakan dan ilmiah.”

Badan Energi Atom Internasional menemukan “tidak ada indikasi kegiatan yang dapat dipercaya” setelah tahun 2009.

Badan Energi Atom Internasional tidak merespons presentasi Benjamin Netanyahu secara langsung. Tetapi, mengeluarkan pernyataan yang mengacu pada laporan Badan Energi Atom Internasional pada tahun 2015.

Pemerintahan Donald Trump keberatan dan menarik diri dari Kesepakatan Nuklir Iran atas dasar beberapa alasan. Kesepakatan tersebut tidak mencakup ekspor teror Iran melalui, sebagai contoh, Hizbullah — organisasi teror yang didirikan dan terus didanai oleh Iran.

Kesepakatan tersebut juga tidak mencakup program rudal Iran. Yang paling mengganggu Donald Trump di Gedung Putih adalah bahwa kesepakatan tersebut tidak mengizinkan inspeksi tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Kesepakatan tersebut memberi waktu selama 24 hari kepada Iran untuk mengizinkan inspeksi dari waktu dibuatnya permohonan oleh Badan Energi Atom Internasional.

Mengenai periode waktu kepatuhan, Lembaga Brookings yang liberal dan pro-kesepakatan tersebut mengakui: “Para kritikus adalah benar bahwa upaya penyingkiran dan pembersihan dapat  diselesaikan secara berhasil dalam waktu 24 hari dalam kasus kegiatan skala-kecil yang terlarang, terutama jika tidak ada bahan nuklir yang terlibat.”  

Lembaga Brookings mengungakpkan, meskipun aset intelijen di masa lalu telah mendeteksi upaya membersihkan situs — terutama di fasilitas Parchin Iran — deteksi atas upaya semacam itu tidak dapat diandalkan sepenuhnya dalam semua kejadian.

Kebanyakan orang Amerika Serikat juga percaya bahwa Iran adalah curang. Jajak pendapat CNN pada bulan Mei 2018 menemukan di mana 63 persen menentang pengunduran diri dari kesepakatan tersebut, persentase yang hampir sama yakni 62 persen mengatakan Iran melanggar kesepakatan tersebut.

Kini Iran mengakui bahwa Iran melanggar pembatasan pengayaan uranium yang ditetapkan dalam kesepakatan tersebut. Iran memperingatkan akan melakukan pelanggaran lebih lanjut, jika Iran tidak mendapatkan dibebaskan dari  sanksi.

Semua kritikus Donald Trump mengabaikan atau lupa bahwa arsitek kesepakatan tersebut, wakil penasihat keamanan nasional Ben Rhodes.  Tetapi mengakui bahwa Ben Rhodes menjual kesepakatan tersebut kepada publik dengan cara mendorong narasi palsu. Pemerintah berpendapat bahwa Ayatollah Iran yang moderat menantang garis keras, bahwa kesepakatan tersebut akan memperkuat cengkeraman penguasa terdahulu.

Tetapi The New York Times, dalam artikel tahun 2016 mengenai Ben Rhodes dan pembuatan Kesepakatan Nuklir Iran, menulis bahwa narasi ini sebagian besar diproduksi: “Kisah Kesepakatan Nuklir Iran…sebagian besar dibuat untuk tujuan menjual kesepakatan tersebut.

Bahkan di mana rincian cerita itu adalah benar, implikasinya adalah pembaca dan pemirsa didorong untuk menerima keterangan-keterangan yang sering menyesatkan atau salah. Hal demikian adalah narasi yang dibentuk oleh Ben Rhodes.”

Sebelum Ben Rhodes mengkritik penarikan Donald Trump dari Kesepakatan Nuklir Iran, Senatator Demokrat Chuck Schumer yang berada dalam peringkat menentang kesepakatan tersebut.

Pada tahun 2015, Chuck Schumer berkata, “Dirinya yakin Iran tidak akan berubah, dan berdasarkan perjanjian itu. Iran akan dapat mencapai tujuan gandanya yaitu menghilangkan sanksi sambil tetap mempertahankan tenaga nuklir dan non-nuklir miliknya.” Donald Trump juga setuju dengan pernyataan Chuck Schumer.

Larry Elder adalah penulis terlaris dan pembawa acara talk show radio nasional AS. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Larry Elder, atau menjadi “Elderado,” kunjungi LarryElder.com. Ikuti Larry di Twitter @LarryElder.

Share

Video Popular