The Epochtimes

Seorang netizen Tiongkok berusia 25 tahun, ditangkap pada 7 Oktober. Dikarenakan, komentarnya mendukung tim bola basket NBA Houston Rockets. Itu tak lama setelah manajer tim, memposting cuitan yang mendukung pengunjuk rasa Hong Kong. “Saya hidup dan mati bersama tim, tangkap saya,” demikian ucapan Wang Haoda, seorang penggemar dan musisi, Houston Rockets yang mengidentifikasi dirinya sendiri.

Tulisan itu dicantumkan dalam platform media sosial populer Tiongkok, Weibo, pada tanggal 6 Oktober saat tengah malam.

Postingan itu disertai dengan foto dirinya mengenakan jersey Rockets merah. Ketika itu, ia memegang korek api dengan bendera merah bintang lima Komunis Tiongkok. Dengan mengenakan penutup mata hitam di mata kanannya, masker wajah, dan kaus hitam. Wang berpakaian serupa dengan pengunjuk rasa Hong Kong yang telah melakukan demonstrasi secara besar-besaran. Aksi digelar lebih dari empat bulan melawan pengaruh Komunis Tiongkok.

Adapun penutup mata telah menjadi simbol pengunjuk rasa dari penggunaan kekuatan polisi yang berlebihan. Itu setelah seorang relawan wanita medis ditembak di mata kanannya. Kemungkinan ia terkena proyektil polisi, selama demonstrasi pada bulan Agustus lalu.

Wang ditangkap kurang dari tiga jam setelah dia mempublikasikan unggahan tersebut. Akun resmi Weibo dari departemen kepolisian di Kota Liaoyuan di Provinsi Jilin, Tiongkok, kemudian mengumumkan bahwa departemen kepolisian sibernya menangkap Wang.

Episode NBA

Penangkapan Wang menandai rentetan terbaru dari manajer umum Houston Rockets, Daryl Morey. Itu setelah cuitan pro-Hong Kong pada 4 Oktober, yang berisi pesan “Stand With Hong Kong,” sebuah slogan populer dalam aksi protes Hong Kong. Gerakan ini telah secara langsung menantang otoritas rejim Komunis Tiongkok.

Pesan itu, meskipun segera dihapus. Namun direspon dengan berapi-api dari outlet media pemerintahan Komunis Tiongkok dan bisnis di Tiongkok. Reaksinya dengan lebih banyak mitra NBA yang memutuskan hubungan bisnis.

Pada 8 Oktober lalu, perusahaan penyiaran Komunis Tiongkok, CCTV mengumumkan bahwa mereka tidak akan menyiarkan pertandingan pra-musim NBA yang akan datang. Sementara itu, produsen ponsel pintar Tiongkok Vivo, sponsor NBA, mengatakan pihaknya telah menangguhkan semua kerja sama.

Sekitar 500 juta orang di Tiongkok mengonsumsi konten NBA, menurut situs berita olahraga ESPN. Di Amerika Serikat, anggota parlemen dan pemimpin bisnis terus mengkritik NBA. Dikarenakan, hanya menempatkan keuntungan bisnis semata di atas kebebasan berbicara.

Hayman Capital Management chief investment officer, Kyle Bass dalam cuitannya menyatakan, Tsai Chung-hsin pemilik Brooklyn Nets mengatakan komentar manajer Daryl Morey menyinggung 1,4 miliar orang Tiongkok. Tetapi muncul pertanyaan, ketika Twitter dilarang oleh diktator komunis, bagaimana mungkin hal demikian terjadi.

Kyle Bass memohon kepada pemain dan penggemar NBA yang memperjuangkan keadilan sosial untuk menyelidiki rezim pembunuh Komunis Tiongkok.

Anggota parlemen dari kedua partai di AS, termasuk Senator Marco Rubio dan Bob Menendez serta Pemimpin parlemen Mayoritas Mitch McConnell juga menegur NBA karena penanganan insiden tersebut.

McConnell dalam cuitannya pada 8 Oktober, orang-orang Hong Kong telah mengambil risiko lebih dari sekadar uang, demi mempertahankan kebebasan berekspresi, hak asasi manusia, dan otonomi mereka.

Senator Josh Hawley menyampaikan, dirinya berharap NBA dapat belajar dari keberanian tersebut. Dengan, tidak meninggalkan nilai-nilai demi garis bawah mereka.

Setidaknya dua anggota parlemen, Josh Hawley dan Bill Pascrell telah menulis surat resmi kepada komisaris NBA. Isinya mendesak liga basket itu untuk membuat pilihan antara kepentingan ekonomi dan nilai-nilai demokrasi.

Perusahaan-perusahaan internasional lain juga menjadi pincang soal masalah Hong Kong.Dikarenakan, demi menghindari menyinggung rezim komunis Tiongkok. 

Pada 7 Oktober, peritel perhiasan mewah yang bermarkas di New York, Tiffany & Co., yang memiliki 34 toko di Tiongkok, menghapus cuitan yang menunjukkan model yang menutupi mata kanannya. Itu setelah netizen Tiongkok menafsirkannya sebagai mendukung protes Hong Kong — mirip dengan kasus Wang .

Seorang juru bicara Tiffany & Co, Tiffany Nathan Strauss dikutip Reuters mengatakan, Foto itu dibuat pada bulan Mei lalu. Itu terjadi sebelum protes massa pecah. Foto tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadi pernyataan politik.

Sedangkan, Merek sepatu Vans menurunkan pengajuan untuk kompetisi desain sepatu kets yang menyampaikan pesan dukungan kepada Hong Kong. Desain  yang paling populer melalui voting secara online — menampilkan tokoh-tokoh mengenakan helm dan masker, serta payung kuning. Semua kostum tersebut terkait dengan simbol aksi protes di Hong Kong. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular