Frank Fang – The Epochtimes

Senator Amerika Serikat, Marco Rubio mendesak panel keamanan nasional untuk meninjau aplikasi TikTok yang sebelumnya mengakuisisi Musical.ly.  Senator AS itu menegaskan, bahwa aplikasi tersebut melakukan penyensoran dengan mengikuti garis Komunis Tiongkok.

Dalam surat 9 Oktober kepada Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Rubio mengatakan, aplikasi milik Tiongkok, termasuk TikTok, “semakin sering digunakan untuk menyensor konten-konten dan membungkam diskusi terbuka tentang topik-topik yang dianggap sensitif oleh Pemerintah Tiongkok dan Komunis Tiongkok.”

Tik Tok dimiliki oleh ByteDance Technology Co yang berbasis di Beijing. Rubio mendesak  Committee on Foreign Investment in the United States atau  Komite Investasi Asing di Amerika Serikat -CFIUS untuk meneliti akuisisi ByteDance pada Tahun 2017 terhadap Musical.ly. Lembaga itu adalah sebuah panel antar badan dikelola oleh Departemen Keuangan AS  untuk meninjau merger dan pembelian saham terkait masalah keamanan nasional.  

TikTok, yang dikenal sebagai “Douyin” di Tiongkok, diluncurkan oleh ByteDance pada Tahun 2016. Pada tahun berikutnya, ByteDance mengakuisisi sesama layanan media sosial Tiongkok, Musical.ly, yang memiliki kantor di Shanghai dan Los Angeles, dengan harga 1 miliar dolar AS. Pada bulan Agustus 2018, ByteDance menurunkan merek Musical.ly dan meluncurkan versi TikTok yang diperbaharui. 

The Peterson Institute for International Economics  (PIIE), dalam laporan tahun 2019, memperkirakan ada 400 juta pengguna TikTok di Tiongkok, bersama dengan 80 juta di Amerika Serikat, dan 120 juta di seluruh dunia.

Dalam suratnya, Rubio menunjukkan bahwa masih ada “banyak bukti dan terus berkembang” bahwa TikTok menyensor konten pada isu-isu yang dianggap “sensitif” oleh Komunis Tiongkok dari platformnya, seperti Lapangan Tiananmen, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan.

Bulan lalu, Medai Inggris, The Guardian melaporkan, bahwa TikTok menginstruksikan moderatornya untuk menyensor video tertentu yang menyebutkan topik tertentu, termasuk Lapangan Tiananmen, dan latihan spiritual Falun Gong. 

Laporan tersebut berdasarkan dokumen yang bocor ke publik. Isinya merinci pedoman moderasi aplikasi, yang disebut TikTok diganti pada bulan Mei lalu.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah disiplin spiritual yang melibatkan latihan meditasi dan ajaran moral Latihan tersebut  dilarang oleh rezim Komunis Tiongkok pada tahun 1999. Selama 20 tahun, para penganutnya telah menjadi sasaran kampanye penganiayaan secara menyeluruh. Praktek tersebut melibatkan penahanan sewenang-wenang, kerja paksa , cuci otak, dan penyiksaan.

Rubio juga mempertanyakan, mengapa TikTok hanya memiliki beberapa video aksi protes Hong Kong “yang telah mendominasi berita utama internasional selama berbulan-bulan.” 

Share

Video Popular