Li Yun/Dai Ming -NTDTV

Sejak polisi Hong Kong melancarkan serangan teroris di Stasiun MTR Pangeran Edward pada 31 Agustus 2019 lalu, kasus “bunuh diri” yang mencurigakan meningkat tajam. Kerap ditemukan mayat mengambang di sungai, termasuk Chen Yanlin, seorang perenang putri berusia 15 tahun yang pernah ikut terjun dalam aksi demo menentang undang-undang ekstradisi Hong Kong. 

Baru-baru ini, pihak kepolisian Hong Kong secara lisan mengkonfirmasi bahwa mayat mengambang di Yau Tong, Tenggara Kowloon, Hong Kong adalah seorang gadis belia yang hilang bermarga Chen. Sebelumnya beredar luas di dunia maya Hong Kong pengumuman tentang pencarian orang hilang, yakni seorang gadis belia bernama Chen Yanlin. Menurut pengumuman itu, Chen Yanlin, usia 15 tahun dan tinggi 1,53 meter.

Pada 19 September pukul 14:15 waktu setempat, dia terpisah dengan teman-temannya di Mei Foo, Distrik Sham Shui Po, Hong Kong. Sepuluh menit kemudian dia mengirim pesan singkat kepada temannya mengatakan bahwa dia dalam perjalanan pulang, tetapi setelah lewat lima hari, Chen dikabarkan tidak pulang ke rumah.

Selanjutnya, seseorang mengambil ponsel, kartu identitas dan kartu siswa-nya di sekolah Chen Yanlin di Distrik Tseung Kwan O, salah satu kota baru di Hong Kong. Hingga kemudian  beredar kabar di Internet yang mengatakan bahwa Chen sudah meninggal, menjadi mayat mengambang.

Polisi mengkonfirmasi bahwa pada 22 September 2019, ditemukan sesosok mayat wanita telanjang mengambang di permukaan laut di sekitar Devil’s Peak, daerah Yau Tong, Hong Kong. 

Diyakini mayat telanjang itu adalah Chen yang hilang, tetapi tidak dikonfirmasi lebih lanjut apakah mayat yang mengambang itu adalah Chen Yanlin. Menurut informasi di lapangan, mayat mengambang itu memiliki ciri-ciri sekitar 1,5 meter tingginya, rambut pirang panjang, dan disimpulkan berusia antara 25 hingga 30 tahun.

Sementara itu, teman-teman Chen Yanlin mengkonfirmasi bahwa mayat mengambang yang ditemukan oleh polisi adalah Chen Yanlin, usia 15 tahun. Pada 11 Oktober 2019, “Apple Daily” mengutip berbagai informasi mengatakan, bahwa sepekan setelah Chen Yanlin menghilang, mayatnya yang mengambang diangkat oleh polisi dan mengkonfirmasi identitasnya. 

Harian Apple bertanya apakah kasus mayat mengambang itu berhubungan dengan bunuh diri, apakah ada yang mencurigakan, dan apakah korban pernah ditangkap karena ikut serta dalam gerakan anti-ekstradisi,?

Korban kemudian dibawa ke kantor polisi untuk penyelidikan polisi. Polisi menjawab secara tertulis bahwa kasus itu masih dalam penyelidikan. Penyebab pasti kematian korban masih harus diuji dengan toksikologi dan penyelidikan lebih lanjut.

Pada tanggal 6 Oktober, orang-orang Hong Kong mendirikan aula berkabung di persimpangan Johnston Road, Hennessy Road, Wan Chai. (Yu Tianyou / Epoch Times)

Setelah kematian Chen Yanlin beredar luas, banyak temannya terkejut dan curiga dengan kematiannya yang ganjil. Menurut beberapa sumber, Chen Yanlin pernah berulang kali ikut aksi demo bersama pedemo lainnya semasa hidupnya. Diduga penyebab kematiannya mencurigakan.

Terbetik berita, Chen Yanlin adalah seorang perenang, pernah bergabung dalam tim loncat indah. Dia pernah menjalani latihan loncat indah sekitar tiga tahun yang lalu. Chen juga pernah studi di Pok Oi Hospital Tang Pui King Memorial College. Laporan pihak sekolah menyebutkan bahwa ia pernah memenangkan penghargaan dalam kompetisi renang antar sekolah.

Seorang juru bicara Vocational Training Council-VTC mengatakan, Chen Yanlin studi di VTC Youth College. Pihak sekolah sangat sedih dengan kematian Chen dan menyatakan berbelasungkawa mendalam kepada keluarganya.

James To Kun-sun, pengacara Hong Kong dan anggota Partai Demokrat dari Dewan Legislatif Hong Kong mengatakan bahwa insiden itu akan diputuskan oleh Magistrat atau petugas sipil yang mengelola hukum. 

Menurut prosedur normal, polisi seharusnya berusaha maksimal dalam penyelidikan ketika menemukan mayat mengambang, misalnya, apakah korban ditangkap polisi karena terlibat dalam aksi unjuk rasa itu, dan kapan dibebaskan.  Sebagai informasi, tercatat kasus “bunuh diri” yang mencurigakan melonjak setelah insideDemo besar-besaran yang berakhir ricuh pada n 31 Agustus 2019 silam. 

Pemerintah Hong Kong mengatakan pada 10 Oktober 2019, bahwa setidaknya 2.300 demonstran ditangkap, tiga diantaranya anak-anak di bawah umur. Polisi Hong Kong menjadi sasaran para pengunjuk rasa karena penindasan berdarah yang ekstrim terhadap para demonstran dan kekerasan seksual yang mengerikan.

Sejak tragedi serangan teror polisi anti huru hara terhadap penumpang di Stasiun Edward pada 31 Agustus 2019, banyak desas-desus tentang polisi yang memukul orang hingga tewas, dan insiden “bunuh diri” juga terus meningkat, banyak kasus mayat mengambang di sungai.

 Banyak titik yang mencurigakan dalam kasus pembunuhan tersebut, termasuk tidak adanya bekas darah saat jatuh dari gedung, mayat yang mengambang kedua tangannya bekas diikat dan keganjlan lainnya. 

Selain itu, banyak mayat tampak mengerikan kondisi kematiannya. Seorang wanita terjun bebas atau bunuh diri dari gedung tinggi dalam keadaan telanjang bulat, dan mayatnya dalam kondisi patah. 

Sementara seorang wanita yang mati tenggelam menjadi mayat kering. Menurut Apple Daily, bahwa sejak aksi demo 31 Agustus 2019, setidaknya ada lima mayat mengambang yang berhubungan dengan aksi protes. Selain mayat gadis telanjang Chen Yanlin (15 tahun), masih ada 4 kasus kematian ganjil lainnya.

 Pada 24 September 2019, ditemukan mayat mengambang di permukaan laut di The Pavilia Bay, Tsuen Wan, Hong Kong. Memakai celana dan sepatu hitam, kulit di dadanya pucat pasi, tidak ada gejala pembengkakan sebagaimana mayat yang tenggelam, dan banyak darah bercampur air. 

Mayat dalam posisi telentang saat mengambang di permukaan. Kedua tangannya mengepalkan tangan ke atas. Itu menyiratkan “kematian yang tidak wajar.”

Pada 16 September 2019, mayat mengambang wanita yang hilang Gao Xiulan ditemukan di tepi Tong Yin Street, Tseung Kwan O. Diduga salah satu korban yang meninggal di Stasiun Prince Edward pada saat demo 31 Agustus 2019.

Pada 7 September 2019, sesosok mayat mengambang ditemukan di Dermaga Feri North Point dalam keadaan kedua tangan terikat, dan sebuah kantong belanja hitam juga terikat di atas mayatnya. Korban adalah seorang pria gaek berusia 81 tahun.

Sehubungan dengan banyaknya kasus bunuh diri yang ganjil dan aneh itu, pada 6 Oktober 2019, sebuah lembaga penelitian kecerdasan buatan otoritatif bernama “Organisasi AI” di Amerika Serikat secara eksklusif mengungkapkan tentang demonstran yang ditangkap, dilecehkan polisi Hong Kong dan rahasia mengerikan terkait kasus “bunuh diri” yang mereka ketahui.

“Organisasi AI” menerbitkan sebuah artikel di situs web yang berjudul “Teknologi Pengenalan Wajah Kecerdasan Buatan untuk Mencari Kawula Muda di Hong Kong dan Digunakan untuk Menangkap, Memerkosa, dan Bunuh Diri.”

Artikel itu menuturkan, bahwa kecerdasan buatan, jika dikombinasikan dengan wajah, suara, dan banyak biometrik lainnya, akan berakibat fatal. Hal itu dapat mencapai proses pemindaian, pemosisian, pelacakan, perburuan, dan pada akhirnya menyebabkan kematian.

 Teknologi itu telah dipasok ke Tiongkok oleh perusahaan teknologi besar, membuat teknologi itu dapat menyusup ke ponsel, Internet of Things, rumah pintar, drone, mobil, dan sistem pengawasan video.

Komunitas intelijen melaporkan bahwa rezim Komunis Tiongkok telah mengerahkan pasukan paramiliternya sendiri di kantor polisi di Hong Kong dan menargetkan para siswa melalui teknologi pengenalan wajah kecerdasan buatan. Para siswa perempuan ditahan di dalam gedung kantor dan mobil polisi.

 Laporan tersebut menyebutkan, para gadis remaja itu diperkosa oleh banyak personel polisi Hong Kong. Dan yang disebut “Polisi Hong Kong” itu sebenarnya adalah polisi dan intel Tiongkok yang dikirim ke Hong Kong atas persetujuan Pemerintah Hong Kong.

Artikel tersebut mengungkapkan bahwa para siswa Hong Kong yang tewas, baik itu laki-laki atau perempuan, semuanya dinyatakan sebagai kasus bunuh diri dengan melompat dari gedung atau terjun ke sungai.  Padahal, beberapa wanita diantaranya adalah korban pemerkosaan. Tujuan komunis Tiongkok adalah menakut-nakuti dan menciutkan nyali para siswa, sehingga Beijing dapat mengambil alih Hong Kong.

Mereka yang diklaim melompat dari gedung sebenarnya dipaksa atau langsung dilempar begitu saja. “Bunuh diri” yang dibunuh itu sudah biasa digunakan di daratan Tiongkok. Metode seperti itu digunakan oleh polisi, petugas keamanan dan paramiliter untuk melacak dan menangkap aktivis demokrasi, praktisi Falun Gong, kaum Kristen, etnis Uighur, jemaat Buddha Tibet dan kelompok lainnya.

Artikel itu juga mengatakan: Para siswa Hong Kong yang ditangkap melalui pengenalan wajah itu direalisasikan dalam bentuk perangkat lunak yang terhubung ke jaringan dan disembunyikan di telepon pintar dan aplikasi.  Sementara itu, Beijing juga menyusupkan mata-matanya di kantor polisi, media, sekolah, klub, dan semacamnya di Hong Kong.

Di akhir artikel juga disebutkan bahwa jaringan pengawasan video di seantero Hong Kong dan pemerintah komunis Tiongkok menyimpan informasi yang dikumpulkan terlebih dahulu melalui komunikasi saluran tidak langsung untuk digunakan oleh departemen keamanan terkait di kemudian hari. (jon)

Share

Video Popular