Nicole Hao – The Epochtimes

Dulu pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg secara terbuka ‘Welcome’ dengan pejabat Komunis Tiongkok. Kala itu, kemungkinan sebagai upayanya untuk memastikan raksasa media sosial itu bisa masuk ke pasar Tiongkok. Seperti dilaporkan The Epochtimes,  baru-baru ini ia berpidato di Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Ia mengkritik sensor rezim Komunis Tiongkok. Zuckerberg menyerang dengan nada yang sangat berbeda.

Dulu, media yang dikelola pemerintahan Komunis Tiongkok pernah melaporkan bahwa pada Desember 2014, ketika Lu Wei, yang saat itu menjadi kepala agen Komunis Tiongkok untuk mengawasi sensor internet, Administrasi Cyberspace, mengunjungi kantor pusat Facebook. Kala itu, Zuckerberg menerimanya dengan sambutan yang hangat.

“Zuckerberg menemani Lu pada kunjungan kampus Facebook-nya, dan memperkenalkan dirinya kepada Lu dalam bahasa Mandarin,” demikian bunyi laporan media Komunis Tiongkok.

Zuckerberg juga mengundang Lu untuk duduk di meja kantornya, tempat ia meletakkan buku yang ditulis oleh pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping.

“Saya juga membeli buku ini untuk kolega saya dan saya ingin mereka memahami sosialisme dengan karakteristik Tiongkok,” demikian bunyi laporan media Tiongkok yang mengutip pernyataan Zuckerberg kala itu.

Sekitar satu bulan sebelum perjalanan itu, Lu Wei pernah mengatakan kepada wartawan saat konferensi pers di Beijing pada 30 Oktober 2014 silam. Pernyataanya berbunyi :  “Beberapa wartawan bertanya kepada saya apakah Facebook bisa masuk ke Tiongkok?. Saya tidak mengatakan Facebook tidak bisa masuk ke Tiongkok, atau Facebook bisa masuk ke Tiongkok.”

Lu Wei kemudian pernah mengatakan : “Orang Tiongkok ramah, tapi saya punya hak untuk memilih siapa yang bisa menjadi tamunya.” Lu Wei juga pernah mengatakan, dirinya tidak bisa mengubah seseorang tetapi ia bisa memilih siapa temannya. Lu Wei berharap semua perusahaan yang memasuki pasar Tiongkok adalah teman sejati. ”

Lu sejak itu dipecat dari jabatannya oleh pengawas korupsi Tiongkok. Ia dijatuhi hukuman 14 tahun penjara atas tuduhan korupsi. Selama kunjungan Zuckerberg pada Tahun 2016 ke Tiongkok, ia dengan senang hati jogging di jalan-jalan Beijing pada pagi hari yang dipenuhi asap. 

Ketika Xi Jinping mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 2015, Zuckerberg bertemu dengan Xi secara langsung. Kala itu, bos Facebook itu berdandan dengan setelan angkatan laut, alih-alih mengenakan baju kaos yang biasa ia kenakan. Pada Juli 2018, upayanya tampaknya membuahkan hasil. 

Media melaporkan bahwa Facebook mendapatkan izin untuk mengoperasikan anak perusahaan di Kota Hangzhou di Provinsi Zhejiang. Akan tetapi, otoritas Tiongkok mencabut persetujuan dalam hitungan beberapa jam.

The New York Times mengutip “seseorang yang akrab dengan masalah yang menolak disebutkan namanya,” mengatakan, Facebook menerima izin dari pemerintah setempat. Tentunya, membuat marah Administrasi Cyberspace pemerintah pusat karena “belum diajak berkonsultasi lebih dekat.”

Kebebasan

Kini, Zuckerberg menyampaikan pidato di Universitas Georgetown pada 17 Oktober lalu.  Di mana ia berbicara tentang sensor internet Komunis Tiongkok.

Zuckerberg mengatakan, Komunis Tiongkok sedang membangun internet sendiri yang berfokus pada nilai-nilai yang sangat berbeda. Zuckerberg mencatat bahwa rezim Tiongkok “sekarang mengekspor visi internet mereka ke negara-negara lain” melalui platform internet populer yang dikembangkan Tiongkok.

Dia menambahkan, bahwa aturan sensor yang mirip dengan Tiongkok juga sedang diadopsi oleh negara lain. Ia mengatakan, pihaknya semakin melihat hukum dan peraturan di seluruh dunia yang merusak kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Sedangkan, Undang-undang setempat masing-masing secara individu bermasalah, terutama ketika mereka menutup pembicaraan di tempat-tempat di mana tidak ada demokrasi atau kebebasan pers.

Dia mengatakan bahwa penyensoran semacam itu adalah “salah satu alasan pihaknya tidak mengoperasikan Facebook, Instagram, atau layanan lainnya di Tiongkok. Zuckerberg memberi contoh kepada hadirin. Seperti layananya, WhatsApp, digunakan oleh pengunjuk rasa dan aktivis di mana-mana karena enkripsi dan perlindungan privasi yang kuat. Ia membandingkan dengan  TikTok, aplikasi buatan Tiongkok yang tumbuh dengan cepat di seluruh dunia. Tetapi, menyensor aksi protes bahkan di AS. 

Media Sosial di Tiongkok

Para pengamat AS dalam beberapa tahun terakhir telah memperingatkan tentang risiko keamanan menggunakan WeChat. Mereka mendesak pemerintah AS untuk menjatuhkan sanksi kepada perusahaan itu. Dikarenakan, kurangnya perlindungan privasi dan perannya sebagai alat untuk mempengaruhi pemilihan Barat.

Pengembang dan pemilik WeChat, raksasa teknologi Komunis tiongkok Tencent, mengatakan bahwa aplikasi tersebut memiliki total lebih dari 1,1 miliar pengguna aktif bulanan.

The Epoch Times melakukan uji coba pada aplikasi itu pada bulan Agustus lalu. Hasinya menemukan bahkan untuk pengguna WeChat yang berlokasi di luar Tiongkok, aplikasi tersebut melarang beberapa media outlet berbahasa Mandarin yang dikenal karena liputan mereka tentang pelanggaran rezim Komunis komunis, termasuk bahasa mandarin edisi The Epoch Times,  NTD, Voice of America, dan Radio Free Asia.

Sementara itu, kepatuhan WeChat dengan aturan sensor rezim Komunis Tiongkok didokumentasikan dengan baik. Pada tahun 2018, para peneliti yang menganalisis 1,04 juta artikel yang diposting di 4.000 akun WeChat publik yang mencakup berita harian menemukan bahwa 11.000 dihapus oleh sensor.

Studi terbaru juga mengungkapkan, bagaimana aplikasi tersebut menggunakan beberapa algoritma untuk secara otomatis menyensor gambar secara real time.

Heng He, seorang komentator urusan Tiongkok yang bermarkas di Amerika Serikat, mengatakan kepada Epoch Times berbahasa Tionghoa bahwa taktik propaganda rezim Komunis Tiongkok di luar Tiongkok ada dua: Pertama, mempromosikan berita yang menguntungkan Beijing, dan menekan informasi yang menjadikan rezim bersikap negatif. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular