- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Dari Ambang Pintu Kematian ke New York : Tahanan Hati Nurani Menceritakan Penganiayaan dan Penyiksaan Selama di Penjara Tiongkok

Eva Pu – The Epochtimes

Seorang tahanan hati nurani yang bernama Li Dianqi menceritakan kisah penyiksaan dan penganiayaan yang dialaminya selama ditahan secara paksa di Tiongkok. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak tahanan hati nurani yang ditindas oleh Komunis Tiongkok. 

Li Dianqi kepada The Epochtimes edisi Amerika Serikat mengatakan, dirinya pernah ambruk saat ke toilet di dalam kamp kerja paksa Tiongkok. Kala itu, pikirannya setengah terkubur dalam kekacauan. Dia mengira dirinya sudah berada di ambang maut.

Sebelum itu, para penjaga telah menyuntikkan kepada dirinya dengan obat-obatan yang tidak dikenal. Dia menjadi terlalu lemah untuk bergerak. Anggota tubuhnya menjadi merah dan bengkak, sementara ototnya tersentak. Dia bisa merasakan darah mengalir deras ke kepalanya. Li mengira dia akan meninggalkan dunia pana dengan tenang, meninggalkan semua kekotoran dan kekejaman yang dialaminya. Tidak ada lagi siksaan, tidak ada lagi sesi pencucian otak dan kerja paksa.

Untungnya, seorang napi lainnya memperhatikan ketidakhadirannya yang berkepanjangan dan datang untuk mencarinya. Dia  kembali siuman setelah menghabiskan tiga hari di rumah sakit.

Li dipenjara di Kamp Kerja Masanjia di Tiongkok yang terkenal kejam pada 2000 silam. Ia dikurung karena menolak melepaskan keyakinan kepada Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang dilarang oleh  Komunis Tiongkok sejak setahun sebelumnya.

Dia melakoni latihan spiritual Falun Gong, yang meliputi latihan meditasi dan serangkaian ajaran moral, sekitar pada Tahun 1990-an. Ketika itu, dia menderita tumor, gagal usus, dan kelelahan kronis. Keluarganya yang juga mengikuti latihan spiritual itu, mengatakan, penyakit-penyakit yang pernah dideritanya sembuh tidak lama setelah dia memulai latihan.

Ia mengatakan, Falun Gong tidak hanya menyelamatkan hidupnya, tetapi juga menyelamatkan keluarganya. Ia kini tinggal di New York. Pernyataanya merujuk kepada putrinya, yang juga mendapat manfaat dari latihan spiritual Falun Gong.

Kampanye Nasional Komunis Tingkok

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, diperkenalkan di Tiongkok pada tahun 1992 silam.  Latihan itu dengan pesat menjadi sangat populer di Tiongkok, dengan 70 juta hingga 100 juta orang yang berlatih. Data itu,  bahkan menurut perkiraan resmi dari pihak pemerintah pada saat itu.

Li Dianqi menghubungkan popularitas latihan Falun Gong dengan ajaran moralnya, yang berpusat pada prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar. 

Ia menuturkan, latihan Falun Gong mengajarkan orang-orang untuk bersikap baik,  memperhatikan orang lain, dan secara bertahap meningkatkan diri sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik. Tentunya, prinsip tersebut membawa kebahagiaan bagi keluarga mereka. 

Namun demikian, rejim komunis Tiongkok yang dipimpin Jiang Zemin kala itu, menganggap popularitas Falun Gong sebagai ancaman bagi kontrolnya. Hingga pada 20 Juli 1999, Jiang Zemin meluncurkan penganiayaan secara nasional terhadap para pengikut Falun Gong. Dalam semalam, para praktisi Falun Gong mendapati diri mereka di garis silang kampanye brutal yang bertujuan untuk memberangus mereka. 

Televisi milik pemerintahan Komunis Tiongkok mulai menyiarkan propaganda secara terus menerus melawan disiplin latihan Spiritual itu. Bahkan, sebuah kantor ekstra-hukum yang dikenal Kantor 610 dibentuk untuk melaksanakan penganiayaan di semua bagian masyarakat, dari tempat kerja hingga sekolah hingga badan-badan pemerintahan.

Li Dianqi , seperti jutaan praktisi lainnya di Tiongkok, berpikir itu semua adalah kesalahpahaman. Jadi ketika sebuah gedung opera lokal di kota Yingkou, Tiongkok, memainkan sandiwara yang menjelek-jelekkan latihan itu pada tahun 2000, kala itu merupakan keharusan semua siswa sekolah hingga kelas 9 untuk menontonnya. Li dan empat praktisi lainnya ingin berbicara dengan manajer teater untuk mengklarifikasi fakta sebenarnya.

Ketika itu, Li Dianqi mengatakan kepada direktur opera itu tentang bagaimana praktik latihan Falun Gong membantu menyembuhkan penyakitnya dan mendapatkan lebih banyak pencerahan dalam kehidupan. Dia menyerukan kepada Direktur Opera itu untuk tidak menyebarkan propaganda.

Direktur Opera hanya menjawab bahwa dirinya mengikuti perintah. Dia kemudian mohon diri dan memanggil polisi. Sebagai hasilnya dirinya ditangkap dan ditahan.

Penangkapan dan Penyiksaan

Beberapa dekade berikutnya bagi Li, jalur hidupnya diwarnai dengan kerapnya penangkapan dan penahanan. Dia dipindahkan secara bolak-balik antara pusat penahanan lokal, penjara, rumah sakit jiwa, dan kamp kerja paksa seperti Masanjia untuk memaksanya takluk dalam tekanan mental.

Pada satu kesempatan — pemukulan pertamanya dilakukan — polisi secara bergantian menampar dan menghajar seluruh tubuhnya sampai wajahnya cacat. Kedua tangannya pun bengkak dan berubah menjadi ungu kehitaman.

Tetap saja, Li bersikukuh menolak untuk melakukan satu hal yang ditanyakan polisi kepadanya: melepaskan keyakinannya. Ia menegaskan, dirinya tidak takut, karena ia telah mengetahui dirinya tidak melakukan kesalahan. 

Li Dianqi mengutarakan, dirinya ditangkap dan dibebaskan berkali-kali sehingga ia tidak bisa mengikuti mereka. Li menambahkan bahwa ingatannya yang dulunya tajam adalah sesuatu yang ia banggakan. 

Sebagai seorang mantan akuntan, dia dikenal karena pemikirannya yang cepat dan kemampuannya untuk melaporkan data penjualan kepada bosnya dari ingatan. Akan tetapi penyiksaan itu menyebabkan kerusakan permanen pada kepala dan ingatannya — kepalanya terkadang masih bergetar secara otomatis.

Satu pemukulan membuat Li berdebar-debar seolah otot-ototnya menumpuk. Matanya melotot, tulangnya menjadi terputus-putus, dan lututnya membengkak. Rasa sakitnya tak hilang sampai bertahun-tahun kemudian.

Selama tiga tahun dari 2007 hingga 2010, Li juga pernah duduk di kursi berkaki tiga di Pusat Penahanan Shenyang, Tiongkok,  sebuah penjara yang mengubah kamp kerja paksa, untuk mengerjakan karangan bunga plastik atau kain untuk diekspor. 

Dia sering bekerja dari jam 7 pagi sampai 1 atau 2 pagi dini hari untuk memenuhi kuota produksinya. Li ingat bahwa bahan dan kemasannya mengeluarkan bau kimiawi yang begitu kuat hingga ia sulit bernapas.

Ketika Li pertama kali dibawa ke kamp kerja paksa, satu-satunya pakaiannya adalah pakaian musim panas. Seorang tahanan kemudian memberinya baju lengan panjang dan celana panjang, dan sepatu katun untuk melewati musim dingin yang keras. 

Dia tidak punya uang untuk mengenakan seragam penjara. Ketika Li dibebaskan tiga tahun kemudian, pakaiannya telah menghitam karena penggunaan secara berlebihan.

Li mengatakan, para penjaga memperlakukan mereka seperti budak karena bonus mereka bergantung pada hasil kerja para tahanan. Banyak dari mereka yang ditahan adalah praktisi Falun Gong seperti dirinya

Penjaga pernah mengatakan kepadanya bahwa mereka membayar 30.000 yuan untuknya sebagai buruh.“Kami membelimu, apakah kamu tahu itu? Anda pikir kami akan membiarkan Anda makan dengan gratis? ” demikian ungkapan penjaga itu seperti ditiru Li Dianqi. 

Li juga ingat pernah berkata kepada penjaga bahwa dirinya tidak melanggar hukum apa pun atau melakukan kejahatan apa pun; hanya Komunis Tiongkok yang membawa dirinya ke tempat itu. 

Ketika segala sesuatunya menjadi sulit, Li berkata dirinya akan menggertakkan giginya dan mengingatkan dirinya pada prinsip-prinsip: Sejati-Baik-Sabar. 

Suatu saat selama dalam tahanan, para penjaga memerintahkan Li untuk membersihkan toilet umum tanpa memberinya alat apa pun.

Ingatannya masih segar apa yang dikatakan penjaga saat itu : “Apakah kamu tidak memupuk Sejat-Baik-Sabar ? Mari kita lihat bagaimana Anda bisa menangani ini. Jika Anda dapat membersihkannya, saya akan mengagumi Anda,” demikian kenangnya dari perkataan seorang penjaga.

Tanpa keluhan, dia membersihkan semuanya dengan tangan dan sepatu sampai robek. Ia menghibur dirinya dengan pikiran bahwa dengan melakukan itu dia setidaknya bisa membuat kondisi hidup untuk praktisi lain sedikit lebih tertahankan. Li mengatakan bahwa kadang-kadang dia merasa bersalah atas bagaimana produk dari kerja paksanya mendukung rezim Komunis Tiongkok.

Li Dianqi menceritakan, bagaimana dirinya bisa membuat sesuatu untuk rezim komunis Tiongkok, dan membiarkannya menghasilkan uang sehingga mereka dapat terus menganiaya lebih banyak orang?”

Harapan

Ketika itu, Kesehatan Li dengan cepat memburuk karena banyak tugasnya selama dalam penahanan. Kakinya pernah terinfeksi karena kondisi penjara yang tidak bersih. Dulu perutnya bengkak sehingga tampak seperti orang sedang hamil. Matanya juga sering memerah.

Pada satu titik, nanah hitam mulai keluar dari pusarnya. Dia sering pingsan, kadang-kadang beberapa kali sehari. Para narapidana yang dekat dengannya khawatir dia tidak akan berhasil. Li mengatakan bahwa pada satu titik dia merasa bahwa “setiap sel tubuhnya dalam keadaan sekarat.”

Dia juga pernah melihat orang-orang merenggang nyawa di sekitarnya. Seorang praktisi wanita tewas karena mati lemas setelah polisi menutup mulutnya dengan selotip untuk mencegahnya meneriakkan kata-kata “Falun Dafa Hao atau Falun Dafa Baik.”

“Anda tidak tahu apakah hidup Anda masih akan ada pada saat berikutnya,” kata Li mengingat penindasan yang dialaminya pada saat itu. 

Akan tetapi satu pemikiran membuat jiwa Li tetap hidup: Dia ingin menjadi saksi penderitaan yang diderita dirinya dan orang lain — dan menceritakannya kepada dunia. “Di masa depan, saya akan melaporkan kejahatan  Komunis Tiongkok ke Amerika,” demikian perkataan Li pada dirinya sendiri kala itu.

Beberapa orang yang baik hati juga memberikan dukungannya selama dia ditahan.  Dia pernah menerima catatan dari seorang pemimpin unit di Masanjia yang mengatakan, “Tolong hargai apa yang kamu miliki.”

Li memenuhi janjinya ketika dia berhasil melarikan diri ke Amerika Serikat pada Juli 2016 silam. Benar saja, dua minggu setelah dia tiba di AS, ia berdiri tegak di depan konsulat Tiongkok di New York. Ketika itu,   memperingati berlangsungnya penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk menyadari kejinya kebrutalan dan mengakhiri kampanye penganiayaan Komunis Tiongkok.

Kepada Pemerintah dan rakyat Amerika, serta semua yang percaya kepada prinsip kebenaran, Li Dianqi  memohon kepada orang-orang untuk membantu agar suatu hari bisa kembali ke tanah airnya. Bersama dengan  orang-orang yang berlatih Sejati-baik-Sabar, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. (asr)