- Erabaru - http://m.erabaru.net -

“Memukul Harimau” Menjelang Sidang Pleno ke -IV Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, Krisis Beijing ?

Li Muyang – Epochtimes.com

Beberapa hari lalu, Apple Daily melaporkan bahwa Sidang Pleno Ke-empat Komite Sentral ke-19 Partai Komunis Tiongkok diadakan pada 24 Oktober 2019.

Menjelang sidang, komunis Tiongkok kembali menyingkap riak gelombang memukul harimau. Itu sebuah istilah untuk pemberantasan pejabat korup tingkat atas Komunis TIongkok. 

Belakangan ini, riak gelombang “memukul harimau, menepuk lalat” kembali mengguncang komunis Tiongkok.  

Pada 22 Oktober 2019, wakil direktur Biro Keamanan Umum dan mantan kepala Detasemen Kepolisian di Prefektur Otonomi Dàlǐ Bai, provinsi Yunnan barat laut, Tiongkok, Liu Wenzhang diselidiki. 

[1]
16 Oktober 2007 menandai hari kedua Kongres Nasional ke-17 Partai Komunis Tiongkok. Daerah di sekitar Lapangan Tiananmen di Beijing tetap dalam kondisi siaga tinggi. (The Epoch Times)

Sehari sebelumnya, pada Senin,  21 Oktober 2019, situs web Komisi Inspeksi Disiplin Pusat melaporkan 11 pejabat pemda setempat yang diselidiki. Menariknya, sebagian besar dari mereka yang diselidiki adalah pejabat kehakiman.

Meski sudah memasuki akhir Oktober 2019,  dunia luar masih belum melihat tanda-tanda Sesi Pleno Keempat Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok.

Sementara itu, munculnya gelombang “memukul harimau atau pemberantasan pejabat korup tingkat atas dikaitkan dengan serangkaian pernyataaan keras Xi Jinping baru-baru ini. 

Dunia luar berspekulasi bahwa Xi Jinping mungkin menemui krisis kekuatan terbesar sejak memangku kekuasaan sebagai pucuk pimpinan tertinggi komunis Tiongkok pada November 2012 silam.

Saat demikian, Xi Jinping sengaja menyingkap “riak gelombang memukul harimau” itu dengan maksud memberi efek kejut pada jajaran elite dan kader lainnya. 

“Memukul harimau, menepuk lalat” adalah istilah dari “anti korupsi”. Singkatan dari “Macan dan lalat.” Istilah “Macan” mengacu pada pejabat korup tingkat atas, sementara kata “lalat” di sini mengacu pada pejabat/kader korup tingkat bawah. 

rencana sidang pleno partai komunis tiongkok [2]
Pemimpin Tiongkok Xi selama pertemuan di Wisma Negara Diaoyutai di Beijing, pada 21 Juni 2018. (Fred Dufour-Pool / Getty Images)

Sebanyak 11 pejabat  dilaporkan terlibat korupsi di sejumlah wilayah dan bidang yang berbeda. Pejabat itu diantaranya, Li Yong, wakil ketua pengadilan rakyat tinggi, Provinsi Shandong, Ren Yongfei, ketua Pengadilan rakyat Yangpu, Shanghai dan Wu Junding, mantan Sekretaris Biro Statistik Tianjin diselidiki. Di antara mereka, Ren Yongfei adalah bawahan dari mantan kepala Jaksa Agung Shanghai Chen Xu yang telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Pada saat ini, Xi Jinping memukul harimau akan sedikit banyak memberikan efek kejut bagi pejabat komunis Tiongkok. Jelas sekali pesan yang ingin disampaikan Xi Jinping dalam memukul harimau seperti tersebut di atas.  Memberi efek kejut pada harimau atau pejabat korup, jelas karena ada “harimau”-nya dan perlu diperingatkan. 

Xi Jinping baru-baru ini melontarkan serangkaian peringatan yang mengejutkan. Saat berkunjung ke Nepal pada 13 Oktober 2019,  Xi Jinping tiba-tiba memperingatkan bahwa mereka yang mencoba memecah belah Tiongkok akan “dihancurkan.”

Pada 2 Oktober 2019, jurnal komunis Tiongkok “Qiushi” merilis teks lama Xi Jinping, mencegah “bencana dari dalam” atau jajaran internal partai. Artikel itu mengatakan bahwa perlu untuk berani “revolusi diri”.

Pada 3 September 2019, dalam pidato di kelas pelatihan Sekolah Partai Komunis, Xi Jinping 58 kali menyebut tentang “pertarungan, siapa yang mau diperangi ?  

Mengingat politik komunis Tiongkok yang tidak transparan, sulit bagi dunia luar untuk melihat dengan jelas apa yang terjadi. Namun, dari berita internal yang mengalir keluar dari beberapa saluran, jelas terlihat terjadinya perpecahan internal komunis Tiongkok.

Hu Ping, editor kehormatan “beijing spring”, mengatakan kepada Voice of America. Otoritas Xi Jinping sedang menghadapi krisis kekuasaan terbesar sejak berkuasa. Xi Jinping khawatir sayap kiri internal partai akan “membuat kericuhan” dalam Sidang Pleno Keempat Komite Sental ke-19 Partai Komunis Tiongkok.

Dengan kata lain, pernyataan keras dan perang melawan harimau yang dilontarkan Xi Jinping bertujuan memberi efek kejut pada mereka yang berseberangan dalam tubuh partai, untuk memperkuat kekuasan dan wibawa kepemimpinan Xi Jinping. Xi jinping berusaha melewati krisis disaat menutupi keraguan dan ketidakpuasan semua pihak terhadapnya.

 Seperti yang diketahui, perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, yang telah berlangsung lebih dari setahun, masih belum menemukan titik temu. Kemunduran ekonomi Tiongkok secara keseluruhan, dan masalah Hong Kong telah menekan Beijing secara ekstrim. Tekanan terutama respon terhadap masalah itu, dan fluktuasi suara-suara ketidakpuasan dan kritik dalam partai.

 “Krisis”pertama : Perang Dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok

Selama setahun lebih berlangsungnya perang dagang yang belum berakhir, negosiasi tingkat tinggi antara kedua belah pihak telah dilakukan 13 putaran. 

Le Yucheng, wakil menteri luar negeri Komunis Tiongkok, mengatakan bahwa perundingan Amerika Serikat dengan Tiongkok telah membuat beberapa kemajuan besar. Menurut Le Yucheng “masalah apa pun akan selesai” selama saling menghormati.

Pejabat dari Departemen Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok mengatakan bahwa Tiongkok tidak akan menutup pintu untuk investasi asing hanya karena friksi perdagangan.

Trump juga mengatakan bahwa perjanjian Amerika Serikat dengan Tiongkok mengalami kemajuan yang sangat bagus. 

Baru-baru ini, Amerika Serikat dan Tiongkok telah “meniupkan udara hangat” dan diperkirakan akan mencapai “perjanjian perdagangan tahap pertama.” Ditilik dari argumen kedua belah pihak saat ini, tampaknya kesepakatan awal sudah di depan mata.

Tapi lancarnya di fase pertama, bukan berarti perjanjian ke depannya juga mulus. Seperti  diketahui, negosiasi selalu mudah di awal dan alot belakang. Saat ini, kedua negara belum memasuki  pembicaraan dan kesepakatan yang sangat alot. 

Sebagaimana yang diketahui, Amerika Serikat  telah meluncurkan sanksi tarif terutama karena masalah struktural kebijakan ekonomi dan perdagangan komunis Tiongkok. Itu merupakan kunci ketidakseimbangan serius antara Amerika Serikat dan Tiongkok. 

[3]
Jutaan pekerja Tiongkok terkena PHK pada tahun 2018 akibat perang dagang. (Getty Images)

Tapi bagian dari masalah itu, kedua belah pihak belum dapat mencapai kata sepakat. Karena perubahan dalam masalah struktural ekonomi dan perdagangan, itu melibatkan sistem politik komunis Tiongkok yang otomatis juga harus berubah, dan juga melibatkan distribusi kepentingan jajaran elite komunis Tiongkok. 

Itu adalah “simpul mati”. Akankah komunis Tiongkok menjulurkan lehernya menunggu ditebas?

“Krisis” kedua: Ekonomi macet

Di bawah dampak perang dagang, lumpuhnya ekonomi Tiongkok telah muncul satu per satu, dan tanda-tanda merosot sudah tampak jelas.

Pada 18 Oktober 2019, komunis Tiongkok mengumumkan tingkat pertumbuhan Product Domestic Bruto – PDB-nya di kuartal ketiga, menunjukkan pertumbuhan paling lambat dalam 27 tahun, hanya 6,0%. 

Media resmi komunis Tiongkok juga mengakui bahwa tingkat pertumbuhan tahunan di 2019 kemungkinan akan menjadi titik terendah dalam 30 tahun terakhir. Tetapi angka resmi dari komunis Tiongkok selalu dipoles sedemikian rupa, dan para ekonom jelas meragukan klaim yang dirilis pejabat komunis Tiongkok.

 Profesor Xiang Songzuo dari Renmin University of China-RUC mengatakan pada Jum’at, 18 Oktober 2019, bahwa pendapatan fiskal dan laba perusahaan menurun, dan angka 6% sebagaimana yang disebutkan itu “terlalu ditaksir terlalu tinggi”. 

Menurut Xiang Songzuo, sebagian besar pendapatan fiskal dan laba perusahaan adalah pertumbuhan negatif. Pendapatan pajak nasional juga mengalami pertumbuhan negatif dalam tiga kuartal pertama. Lalu bagaimana mungkin tingkat pertumbuhan PDB menjadi 6%?

Belum lama ini, data statistik dari pejabat Zhejiang menyebutkan bahwa dalam delapan bulan lalu, keuntungan perusahaan industri di atas skala nasional turun 1,7%. Di Beijing, Hebei, dan Shandong mengalami penurunan dua digit, dan Shanghai turun hampir 20%.

Trump mengatakan bahwa pertumbuhan PDB Tiongkok tidak mungkin 6, malahan  “mungkin negatif.”

 “Krisis” ketiga: Masalah Hong Kong sulit diselesaikan

Dalam aksi protes yang dipicu undang-undang ekstradisi yang dipaksakan pemerintah Hong Kong, Beijing tidak hanya salah menilai situasi perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok, tetapi juga salah menilai tekad perjuangan rakyat Hong Kong. 

Dari serangkaian ancaman Beijing, ketidakpedulian pemerintah dan kebrutalan polisi Hong Kong telah berkembang menjadi perjuangan demokrasi secara menyeluruh. Rakyat Hong Kong menuntut reformasi sistem politik, meningkatkan komponen demokrasi, dan menjamin “otonomi tingkat tinggi.”

Lebih penting lagi, Hong Kong telah menjadi bagian dari pembicaraan perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok. Trump meminta Beijing untuk “menyelesaikan secara manusiawi” masalah Hong Kong. 

Selain itu, Kongres Amerika Serikat juga menggodok Rancangan Undang Undang – RUU Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong. DPR telah meloloskan RUU tersebut dan akan diserahkan ke presiden untuk ditandatangani.

Sementara itu, Uni Eropa juga telah berulang kali menyuarakan masalah Hong Kong, membuat Hong Kong menjadi fokus perhatian banyak pihak. (jon)

Video Rekomendasi :