Untuk negara yang sangat kecil dengan volume ekspor rendah, secara teoritis dimungkinkan untuk mempertahankan surplus perdagangan jangka panjang. Tetapi untuk negara besar seperti Tiongkok, dengan 26 persen dari tenaga kerja dunia, pasar global terlalu kecil untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor jangka panjang. Bahkan, jika semua negara industri lainnya berhenti mengekspor. 

Dari sudut pandang keseimbangan ekonomi internasional, perdagangan hanya berkelanjutan jika kedua pihak mendapat manfaat darinya. Jika Tiongkok adalah satu-satunya pemenang dengan surplus perdagangan secara permanen di atas semua negara lain, apakah setiap negara mana memiliki kemampuan untuk terus mengimpor dari Tiongkok? Ini sama sekali tidak realistis. Jadi hanya tinggal menunggu waktu hingga pertumbuhan ekspor itu berakhir.

Tidak mengherankan, ekspor Tiongkok mulai melemah sekitar tahun 2012, dan ekspansi agresifnya di Amerika Serikat dan pelanggaran terhadap kekayaan intelektual Amerika Serikat menyebabkan perang perdagangan tahun lalu. 

Bagi Komunis Tiongkok, hal itu menandai akhir dari praktik bertahun-tahun mengumpulkan cadangan devisa melalui ratusan miliar dolar AS surplus perdagangan dengan Amerika Serikat. Kalau dipikir-pikir, perang dagang itu sangat mudah diprediksi akan terjadi.

data palsu pertumbuhan ekonomi
Investor memonitor layar yang menunjukkan pergerakan pasar saham di sebuah rumah broker di Shanghai, pada 1 September 2015. (Johannes Eisele / AFP / Getty Images)

Sekarang mari kita lihat bagaimana gelembung real estate terjadi. Komunis Tiongkok mulai mendorong pengembangan real estate pada 2008 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Dalam dekade terakhir, inflasi yang cepat dari gelembung real estate telah menyebabkan pasar di mana pasokan jauh melebihi permintaan. Itu juga menciptakan rantai industri yang dikembangkan secara abnormal pada sektor real estate. 

Pemerintah daerah meningkatkan utang untuk membangun infrastruktur yang memungkinkan pengembangan real estate. Ada juga potensi krisis keuangan yang muncul. Dikarenakan, ketergantungannya pada real estate di antara bank dan pemberi pinjaman swasta. Hari ini strategi pertumbuhan yang dipimpin oleh real estate telah berakhir.

Perdagangan

Komunis Tiongkok kerap mengingatkan dunia bahwa populasi lebih dari satu miliar di Tiongkok sama dengan potensi konsumsi tinggi. Yang mana, mampu memacu dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, komunitas bisnis Tiongkok justru merasa khawatir karena mereka tidak melihat peluang bisnis. 

Sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa mereka menyaksikan terwujudnya akibat pahitnya dari kebijakan real estate Komunis Tiongkok yang tidak bertanggung jawab.

Tingginya harga perumahan akibat gelembung real estate telah lama menghancurkan daya beli konsumen Tiongkok. Ketakutan Komunis Tiongkok akan krisis keuangan yang parah telah menempatkan ekonomi Tiongkok pada jungkat-jungkit yang berbahaya, dengan gelembung real estate di satu sisi dan konsumsi domestik di sisi lainnya. 

Ketika menyulap dengan menambah dan mengurangi dari dua faktor, Beijing mengeluarkan janji hampa tentang merangsang ekonomi dengan konsumsi.

Share

Video Popular