Untuk lebih spesifik, jika harga rumah terus tumbuh yakni menjadi lebih tidak terjangkau, maka konsumen tidak punya pilihan selain mengurangi pengeluaran. Tentunya, akan menyebabkan konsumsi yang lebih rendah. 

Di sisi lain jika harga rumah turun secara signifikan, bank akan dibanjiri dengan utang macet, sementara peminjam hipotek akan pada posisi utang lebih tinggi dari nilai rumah. Untuk diketahui, Hipotek adalah mortgage yaitu instrumen utang dengan pemberian hak tanggungan atas properti dan peminjam kepada pemberi pinjaman sebagai jaminan terhadap kewajibannya. 

Dalam hal ini, meskipun pembeli real estate baru mungkin memiliki daya konsumsi yang lebih tinggi karena harga perumahan yang lebih rendah, kelas menengah yang sering memiliki banyak properti akan mengalami kehilangan aset besar.  Hingga mengarah kepada jungkat-jungkit yang condong ke arah berlawanan. 

Sisi mana pun yang lebih rendah, itu hanya dua skenario, kesulitan ekonomi yang berbeda, dan tidak satu pun akan mengarah ke jalan keluar dari dilema.

Konsumsi Rumah Tangga yang Menekan Utang

Lembaga Penelitian Bank Tiongkok mengakui dalam laporan 25 September bahwa “tekanan ke bawah pada ekonomi Tiongkok telah meningkat secara signifikan” karena “permintaan domestik yang lemah.”

Sejak Tahun 2015, rasio utang rumah tangga konsumen Tiongkok ke pendapatan sekali pakai  dengan cepat naik dari 89 persen menjadi 120 persen, dengan peningkatan tahunan sebesar 10 persen. Rasio ini tampaknya menjadi metrik tabu di Tiongkok, dengan para peneliti sering mengkombinasikan rumah tangga dengan utang dan mereka yang tidak mendapatkan rasio utang yang lebih rendah.

Namun, Financial Times Tiongkok mengungkapkan pada bulan April bahwa survei tahun 2017 mengungkapkan bahwa Rasio Cakupan Utang atau Debt Service Coverage Ratio -DSCR- konsumen Tiongkok lebih tinggi daripada negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Prancis, dan Jerman. Bagi banyak keluarga urban Tiongkok, sebagian besar kewajiban pembayaran utang  telah menekan anggaran mereka.

Rekening pembelian mobil hanya sebagian kecil dari utang rumah tangga. Menurut Chinese People’s Bank, 61,4 persen dari pinjaman tahunan 52,8 triliun yuan untuk penduduk adalah pinjaman jangka menengah/ jangka panjang konsumtif, atau hipotek perumahan. 

Ilustrasi properti (Fotolia)

Tidak mengherankan, orang Tiongkok meminjam terutama untuk membeli real estate. Ketika harga rumah yang tinggi dan hipotek mengeringkan dompet konsumen Tiongkok, daya konsumsi secara alami layu. Tidak hanya generasi Millenial Tiongkok yang terkena dampaknya, orangtua mereka juga menderita karena mereka sering harus membantu mendanai uang muka.

Stabilkan Perekonomian dengan Jungkat-jungkit?

Hari ini strategi Komunis Tiongkok adalah menjaga level jungkat-jungkit. Di satu sisi, Beijing telah berusaha mengendalikan harga perumahan untuk menghindari menekan daya beli, di sisi lain, Komunis Tiongkok telah meluncurkan berbagai kebijakan. Misalnya saja, kendaraan bahan bakar alternatif, insentif pembelian mobil pedesaan, dan promosi untuk upgrading peralatan. Tujuannya, untuk merangsang pengeluaran konsumen.

Akan tetapi seperti yang dikatakan media resmi Komunis Tiongkok, kebijakan stimulus seperti itu jauh kurang efektif dari yang diharapkan. Sederhananya, orang-orang Tiongkok harus mengambil terlalu banyak utang untuk meningkatkan konsumsi secara bertahap.

Tidak diragukan lagi, permainan jungkat-jungkit akan menghasilkan sedikit peningkatan bagi perekonomian. Setiap anak yang pernah bermain jungkat-jungkit akan mengetahui betapa sulitnya untuk mempertahankan level papan. 

Namun, Komunis Tiongkok benar-benar tidak memiliki cara lain untuk mencoba membangun kembali ekonomi.

Pada hari ini di Tiongkok, tren ekonomi yang menurun telah menjadi masalah tanpa solusi yang jelas. Perlambatan ekonomi akan menjadi lebih serius pada waktunya. Bagi Komunis Tiongkok, kesulitan ekonomi yang menjengkelkan telah menjadi norma baru yang tidak ingin diakui oleh Komunis Tiongkok. (asr)

Cheng Xiaonong seorang peneliti kebijakan dan bekas ajudan mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Zhao Ziyang saat menjabat sebagai Perdana Menteri Tiongkok. Ia adalah pemimpin redaksi jurnal Modern China Studies. 

Share

Video Popular