- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Dilema Pertumbuhan : Tiongkok dalam Jungkat-jungkit Ekonomi Ala Komunis Tiongkok

oleh Dr. Cheng Xiaonong

Penurunan ekonomi Tiongkok adalah konsekuensi alami dari upaya  Komunis Tiongkok yang buta dan tak kenal menyerah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hari-hari kemakmuran sudah berlalu, sementara itu didorong oleh ekspor dan harga real estate.  

Sekarang Beijing berusaha mati-matian untuk mempertahankan ekonomi dengan mengeluarkan jurus permainan jungkat-jungkit yang sangat berbahaya, antara melonjaknya harga perumahan dan penurunan konsumsi.

Langkah Komunis Tiongkok itu adalah upaya terakhir yang tak memuaskan dan tak efektif. Pasalnya, akan gagal menghentikan atau menyembunyikan perlambatan ekonomi Tiongkok yang semakin kentara.

Dari Kepuasan Pertumbuhan yang Tak Terkendali ke Dilema Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi suatu negara bergantung pada tiga faktor, sering disebut sebagai tiga kereta kuda. Ketiganya adalah ekspor, konsumsi, dan investasi. 

Sejatinya, pertumbuhan ekonomi akan melambat secara signifikan ketika satu atau dua kuda kehilangan mobilitas. Jika ketiganya gagal, ekonomi tidak bisa melangkah jauh.

Ekonomi Tiongkok saat ini seperti kereta tanpa kuda. Karena kemerosotan terbaru dari hubungan Tiongkok-AS, ekspor Tiongkok telah menderita kerugian yang signifikan dengan volume ekspor Agustus turun 4,3 persen dibandingkan tahun lalu. Penurunan itu adalah yang pertama dalam hampir tiga tahun terakhir. 

[1]
Apa saja dampak ekonomi Tiongkok terhadap ekonomi dunia tahun 2019 ? (AFP)

Sementara itu, investasi dan konsumsi juga gembos. Pertumbuhan investasi real estate telah melambat selama empat bulan berturut-turut. Sedangkan aktivitas manufaktur pada bulan Agustus turun 1,6 persen dibandingkan pada tahun lalu. 

Daya beli konsumen juga telah melemah. Sementara otoritas Komunis Tiongkok harus mengakui tren penurunan. Mereka tak mau mengakui bahwa kegilaan masa lalu untuk pertumbuhan tinggi adalah penyebab sebenarnya dari penurunan hari ini. 

Pertama-tama mari kita membahas demam emas absurditas ekspor Tiongkok. 

Setelah Tiongkok bergabung dengan WTO pada tahun 2001 silam, Tiongkok mengandalkan ekspor untuk meningkatkan ekonominya. Antara Tahun 2003 dan 2007, ekspor Tiongkok meningkat menjadi 25 persen setiap tahun.

Ketergantungan perdagangan luar negeri Tiongkok  atau disebut Foreign Trade Dependence -FTD – sebuah rasio jumlah total perdagangan luar negeri suatu negara terhadap PDB, melonjak dari 38,5 persen pada Tahun 2001 silam menjadi 67 persen pada Tahun 2006. Angka itu lebih dari empat kali lebih tinggi dari puncak foreign trade dependence menjelang akhir negara itu pada era gelembung harga aset. 

Mabuk kepayang dengan kemakmurannya yang didapat dengan mudah, Komunis Tiongkok tidak menyadari bahwa pertumbuhan yang bergantung pada ekspor tidak hanya tidak berkelanjutan, tetapi juga sangat rapuh.

Bisakah suatu negara mempertahankan tingkat pertumbuhan ekspor tahunan 25 persen selama beberapa dekade? Tentu saja tidak. 

Untuk negara yang sangat kecil dengan volume ekspor rendah, secara teoritis dimungkinkan untuk mempertahankan surplus perdagangan jangka panjang. Tetapi untuk negara besar seperti Tiongkok, dengan 26 persen dari tenaga kerja dunia, pasar global terlalu kecil untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor jangka panjang. Bahkan, jika semua negara industri lainnya berhenti mengekspor. 

Dari sudut pandang keseimbangan ekonomi internasional, perdagangan hanya berkelanjutan jika kedua pihak mendapat manfaat darinya. Jika Tiongkok adalah satu-satunya pemenang dengan surplus perdagangan secara permanen di atas semua negara lain, apakah setiap negara mana memiliki kemampuan untuk terus mengimpor dari Tiongkok? Ini sama sekali tidak realistis. Jadi hanya tinggal menunggu waktu hingga pertumbuhan ekspor itu berakhir.

Tidak mengherankan, ekspor Tiongkok mulai melemah sekitar tahun 2012, dan ekspansi agresifnya di Amerika Serikat dan pelanggaran terhadap kekayaan intelektual Amerika Serikat menyebabkan perang perdagangan tahun lalu. 

Bagi Komunis Tiongkok, hal itu menandai akhir dari praktik bertahun-tahun mengumpulkan cadangan devisa melalui ratusan miliar dolar AS surplus perdagangan dengan Amerika Serikat. Kalau dipikir-pikir, perang dagang itu sangat mudah diprediksi akan terjadi.

data palsu pertumbuhan ekonomi [2]
Investor memonitor layar yang menunjukkan pergerakan pasar saham di sebuah rumah broker di Shanghai, pada 1 September 2015. (Johannes Eisele / AFP / Getty Images)

Sekarang mari kita lihat bagaimana gelembung real estate terjadi. Komunis Tiongkok mulai mendorong pengembangan real estate pada 2008 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Dalam dekade terakhir, inflasi yang cepat dari gelembung real estate telah menyebabkan pasar di mana pasokan jauh melebihi permintaan. Itu juga menciptakan rantai industri yang dikembangkan secara abnormal pada sektor real estate. 

Pemerintah daerah meningkatkan utang untuk membangun infrastruktur yang memungkinkan pengembangan real estate. Ada juga potensi krisis keuangan yang muncul. Dikarenakan, ketergantungannya pada real estate di antara bank dan pemberi pinjaman swasta. Hari ini strategi pertumbuhan yang dipimpin oleh real estate telah berakhir.

Perdagangan

Komunis Tiongkok kerap mengingatkan dunia bahwa populasi lebih dari satu miliar di Tiongkok sama dengan potensi konsumsi tinggi. Yang mana, mampu memacu dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, komunitas bisnis Tiongkok justru merasa khawatir karena mereka tidak melihat peluang bisnis. 

Sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa mereka menyaksikan terwujudnya akibat pahitnya dari kebijakan real estate Komunis Tiongkok yang tidak bertanggung jawab.

Tingginya harga perumahan akibat gelembung real estate telah lama menghancurkan daya beli konsumen Tiongkok. Ketakutan Komunis Tiongkok akan krisis keuangan yang parah telah menempatkan ekonomi Tiongkok pada jungkat-jungkit yang berbahaya, dengan gelembung real estate di satu sisi dan konsumsi domestik di sisi lainnya. 

Ketika menyulap dengan menambah dan mengurangi dari dua faktor, Beijing mengeluarkan janji hampa tentang merangsang ekonomi dengan konsumsi.

Untuk lebih spesifik, jika harga rumah terus tumbuh yakni menjadi lebih tidak terjangkau, maka konsumen tidak punya pilihan selain mengurangi pengeluaran. Tentunya, akan menyebabkan konsumsi yang lebih rendah. 

Di sisi lain jika harga rumah turun secara signifikan, bank akan dibanjiri dengan utang macet, sementara peminjam hipotek akan pada posisi utang lebih tinggi dari nilai rumah. Untuk diketahui, Hipotek adalah mortgage yaitu instrumen utang dengan pemberian hak tanggungan atas properti dan peminjam kepada pemberi pinjaman sebagai jaminan terhadap kewajibannya. 

Dalam hal ini, meskipun pembeli real estate baru mungkin memiliki daya konsumsi yang lebih tinggi karena harga perumahan yang lebih rendah, kelas menengah yang sering memiliki banyak properti akan mengalami kehilangan aset besar.  Hingga mengarah kepada jungkat-jungkit yang condong ke arah berlawanan. 

Sisi mana pun yang lebih rendah, itu hanya dua skenario, kesulitan ekonomi yang berbeda, dan tidak satu pun akan mengarah ke jalan keluar dari dilema.

Konsumsi Rumah Tangga yang Menekan Utang

Lembaga Penelitian Bank Tiongkok mengakui dalam laporan 25 September bahwa “tekanan ke bawah pada ekonomi Tiongkok telah meningkat secara signifikan” karena “permintaan domestik yang lemah.”

Sejak Tahun 2015, rasio utang rumah tangga konsumen Tiongkok ke pendapatan sekali pakai  dengan cepat naik dari 89 persen menjadi 120 persen, dengan peningkatan tahunan sebesar 10 persen. Rasio ini tampaknya menjadi metrik tabu di Tiongkok, dengan para peneliti sering mengkombinasikan rumah tangga dengan utang dan mereka yang tidak mendapatkan rasio utang yang lebih rendah.

Namun, Financial Times Tiongkok mengungkapkan pada bulan April bahwa survei tahun 2017 mengungkapkan bahwa Rasio Cakupan Utang atau Debt Service Coverage Ratio -DSCR- konsumen Tiongkok lebih tinggi daripada negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Prancis, dan Jerman. Bagi banyak keluarga urban Tiongkok, sebagian besar kewajiban pembayaran utang  telah menekan anggaran mereka.

Rekening pembelian mobil hanya sebagian kecil dari utang rumah tangga. Menurut Chinese People’s Bank, 61,4 persen dari pinjaman tahunan 52,8 triliun yuan untuk penduduk adalah pinjaman jangka menengah/ jangka panjang konsumtif, atau hipotek perumahan. 

[3]
Ilustrasi properti (Fotolia)

Tidak mengherankan, orang Tiongkok meminjam terutama untuk membeli real estate. Ketika harga rumah yang tinggi dan hipotek mengeringkan dompet konsumen Tiongkok, daya konsumsi secara alami layu. Tidak hanya generasi Millenial Tiongkok yang terkena dampaknya, orangtua mereka juga menderita karena mereka sering harus membantu mendanai uang muka.

Stabilkan Perekonomian dengan Jungkat-jungkit?

Hari ini strategi Komunis Tiongkok adalah menjaga level jungkat-jungkit. Di satu sisi, Beijing telah berusaha mengendalikan harga perumahan untuk menghindari menekan daya beli, di sisi lain, Komunis Tiongkok telah meluncurkan berbagai kebijakan. Misalnya saja, kendaraan bahan bakar alternatif, insentif pembelian mobil pedesaan, dan promosi untuk upgrading peralatan. Tujuannya, untuk merangsang pengeluaran konsumen.

Akan tetapi seperti yang dikatakan media resmi Komunis Tiongkok, kebijakan stimulus seperti itu jauh kurang efektif dari yang diharapkan. Sederhananya, orang-orang Tiongkok harus mengambil terlalu banyak utang untuk meningkatkan konsumsi secara bertahap.

Tidak diragukan lagi, permainan jungkat-jungkit akan menghasilkan sedikit peningkatan bagi perekonomian. Setiap anak yang pernah bermain jungkat-jungkit akan mengetahui betapa sulitnya untuk mempertahankan level papan. 

Namun, Komunis Tiongkok benar-benar tidak memiliki cara lain untuk mencoba membangun kembali ekonomi.

Pada hari ini di Tiongkok, tren ekonomi yang menurun telah menjadi masalah tanpa solusi yang jelas. Perlambatan ekonomi akan menjadi lebih serius pada waktunya. Bagi Komunis Tiongkok, kesulitan ekonomi yang menjengkelkan telah menjadi norma baru yang tidak ingin diakui oleh Komunis Tiongkok. (asr)

Cheng Xiaonong seorang peneliti kebijakan dan bekas ajudan mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Zhao Ziyang saat menjabat sebagai Perdana Menteri Tiongkok. Ia adalah pemimpin redaksi jurnal Modern China Studies.