Chris Ford – The BL

Tidak ada yang mengira menderita Hepatitis C menjadi hal yang baik. Bahkan, menjadi  berkah tersendiri bagi seseorang serta menyelamatkan hidupnya. Setelah penangkapan ilegalnya pada tahun 2000 di Tiongkok karena berlatih Falun Gong, Jennifer Zeng menjalani interogasi secara intensif mengenai catatan kesehatannya di Kamp Kerja Paksa di Kabupaten Daxing, Tiongkok.

Dalam sebuah wawancara dengan Televisi Amerika Serikat, Fox News belum lama ini, Jennifer Zeng menggambarkan bagaimana dia secara intensif ditanyai tentang kesehatannya. Ia menyampaikan kepada pihak berwenang bahwa dia menderita hepatitis C sebelum mulai berlatih Falun Gong. 

Sampel darahnya kemudian diambil, dan sepertinya dia lolos dari kehilangan organnya untuk dijual kepada orang-orang kaya dari seluruh dunia, yang mana secara mati-matian menunggu transplantasi organ di Tiongkok.

Zeng kepada Fox News juga mengatakan, Dua belas hari kemudian teman satu selnya meninggal dunia karena dicekoki makanan secara paksa.  Ia menambahkan, pernah mengalami hepatitis C mungkin tidak memenuhi syarat baginya sebagai donor organ.

Seperti diwartakan oleh The BL, selama hampir dua dekade, rezim Komunis Tiongkok telah memenjarakan sebagian besar pengikut Falun Gong. Tak hanya itu, kelompok agama minoritas lainnya juga menjadi sasaran  pengambilan organ mereka. 

Para korban seringkali masih bernyawa sebelum organ-organ tubuh mereka dikeluarkan secara paksa. Berkali-kali tanpa obat bius. Kengerian tersebut telah ditutupi rapat-rapat oleh rezim Komunis Tiongkok, dan sangat sulit untuk dibuktikan. Begitulah kejadian mengerikan itu hingga sekarang.

Warga melintasi spanduk saat kegiatan Praktisi Falun Gong atau Falun Dafa dari sejumlah wilayah di Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang mengelar peringatan permohonan damai 25 April 1999 di depan kedutaan Besar Tiongkok di Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu 20 April 2019

Tribunal Tiongkok, yang diprakarsai oleh  International Coalition to End Transplant Abuse in China -ETAC- atau Koalisi Internasional untuk Mengakhiri Penyalahgunaan Transplantasi di Tiongkok adalah pengadilan rakyat internasional yang independen. Pengadilan telah menguji semua bukti yang tersedia selama 12 bulan. Dengan suara bulat menyimpulkan, “Komisi Kejahatan Terhadap Kemanusiaan melawan Falun Gong dan Uighur telah terbukti tanpa keraguan.”

Para penyelidik menanyai lebih dari 50 saksi, ahli, penyelidik, dan analis dalam audiensi publik yang diadakan pada bulan April dan pada bulan Desember 2018 lalu. Pengadilan juga mengevaluasi pengajuan tertulis, laporan investigasi, dan makalah akademis.

Ketua Pengadilan itu adalah Sir Geoffrey Nice, yang sebelumnya memimpin penuntutan Slobodan Milosevic dalam Pengadilan Kriminal Internasional di Yugoslavia. Dia menyatakan bahwa dengan “kepastian, di Tiongkok, pengambilan organ secara paksa dari tahanan hati nurani telah dipraktikkan untuk periode waktu yang substansial.”

Sir Geoffrey Nice mengungkapkan, “Waktu tunggu yang sangat singkat untuk organ tersedia untuk transplantasi. Pengambilan organ secara paksa adalah kejahatan yang tak tertandingi – berdasarkan kematian untuk kematian – dengan pembunuhan oleh kejahatan massal yang dilakukan pada abad ini.” 

Bisnis transplantasi yang berkembang di Tiongkok diperkirakan bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS per tahun, dan banyak bukti disampaikan oleh pengadilan.

“Pengambilan organ secara paksa telah dilakukan selama bertahun-tahun, dan praktisi Falun Gong telah menjadi salah satu – dan mungkin – sumber utama pasokan organ,” demikian bunyi laporan itu menyimpulkan. Isi laporan merujuk pada industri transplantasi yang tumbuh pesat sudah bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS per tahun.

Namun, ledakan transplantasi organ di Tiongkok dari tahun 2000, bersama-sama dengan laporan dari ribuan turis transplantasi yang pergi ke Tiongkok untuk membeli organ, menunjukkan pasokan organ yang lebih besar daripada yang dapat diperoleh dari penjahat yang dieksekusi sendirian,” seperti diungkapkan Tribunal Tiongkok.

Share

Video Popular