- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Parlemen Inggris Membahas RUU untuk Memerangi Pariwisata dan Perdagangan Transplantasi Organ Ilegal dan Tak Wajar

Nicole Hao – The Epochtimes

Sebagai upaya untuk menghentikan perdagangan organ ilegal, Parlemen Inggris baru-baru ini menggelar pembacaan pertama Rancangan Undang-Undang -RUU-  yang akan melarang warga Inggris bepergian ke luar negeri untuk menerima transplantasi organ ilega. Yang mana donor tidak secara eksplisit memberikan persetujuan, atau menerima operasi transplantasi di mana organ itu dibeli.

Seperti dilaporkan The Epochtimes edisi Amerika Serikat pada 30 Oktober, RUU tersebut di House of Lords atau majelis tinggi Parlemen Britania Raya melalui pembacaan kedua, tahap komite, tahap laporan, dan bacaan ketiga. 

Setelah itu, RUU tersebut dibawa ke House of Commons atau Dewan Rakyat Parlemen Britania Raya untuk proses yang sama, setelah itu akan menerima persetujuan resmi dari kerajaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti dan dokter telah membunyikan alarm tentang pengambilan organ secara paksa yang disponsori negara di Tiongkok. Di mana para tahanan hati nurani – banyak dari mereka adalah praktisi dari kelompok spiritual Falun Gong yang dianiaya. Organ mereka diambil tanpa persetujuan, kemudian dijual untuk keuntungan pasien medis yang membutuhkan transplantasi organ.

Juni ini, pengadilan orang independen berkumpul di London dan menyimpulkan setelah satu tahun penyelidikan bahwa pengambilan organ secara paksa telah terjadi di Tiongkok selama bertahun-tahun “dalam skala yang signifikan.”

[1]
Selama rapat umum yang diikuti oleh ribuan praktisi Falun Gong di Taipei 23 April 2006, empat demonstran memperagakan dalam sebuah drama aksi melawan apa yang mereka katakan adalah pembunuhan komunis Tiongkok terhadap pengikut Falun Gong dan pengambilan organ mereka di kamp konsentrasi. (Patrick Lin / AFP / Getty Images)

RUU Memerangi Pariwisata dan Perdagangan Transplantasi Organ Ilegal

RUU ini merupakan amandemen dari Bagian 32 dari Human Tissue Act Tahun 2004, yang melarang transaksi komersial dalam materi manusia untuk transplantasi.

Rancangan yang baru menambahkan persyaratan tambahan untuk operasi transplantasi organ : jika organ tersebut disumbangkan, pasien harus mendapatkan persetujuan khusus dari donor yang masih hidup atau keluarga terdekat dari donor sebelum mereka bepergian ke luar Inggris untuk menerima operasi transplantasi.Jika organ tidak disumbangkan, pasien akan dilarang mendapatkan organ melalui kompensasi finansial atau bentuk lainnya.

Untuk pasien yang menerima operasi transplantasi di Inggris dengan organ yang diimpor, RUU tersebut memberikan persyaratan persetujuan yang sama seperti saat pengadaan organ dari dalam Inggris. RUU itu berlaku untuk warga negara Inggris yang tinggal di dalam negeri dan di luar negeri, residen Inggris, serta warga negara Inggris di luar negeri.

Hukuman

Setiap pasien yang menerima operasi transplantasi dengan organ yang terlarang, dan orang-orang terkait yang terlibat dalam operasi, akan menghadapi hukuman di Inggris. 

Jika dinyatakan bersalah di pengadilan rendah, pelanggar dapat dihukum hingga 12 bulan penjara dan/atau dikenai denda. Jika dinyatakan bersalah di pengadilan tinggi, pelanggar menghadapi hukuman penjara hingga sembilan tahun dan/atau dikenai denda.

Untuk melacak kejahatan, RUU itu meminta agar dokter dan profesional medis menyimpan catatan untuk semua kejadian warga negara Inggris yang telah menerima prosedur transplantasi yang dilakukan di luar Inggris, dan melaporkan kasus-kasus tersebut ke lembaga National Health Service (NHS) Blood and Transplant.

Setiap tahun, National Health Service (NHS) Blood and Transplant diharuskan untuk menghasilkan laporan tentang contoh warga negara Inggris yang menerima prosedur transplantasi di luar Inggris.

Tren di Eropa

Negara-negara Eropa lainnya dan Uni Eropa sebelumnya telah berusaha melarang pariwisata transplantasi ilegal. Hingga mengutuk rezim Komunis Tiongkok karena praktik pengambilan organnya.

Belgia mengeluarkan undang-undang pada bulan April lalu untuk menghukum warga negara Belgia dan setiap orang yang terlibat dalam pembelian dan penjualan organ manusia untuk tujuan komersial, terlepas dari mana dan di mana transaksi itu dilakukan.

Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi pada Desember 2013 silam, yang mengutuk Komunis Tiongkok karena praktiknya yang mengerikan. Parlemen Eropa menyatakan “keprihatinan mendalam atas laporan yang gigih dan kredibel tentang pengambilan organ secara sistematis, yang disetujui negara dari tahanan hati nurani yang tidak konseling di Republik Rakyat Tiongkok, termasuk dari sejumlah besar Praktisi Falun Gong dipenjara karena keyakinan agama mereka, dan anggota kelompok agama dan etnis minoritas lainnya.” 

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual Tiongkok tradisional dengan ajaran moral berdasarkan Sejati-Baik-Sabar.  Latihan itu diperkenalkan kepada publik Tiongkok pada tahun 1992, latihan ini segera menjadi populer, dengan perkiraan resmi sekitar 100 juta praktisi di daratan Tiongkok pada tahun 1999. 

Khawatir popularitas itu mengancam otoritas rezim Komunis Tiongkok, pemimpin Komunis Tiongkok Jiang Zemin meluncurkan penganiayaan Falun Gong di seluruh negeri. Pada Juli 1999, para pengikutnya dilempar secara paksa ke fasilitas penahanan, kamp kerja paksa, dan pusat pencucian otak dalam upaya untuk memberantas keyakinan mereka.

[2]
Foto: “Kejahatan Organ,” judul sebuah lukisan cat minyak yang dilukis oleh Xiqiang Dong yang menggambarkan pengambilan organ secara paksa dari seorang praktisi Falun Dafa yang masih hidup di Tiongkok. (Atas perkenan Xiqiang Dong)

Pada tahun 2006, saksi mata pertama memberikan laporan kepada publik tentang bagaimana praktisi Falun Gong yang dipenjara diambil organ secara paksa dan dibunuh dalam proses tersebut. 

Sejak itu, para peneliti independen telah menerbitkan beberapa laporan investigasi yang mengkonfirmasi dugaan tersebut, termasuk LSM internasional, NGO Doctors Against Forced Organ Harvesting  dan Organisasi Dunia untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong.

Pengadilan yang bermarkas di London, diketuai oleh Sir Geoffrey Nice yang sebelumnya memimpin penuntutan terhadap mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic di Pengadilan Kejahatan Internasional, dengan suara bulat menyimpulkan bahwa tahanan hati nurani telah  dan terus – dibunuh di Tiongkok untuk organ mereka.  Pengadilan Tribunal Tiongkok meninjau barang bukti, termasuk kesaksian dari lebih dari 50 saksi yang diberikan pada dua audiensi.

Ada juga semakin banyak laporan dari Muslim Uighur yang selamat dari penahanan di dalam kamp “pendidikan ulang” di wilayah Xinjiang. Dilaporkan, bahwa pihak berwenang menargetkan mereka untuk pengambilan organ.

Dalam sebuah wawancara Oktober 2018 dengan The Epoch Times edisi Amerika Serikat, seorang warga negara Kazakhstan berusia 54 tahun dan mantan tahanan di sebuah kamp di Urumqi mengatakan, bahwa pihak berwenang membagi para tahanan menjadi dua kelompok: mereka yang memiliki atau tanpa anggota keluarga di luar negeri.

Wanita itu mengungkapkan, Rezim Tiongkok meningkatkan bisnis pengambilan organ mereka, sehingga mereka akan membunuh mereka yang tidak memiliki siapa pun di luar negeri, tanpa ada yang mempertanyakan atau bertanya tentang mereka.

Resolusi Parlemen Eropa menyerukan kepada Komunis Tiongkok untuk segera menghentikan pengambilan organ secara paksa dan membebaskan “semua tahanan hati nurani di Tiongkok, termasuk para praktisi Falun Gong.” (asr)