Yuqang – Epochtimes.com

“Kebaikan, keadilan, dan kegigihan orang-orang Hong Kong sedang mengubah dunia. Guo Jun, pemimpin redaksi the Epoch Times Hong Kong, menyatakan selama tiga bulan terakhir, telah melaporkan kepada dunia tentang fakta sebenarnya dalam aksi anti-ekstradisi dan krisis Hong Kong. Komunis Tiongkok adalah macan kertas. Kali ini komunis Tiongkok akan gagal di Hong Kong. Dan ‘Tembok Berlin’ yang terakhir akan dihancurkan di sini.

Dalam beberapa bulan terakhir, para wartawan garis depan the Epoch Times dan New Tang Dynasty Television dengan gigih melaporkan secara langsung dan wawancara eksklusif di lini pertama pada akhir pekan. Laporan saat ada peristiwa besar seperti terjun langsung di lapangan dalam aksi protes anti-ekstradisi di Hong Kong. 

Selain mewawancarai anggota Dewan Legislatif Hong Kong, pakar dan cendekiawan, pekerja sosial, selebriti dan demonstran, juga secara online mewawancarai sejumlah komentator Hong Kong. Para wartawan itu, melaporkan di garis depan Hong Kong, melalui TV satelit, TV kabel, surat kabar, YouTube, Facebook, Twitter, dan platform lainnya, dengan cepat diteruskan ke komunitas internasional.

Mafia komunis Tiongkok mengelola negara

Sudah bukan rahasia lagi, komunis Tiongkok tidak hanya diktator kejam, tetapi juga mesin nasional yang besar dan murahan. Nineteen Eighty-Four atau 1984, buku karya George Orwell, novel ini, selain sebagai kritik juga sebagai kekecewaan Orwell terhadap rezim keji komunisme yang memanfaatkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan dan cita-cita sosialisme itu sendiri. 

Buku itu kini menggambarkan kondisi komunis Tiongkok yang membuat berita palsu dan pencucian otak serta temperamennya yang menghancurkan musuh politik dengan segala cara, yang kini sedang dipentaskan di Hong Kong. Buku itu juga sebagai indikator penting apakah negara itu dapat bergerak menuju masa depan yang makmur.

“Perintis reformasi” modern Liang Qichao dalam tulisannya “On the Young China” menyebutkan secara langsung bahwa “anak-anak muda” yang dapat menciptakan masa depan adalah landasan kemajuan Tiongkok.

“Kawula mudanya arif bijaksana, negara juga arif bijaksana, kawula mudanya kaya, negara juga kaya, kawula mudanya kuat, negara kuat, kawula mudanya mandiri, negara juga mandiri, kawula mudanya maju, negara ikut maju,” tulis Liang Qichao.

Namun, komunis Tiongkok justeru mengekspor kekerasan ke Hong Kong. Menggunakan cara-cara mafia mengelola negara, semena-mena menindas kawula muda yang dapat membawa kemakmuran bagi Tiongkok, mencoba merobohkan mereka dengan kapak dan mengiris jiwa-jiwa muda yang berharga dengan arit.

Di tengah-tengah krisis hidup dan mati, sekelompok pemuda-pemudi berdiri di garis depan tanpa peduli dengan nyawanya. Orang-orang Hong Kong yang tersentuh dengan tekad juang mereka juga secara spontan membagikan informasi dan video ke dunia luar, dan meluncurkan petisi dengan mengumpulkan tanda tangan di situs web Gedung Putih. 

Di hadapan prinsip benar dan salah, orang-orang Hong Kong yang sadar bahwa Tiongkok tidak sama dengan Komunis Tiongkok, dimana pada saat yang paling berbahaya, menunjukkan semangat kebebasan yang paling berharga dan solid bagi dunia dan daratan Tiongkok.

Pendidikan nasional cuci otak

Pada 13 Oktober 2019, “The Epoch Times” melaporkan tentang “Forum Selat”yang dihadiri Fan Shiping, profesor di Fakultas Ilmu Politik Universitas Normal Nasional Taiwan. Dalam forum itu, professor Fan Shiping berbicara tentang orang-orang Hong Kong telah berubah dari kekecewaan menjadi kemarahan terhadap pemerintah komunis Tiongkok dan sekarang menjadi tragedi yang menyedihkan.

Suasana tragis itu bersumber dari satu hal yang membuat anak-anak muda Hong Kong yang memang tidak berniat menjadi pahlawan itu dipaksa melakukan perlawanan oleh rezim tirani. 

Tidak peduli “Peace movement” atau gerakan perdamaian atau “Valiant Frontier” yakni organisasi politik lokal yang didirikan di Hong Kong pada Juni 2014, yang mengadvokasi kemerdekaan Hong Kong melalui pemberontakan dan revolusi. Mereka dipaksa untuk maju, bukannya secara spontan memakai topeng, mengenakan kaos hitam, dan meletakkan catatan bunuh diri di saku mereka.

Kawanan oknum berkaos putih menghajar para demonstran, polisi Hong Kong menyamar sebagai demonstran, tentara pembebasan rakyat komunis Tiongkok menyamar sebagai polisi Hong Kong dan sebagainya dipentaskan di Hong Kong. Tidak ada yang menyangka komunis Tiongkok menggunakan cara-cara mafia di Hong Kong seperti yang diterapkan dalam menghadapi aktivis daratan di Tiongkok.

Pengelolaan negara yang menindas rakyatnya dengan kekerasan oleh pemerintah seperti itu persis seperti yang ditulis oleh reporter investigasi senior the “Epoch Times” Joshua Philipp.

“Dalam sistem totaliter saat ini, hak-hak rakyat itu diberikan oleh pemerintah, bukan sebaliknya. Di bawah kondisi seperti itu, tidak ada ruang untuk keberadaan hak asasi manusia, dan tidak ada keberadaan Sang Pencipta di luar pemerintahan. Kebahagiaan rakyat didasarkan pada uang dan kemerosotan moral, bukan kebajikan, rakyat pada umumnya dianggap terlalu naïf atau bodoh, tidak pantas memiliki kebebasan.”

Pendidikan nasional awal menjadi pendidikan cuci otak dari budaya partai. Hal ini jelas mencerminkan bahwa komunis Tiongkok bermaksud buruk pada kawula muda di Hong Kong dan membiarkan mereka menjadi terbiasa dengan mode pemikiran bahwa cinta partai Komunis Tiongkok sama dengan cinta terhadap negara, hingga akhirnya menumbuhkan “idiot berguna” seperti yang digambarkan Vladimir Lenin (Mantan Kepala Pemerintahan Uni Soviet)

Kekerasan seksual menyerang Hong Kong, dimana kepribadian kaum muda?

Selain pendidikan cuci otak, komunis Tiongkok bahkan mengekspor kekerasan dan pornografi melalui pemerintah Hong Kong, dan menginfeksi muda-mudi Hong Kong.

Meskipun Carrie Lam telah menarik Rancangan undang Undang – RUU ekstradisi yang kontroversial itu, namun, kasus “bunuh diri atau dibunuh” seperti “melompat ke laut, melompat dari gedung” masih kerap terjadi, dan bahkan kasus kekerasan seksual oleh polisi terhadap demonstran.

Pada 28 September 2019, the Epoch Times melaporkan, bahwa menurut penuturan seorang demonstran dalam pertemuan di Edinburgh Place, Central, ia pernah ditahan di pusat penahanan San Uk Ling, Wilayah Baru, Hong Kong. Pakaiannya dilucuti dan anggota badannya diikat, kepalanya ditutupi dengan helm, ia disiksa dan dilecehan oleh setidaknya dua petugas polisi semasa ditahan di tempat tersebut.

Demonstran itu mengatakan, “Saya yakin bukan bukan satu-satunya orang yang mengalami siksaan dan pelecehan seksual seperti itu.”

Pada 10 Oktober 2019, Sonia Ng, seorang mahasiswi di Chinese University of Hong Kong melepas topengnya, dan secara langsung menuding polisi melecehkannya dan mengungkapkan banyak anak-anak muda yang ditahan di pusat penahanan San Uk Ling, dan mengalami serangan seksual serta siksaan yang menyakitkan.

Senin keesokannya, Chen Yanlin, seorang siswa perempuan berusia 15 tahun yang pernah ikut terjun dalam aksi protes ditemukan tewas mengambang di sungai setelah hilang beberapa hari kemudian. 

Polisi mengatakan dengan tegas bahwa korban tewas karena bunuh diri. Namun, korban adalah seorang perenang semasa hidupnya, tetapi mayatnya dalam keadaan telanjang saat meninggal. Namun kesaksian polisi menimbulkan keraguan banyak pihak.

Seorang jurnalis the Epoch Times Hong Kong, Liang Zhen mewawancarai seorang siswa berinisial C yang pernah dipukul polisi, dan bertanya, “Bisakah Hong Kong dilindungi oleh anak-anak muda seperti kalian?”

“Saya rasa kami bisa, kami bisa melindungi Hong Kong. Karena yang kami miliki tidak hanya sekedar orang secara individu, tetapi ada suatu keyakinan yang kuat. Jadi saya rasa, meski rezim tirani mencederai kita semua atau berapa banyak dari kita yang tewas dibunuh mereka, namun keyakinan kami, filosofi kami tetap ada, tidak akan pernah sirna, dan tidak akan runtuh oleh kekuatan apapun,” kata C seorang mahasiwa Hong Kong. 

Pada 10 Oktober 2019, reporter the Epoch Times Hong Kong, Fang Tianliang mengatakan bahwa alasan para kawula muda ini ikut bergabung dalam barisan demonstran, karena tidak dihasut secara politis, tetapi karena mereka tidak punya pemikiran untuk kepentingan diri, dan tidak ada belenggu dari keluarga.

“Banyak anak-anak muda Hong Kong mengatakan bahwa itu adalah peristiwa besar mengenai kelangsungan hidup Hong Kong. Itu adalah masalah dalam menjaga nilai-nilai Hong Kong dan masalah baik dan buruk bagi masa depan Hong Kong. Tidak ada jalan tengah, meski ibarat telur menghantam dinding, mereka tetap akan maju terus,” tulis Fang Tianliang.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Wang Hua, salah satu aktivis dalam gerakan demokrasi “4 Juni” pada tahun 1989, menulis bahwa anak-anak muda yang berada di garis terdepan dalam perjuangan di Hong Kong ini seperti rekan-rekannya yang tewas oleh komunis Tiongkok. 

Mereka sekarang dilahirkan kembali dari Beijing ke Hong Kong dengan tujuan untuk menyelesaikan misi mereka yang belum tuntas. (jon)

Share

Video Popular