Bencana Penggelembungan Ekonomi yang Memalukan

Sejak Tahun 2008, Komunis Tiongkok telah memulai perjalanan untuk meningkatkan ekonominya dengan penjualan tanah dan pencetakan uang. Pada Tahun 2009 pasokan uang beredar Tiongkok atau M2 adalah 170 persen dari PDB-nya. Hari ini rasio itu telah dipertahankan di atas 200 persen selama lima tahun berturut-turut. 

Dengan kemakmuran permukaan ekonomi Tiongkok, Tiongkok telah menimbun sejumlah besar cadangan devisa yang mencapai hampir  USD 4 triliun pada pertengahan Tahun 2014, berkat defisit perdagangan tahunan ratusan miliar dolar ke Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Mendapati memiliki kelebihan pasokan Renminbi dan cadangan devisa yang cukup, Komunis Tiongkok tidak punya alasan untuk membuka industri keuangan.

Tetapi nama “kemakmuran” itu berumur pendek, dan tidak butuh waktu lama, krisis keuangan kembali terjadi. Dana berlebih yang disuntikkan bank-bank Tiongkok ke dalam industri real estate telah membentuk gelembung besar yang sekarang hampir meledak. Ekonomi sedang menurun, dan penerbitan mata uang telah dimaksimalkan.

Sejak Tahun 2017, tren ekonomi yang menurun itu, telah memberikan bayang-bayang yang tidak menyenangkan pada prospek ekonomi riil Tiongkok, dan membuat bisnis terbenam dalam utang. 

reformasi perdagangan
Konteiner terlihat di Pelabuhan Air Dalam Yangshan di Shanghai, Tiongkok pada 24 April 2018. (Aly Song / Reuters)

Bank tidak dapat menemukan banyak perusahaan kredibel yang bersedia memperluas produksi, sehingga mereka terus memberikan pinjaman kepada industri real estate.

Orang dalam keuangan Tiongkok meringkas situasi ini sebagai “terlalu banyak uang tetapi tidak ada likuiditas.”  Istilah “Terlalu banyak uang” mengacu pada bank sentral yang terus-menerus mengeluarkan dana. “Tidak ada likuiditas” berarti bank-bank kekurangan pinjaman berkualitas tinggi. 

Sesungguhnya, banyak bisnis yang bangkrut pada tahun 2018 karena mengalami gagal bayar, kapasitas berlebihan dan pinjaman berlebihan, sementara usaha kecil dan menengah yang lebih konservatif berjuang dengan lingkungan ekonomi yang memburuk. 

Hasilnya adalah keengganan secara ekstrim untuk meminjam oleh perusahaan. Dulunya Infrastruktur pemerintah sebagai proyek yang menarik bagi bank, tetapi saat ini kebanyakan darinya berisiko tinggi dengan pengembalian yang rendah atau bahkan tanpa pengembalian. 

Ketika bank sentral terus menyuntikkan dana, perusahaan tidak mau meminjam, dan bank juga enggan meminjamkan, sejumlah besar modal telah mengendap di sektor keuangan.

Dalam dua setengah tahun terakhir, tingkat pertumbuhan pendapatan pinjaman industri perbankan turun dari 15 persen menjadi 8 persen. Pinjaman oleh bank sentral ke bank komersial turun 4,2 persen pada September 2019. 

Dengan modal berlebihan dan ekonomi yang menurun, apakah Tiongkok benar-benar membutuhkan dana dari lembaga keuangan asing? Tentu saja tidak. Apa artinya ini adalah bahwa Komunis Tiongkok sedang menembak untuk sesuatu yang lain. Apakah membuka Industri Keuangan demi Menyelamatkan Cadangan Devisa? Perusahaan keuangan asing dapat melakukan satu atau dua hal ketika memasuki Tiongkok. 

Pertama, tukarkan mata uang asing ke Renminbi untuk beroperasi di Tiongkok. 

Kedua, melakukan investasi dalam Renminbi. Seperti dibahas sebelumnya, Tiongkok memiliki likuiditas RMB yang cukup. Komunis Tiongkok menargetkan cadangan devisa: sekarang mereka tidak mempunyai kecukupan devisa.

Cadangan devisa Tiongkok menyusut dari puncaknya 4 triliun dolar AS pada tahun 2014 menjadi USD 3 Triliun pada hari ini. Penurunan sebesar 25 persen yang sedang meleset. Meskipun 3 triliun dolar AS terdengar sangat banyak, ini sebenarnya masih kurang. Tiongkok perlu mengurus utang jangka pendek hampir USD 2 Triliun. 

Share

Video Popular