Pada saat yang sama bisnis asing telah menginvestasikan hampir  600 miliar dolar AS, dan mereka telah angkat kaki dari Tiongkok sebagai akibat dari perang dagang.

Kaburnya perusahaan-perusahan itu, disertai dengan kebocoran sejumlah besar mata uang asing dalam bentuk penarikan modal dan transfer keuntungan. Pihak berwenang Komunis Tiongkok tidak akan berani menahan uang itu, sehingga cadangan devisa sekali pakai sebenarnya hanya beberapa ratus miliar dolar AS.

Impor produk yang penting seperti minyak, makanan, dan komponen elektronik akan segera menghabiskan sisa cadangan. 

Jadi sudah jelas, bahwa Komunis Tiongkok sebenarnya membutuhkan lebih banyak mata uang asing. Itulah mengapa Komunis tiongkok akhirnya memutuskan untuk membuka industri keuangan, untuk menarik mata uang asing yang sangat dibutuhkan. Akan tetapi dunia keuangan hanya memihak pemenang.

Begitu bisnis beroperasi dengan baik, bank  ingin membiayainya. Tetapi, keadaannya masih suram sampai hari ini.

Pada bulan September lalu, Komunis Tiongkok mengumumkan penghapusan pembatasan investasi asing di pasar modal dan utang Tiongkok, tetapi gagal mendapatkan traksi atau memonetisasi value. 

pemalsuan data ekspor
Truk mengangkut konteiner di pelabuhan di Qingdao di Provinsi Shandong Tiongkok timur pada 1 Juli 2015. (Tiongkoktopix via AP)

The Washington Post mengatakan dalam artikel 12 September lalu, bahwa pasar Tiongkok bukan lagi bidang Impian, tetapi sebagai Hotel California yang mana berarti “Anda dapat memeriksa kapan saja Anda suka, tetapi Anda tidak akan pernah bisa pergi.” 

Jelas sudah, Wall Street telah memperhatikan secara benar-benar keberuntungan bahwa investor asing dapat keluar secara aman dari hutan dengan keinginan Komunis Tiongkok mengintai sekitar terhadap uang cash.

Semua tanda-tanda pada hari ini menunjukkan pada kekurangan valuta asing, yang mana bahkan lebih parah di Tiongkok. Komunitas perbankan Barat akan terus menghindari jebakan Hotel California. 

Meski terdengar menarik, industri keuangan Tiongkok telah kehilangan daya tariknya. Modal selalu mencari kebenaran ekonomi, sementara Komunis Tiongkok  takut pengungkapan ekonominya dan membungkusnya dengan banyak lapisan atas nama kebenaran.

Tetapi semakin banyak kemasan, justru semakin banyak memicu keraguan. Bisakah Komunis Tiongkok menyimpan cadangan devisa dengan membuka pasar keuangan? saya khawatir Beijing akan kembali mengalami kekecewaan.  

Dr. Cheng Xiaonong, seorang peneliti kebijakan dan pernah menjadi ajudan mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok dan mantan Perdana Menteri Tiongkok, Zhao Ziyang. Ia juga pernah menjadi Deputi Direktur Research Institute of China Economic System Reform. 

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular