- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Apakah Komunis Tiongkok Membuka Industri Keuangan Demi Menyelamatkan Ekonomi?

Oleh Dr. Cheng Xiaonong 

Dikarenakan Tiongkok terus menerus mengalami penurunan ekonomi dan cadangan devisa juga menyusut, Komunis Tiongkok telah mengumumkan rencana untuk membuka pasar keuangan Tiongkok ke negara-negara asing. Langkah itu diklaim sebagai cara untuk meringankan krisis ekonomi secara  langsung dan mengatasi kekhawatiran jangka panjang.

Namun demikian, perusahaan keuangan Barat yang diwakili oleh Wall Street mungkin tidak merespons secara aktif. Dikarenakan, mereka khawatir investasi mereka akan bangkrut.  Ketika Komunis Tiongkok semakin kesulitan mencoba menutupi kebenaran ekonominya, maka semakin kuat investor asing didera keraguan.

Membuka Industri Keuangan Selama Tekanan Pasar

Sekarang, sudah begitu jelas terjadinya penurunan ekonomi Tiongkok. Sehingga menandai berakhirnya era stimulus ekonomi. Komunis Tiongkok telah mencoba meningkatkan pasokan uang dengan berbagai cara. Tetapi hasilnya malah semakin rendah. 

Media resmi Komunis Tiongkok bahkan baru-baru ini, mengakui  bahwa “puluhan miliar Renminbi yang dikeluarkan Tiongkok untuk inisiatif meningkatkan ekonomi sejak paruh kedua Tahun 2018 telah gagal merangsang vitalitas ekonomi. Mereka hanya berperan sebagai tembakan jantung yang hanya memperlambat laju penurunan ekonomi.”

Pendekatan itu, seperti ketika seorang pasien berada di luar kekuatan obat apa pun, dokter hanya memberinya suntikan demi suntikan ke jantung. Sementara pasien tetap hidup untuk saat ini, efektivitas jantung pasti akan berkurang dari waktu ke waktu karena dokter tidak dapat menyelesaikan pokok masalahnya. 

Dalam sebuah artikel saya sebelumnya di Epoch Times, menjelaskan bahwa “Penurunan ekonomi Tiongkok adalah konsekuensi alami dari pengejaran  Komunis Tiongkok yang buta dan secara terus-menerus mengejar pertumbuhan tinggi.”

Dalam situasi normal, pihak berwenang akan secara ekstra hati-hati ketika menavigasi melalui kesulitan ekonomi dan menghindari perlakuan yang terlalu agresif. Yang mana, dapat memperburuk keadaan saat ini. Akan tetapi, belakangan ini Komunis Tiongkok telah melawan akal sehat. Sehingga membuat keputusan berani untuk membuka industri keuangannya ke lembaga-lembaga asing, jelas akan menjadi pukulan terhadap sistem keuangan di Tiongkok yang sudah rapuh. 

Pada pertengahan Oktober lalu, Perdana Menteri Komunis Tiongkok, Li Keqiang menandatangani keputusan Dewan Negara untuk melonggarkan pembatasan kepemilikan asing atas perusahaan keuangan Tiongkok. 

Media pemerintah mengakui bahwa “itu adalah petualangan lain bagi ekonomi Tiongkok.” Membuka pasar keuangan adalah salah satu dari banyak janji yang dicetuskan Komunis Tiongkok pada tahun 2000. Ketika itu, saat bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia -WTO.  Akan tetapi telah lama menolak untuk memenuhinya. 

Mengapa Komunis tiongkok menolak gagasan untuk membukanya selama periode stimulus ekonomi di tahun-tahun sebelumnya, tetapi sekarang malah memilih untuk mengambil risiko selama masa-masa yang jauh lebih sulit?  Mari kita tinjau alasan mengapa Komunis Tiongkok  menolak untuk menunaikan janjinya, serta apa yang mendorong Beijing kini mengambil langkah itu.

Mengendarai Roller Coaster Selama Dua Puluh Tahun Menuju Keterbukaan

Komunis Tiongkok pernah berjanji kepada dunia, bahwa mereka akan membuka pasar keuangan dalam “beberapa tahun.” Itu setelah bergabung ia dengan WTO. Apa yang dijanjikan “Beberapa tahun” ternyata adalah dua dekade.

Mengapa terjadi seperti itu? alasan yang mendasarinya adalah bahwa industri perbankan di Tiongkok telah terlalu lama menjadi pundi uang otoritas dalam sistem ekonomi terencana, sehingga tidak dapat beroperasi seperti operasional perbankan komersial umumnya. 

Bank-bank komersial menginvestasikan deposito warga sehingga manajemen risiko adalah bagian penting dari proses peminjaman mereka, serta memiliki agunan untuk melindungi para penabungnya. Tetapi bank-bank Tiongkok, yang dimiliki dan dioperasikan oleh negara, berada di bawah yurisdiksi pemerintah komunis Tiongkok dan harus memberi pinjaman kepada siapa pun yang diinginkan Komunis Tiongkok, karena itu tidak dapat berfungsi dalam aturan bank umum seperti biasanya.

Pada zaman Mao Zedong, Komunis Tiongkok sudah mengadopsi model ekonomi terencana, di mana semua dana di negara itu dikendalikan oleh departemen keuangan dan dialokasikan atas perintah komite perencanaan negara. 

Bank-bank pada waktu itu hanya memiliki sejumlah kecil simpanan pribadi dan modal kerja bisnis untuk mendanai pinjamannya. Sedangkan pinjaman hanya terbatas pada kebutuhan likuiditas jangka pendek perusahaan negara. 

Sejak reformasi ekonomi tahun 1980-an, proporsi dana kelolaan negara menurun secara signifikan. Sementara itu, simpanan pribadi dengan cepat tumbuh menjadi sumber utama pendanaan. Itu ketika gaji kelas menengah naik dan permintaan barang melonjak.

Akan tetapi proses manajemen risiko bank tidak berubah dengan sumber dana. Dikarenakan, komite perencanaan berpegang pada keyakinan era ekonomi terencana dan menilai deposito pribadi sebagai tidak dapat diandalkan, bahkan berisiko mengalami overdraft atau cerukan yakni jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia.  Bank-bank memandang simpanan pribadi sebagai harimau yang perlu disimpan di kandang. Sementara itu, komite perencanaan negara bersikeras untuk sepenuhnya mengendalikan penggunaan dana. 

Pada Tahun 1990-an, empat bank teratas Tiongkok diperintahkan untuk memberikan pinjaman “stabilitas dan persatuan” kepada perusahaan-perusahaan BUMN yang melakukan hemorrhaging Cash atau pendarahan uang tunai. 

Hal ini mengakibatkan melonjaknya kredit macet dari tak berdayanya perusahaan BUMN yang menarik sistem keuangan ke ujung kebangkrutan.

Kemudian, ketika perusahaan asing berduyun-duyun masuk ke Tiongkok setelah bergabung dengan WTO, bank-bank Tiongkok berjuang untuk bertahan hidup. Komunis Tiongkok menahan bank-bank asing untuk melindungi bank-bank negara. Melihat pada Tahun 2005, krisis uang tunai memaksa Komunis Tiongkok membukanya, dan menurunkan hambatan untuk memasuki pasar keuangan pada tahun 2006. 

HSBC, JPMorgan Chase, Woori, Deutsche Bank adalah salah satu pendatang pertama, dan beberapa dari mereka bahkan membuka banyak cabang. Sayangnya, semburan dimatikan pada Tahun 2008, ketika Komunis Tiongkok menutup lagi pintunya untuk mencegah krisis ekonomi global.

Bencana Penggelembungan Ekonomi yang Memalukan

Sejak Tahun 2008, Komunis Tiongkok telah memulai perjalanan untuk meningkatkan ekonominya dengan penjualan tanah dan pencetakan uang. Pada Tahun 2009 pasokan uang beredar Tiongkok atau M2 adalah 170 persen dari PDB-nya. Hari ini rasio itu telah dipertahankan di atas 200 persen selama lima tahun berturut-turut. 

Dengan kemakmuran permukaan ekonomi Tiongkok, Tiongkok telah menimbun sejumlah besar cadangan devisa yang mencapai hampir  USD 4 triliun pada pertengahan Tahun 2014, berkat defisit perdagangan tahunan ratusan miliar dolar ke Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Mendapati memiliki kelebihan pasokan Renminbi dan cadangan devisa yang cukup, Komunis Tiongkok tidak punya alasan untuk membuka industri keuangan.

Tetapi nama “kemakmuran” itu berumur pendek, dan tidak butuh waktu lama, krisis keuangan kembali terjadi. Dana berlebih yang disuntikkan bank-bank Tiongkok ke dalam industri real estate telah membentuk gelembung besar yang sekarang hampir meledak. Ekonomi sedang menurun, dan penerbitan mata uang telah dimaksimalkan.

Sejak Tahun 2017, tren ekonomi yang menurun itu, telah memberikan bayang-bayang yang tidak menyenangkan pada prospek ekonomi riil Tiongkok, dan membuat bisnis terbenam dalam utang. 

reformasi perdagangan [1]
Konteiner terlihat di Pelabuhan Air Dalam Yangshan di Shanghai, Tiongkok pada 24 April 2018. (Aly Song / Reuters)

Bank tidak dapat menemukan banyak perusahaan kredibel yang bersedia memperluas produksi, sehingga mereka terus memberikan pinjaman kepada industri real estate.

Orang dalam keuangan Tiongkok meringkas situasi ini sebagai “terlalu banyak uang tetapi tidak ada likuiditas.”  Istilah “Terlalu banyak uang” mengacu pada bank sentral yang terus-menerus mengeluarkan dana. “Tidak ada likuiditas” berarti bank-bank kekurangan pinjaman berkualitas tinggi. 

Sesungguhnya, banyak bisnis yang bangkrut pada tahun 2018 karena mengalami gagal bayar, kapasitas berlebihan dan pinjaman berlebihan, sementara usaha kecil dan menengah yang lebih konservatif berjuang dengan lingkungan ekonomi yang memburuk. 

Hasilnya adalah keengganan secara ekstrim untuk meminjam oleh perusahaan. Dulunya Infrastruktur pemerintah sebagai proyek yang menarik bagi bank, tetapi saat ini kebanyakan darinya berisiko tinggi dengan pengembalian yang rendah atau bahkan tanpa pengembalian. 

Ketika bank sentral terus menyuntikkan dana, perusahaan tidak mau meminjam, dan bank juga enggan meminjamkan, sejumlah besar modal telah mengendap di sektor keuangan.

Dalam dua setengah tahun terakhir, tingkat pertumbuhan pendapatan pinjaman industri perbankan turun dari 15 persen menjadi 8 persen. Pinjaman oleh bank sentral ke bank komersial turun 4,2 persen pada September 2019. 

Dengan modal berlebihan dan ekonomi yang menurun, apakah Tiongkok benar-benar membutuhkan dana dari lembaga keuangan asing? Tentu saja tidak. Apa artinya ini adalah bahwa Komunis Tiongkok sedang menembak untuk sesuatu yang lain. Apakah membuka Industri Keuangan demi Menyelamatkan Cadangan Devisa? Perusahaan keuangan asing dapat melakukan satu atau dua hal ketika memasuki Tiongkok. 

Pertama, tukarkan mata uang asing ke Renminbi untuk beroperasi di Tiongkok. 

Kedua, melakukan investasi dalam Renminbi. Seperti dibahas sebelumnya, Tiongkok memiliki likuiditas RMB yang cukup. Komunis Tiongkok menargetkan cadangan devisa: sekarang mereka tidak mempunyai kecukupan devisa.

Cadangan devisa Tiongkok menyusut dari puncaknya 4 triliun dolar AS pada tahun 2014 menjadi USD 3 Triliun pada hari ini. Penurunan sebesar 25 persen yang sedang meleset. Meskipun 3 triliun dolar AS terdengar sangat banyak, ini sebenarnya masih kurang. Tiongkok perlu mengurus utang jangka pendek hampir USD 2 Triliun. 

Pada saat yang sama bisnis asing telah menginvestasikan hampir  600 miliar dolar AS, dan mereka telah angkat kaki dari Tiongkok sebagai akibat dari perang dagang.

Kaburnya perusahaan-perusahan itu, disertai dengan kebocoran sejumlah besar mata uang asing dalam bentuk penarikan modal dan transfer keuntungan. Pihak berwenang Komunis Tiongkok tidak akan berani menahan uang itu, sehingga cadangan devisa sekali pakai sebenarnya hanya beberapa ratus miliar dolar AS.

Impor produk yang penting seperti minyak, makanan, dan komponen elektronik akan segera menghabiskan sisa cadangan. 

Jadi sudah jelas, bahwa Komunis Tiongkok sebenarnya membutuhkan lebih banyak mata uang asing. Itulah mengapa Komunis tiongkok akhirnya memutuskan untuk membuka industri keuangan, untuk menarik mata uang asing yang sangat dibutuhkan. Akan tetapi dunia keuangan hanya memihak pemenang.

Begitu bisnis beroperasi dengan baik, bank  ingin membiayainya. Tetapi, keadaannya masih suram sampai hari ini.

Pada bulan September lalu, Komunis Tiongkok mengumumkan penghapusan pembatasan investasi asing di pasar modal dan utang Tiongkok, tetapi gagal mendapatkan traksi atau memonetisasi value. 

pemalsuan data ekspor [2]
Truk mengangkut konteiner di pelabuhan di Qingdao di Provinsi Shandong Tiongkok timur pada 1 Juli 2015. (Tiongkoktopix via AP)

The Washington Post mengatakan dalam artikel 12 September lalu, bahwa pasar Tiongkok bukan lagi bidang Impian, tetapi sebagai Hotel California yang mana berarti “Anda dapat memeriksa kapan saja Anda suka, tetapi Anda tidak akan pernah bisa pergi.” 

Jelas sudah, Wall Street telah memperhatikan secara benar-benar keberuntungan bahwa investor asing dapat keluar secara aman dari hutan dengan keinginan Komunis Tiongkok mengintai sekitar terhadap uang cash.

Semua tanda-tanda pada hari ini menunjukkan pada kekurangan valuta asing, yang mana bahkan lebih parah di Tiongkok. Komunitas perbankan Barat akan terus menghindari jebakan Hotel California. 

Meski terdengar menarik, industri keuangan Tiongkok telah kehilangan daya tariknya. Modal selalu mencari kebenaran ekonomi, sementara Komunis Tiongkok  takut pengungkapan ekonominya dan membungkusnya dengan banyak lapisan atas nama kebenaran.

Tetapi semakin banyak kemasan, justru semakin banyak memicu keraguan. Bisakah Komunis Tiongkok menyimpan cadangan devisa dengan membuka pasar keuangan? saya khawatir Beijing akan kembali mengalami kekecewaan.  

Dr. Cheng Xiaonong, seorang peneliti kebijakan dan pernah menjadi ajudan mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok dan mantan Perdana Menteri Tiongkok, Zhao Ziyang. Ia juga pernah menjadi Deputi Direktur Research Institute of China Economic System Reform. 

Video Rekomendasi :