Associated Press/VOAIndonesia/The Epochtimes

Erabaru.net. Pengunjuk rasa anti-pemerintah di Irak menyerbu sebuah jembatan di pusat Kota Baghdad, Irak, pada Rabu 6 November.  Melansir dari Associated Press, lokasi itu adalah tempat pasukan keamanan memukul mundur demonstran dengan pentungan dan gas air mata. Akibatnya, melukai puluhan orang.

Seorang petugas medis juga tewas ketika menolong para demonstran. Pihak militer meminta kepada pemrotes untuk berhenti memblokir jalanan dan pelabuhan. 

Militer mengatakan, aksi massa telah menelan kerugian miliaran dolar. Aparat berjanji untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab. Aksi protes yang kembali terjadi itu, turut menyasar kedubes Iran. Massa sempat membakar foto pemimpin tertinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei.  

Puluhan ribu rakyat Irak turun ke jalan-jalan dalam beberapa pekan terakhir di pusat ibu kota dan di wilayah selatan yang didominasi Syiah. Massa dalam aksinya menuntut perubahan politik. 

Para pengunjuk rasa memprotes maraknya korupsi yang meluas, kurangnya kesempatan kerja dan layanan dasar yang buruk. Massa juga memprotes  pemadaman listrik secara teratur meskipun cadangan minyak Irak masih sangat besar.

Para pengunjuk rasa memusatkan kemarahan mereka pada partai-partai politik Syiah dan milisi, yang banyak di antaranya memiliki hubungan dekat dengan Iran. 

Di seberang selatan, mereka telah menyerang markas partai Syiah dan milisi dan membakar beberapa dari markas tersebut.

Di kota suci Syiah, Karbala, pengunjuk rasa menyerang Konsulat Iran awal pekan ini, melemparkan bom api ke temboknya. Pasukan keamanan membunuh setidaknya tiga orang ketika mereka membubarkan aksi protes. 

Sedangkan laporan VOA Indonesia menyebutkan, demonstran juga turut membakar foto-foto pemimpin tertinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei dan komandan militernya Jenderal Qassem Suleimani di Karbala. 

Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei minggu lalu, memicu kemarahan banyak warga Irak.  Ia menuduh adanya negara asing yang mengobarkan aksi protes di Irak dan Lebanon.

Khamenei menuding, Amerika dan beberapa negara Teluk Persia menggunakan badan-badan intelijen mereka untuk mendukung kerusuhan di Irak dan Lebanon.

Insiden itu agaknya menghancurkan usaha Iran yang telah berlangsung 40 tahun untuk menciptakan kawasan Sabit Hijau yang mencakup Iran, Irak, Suriah dan Lebanon.

Laporan Associated Press yang dikutip The Epochtimes menyebutkan, beberapa hari sebelumnya, orang-orang bertopeng yang dicurigai memiliki hubungan dengan pasukan keamanan, melepaskan tembakan dalam sebuah unjuk rasa. Akibatnya menewaskan sedikitnya 18 orang.

Share

Video Popular