Pihak keluarga mengatakan, Siba al-Mahdawi adalah tulang punggung keluarga. Ia telah merawat ibunya dan empat adik kandung ketika keluarga mereka masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan tetap.

Kedutaan Besar Amerika Serikat,  di Baghdad menyerukan kepada pemerintah Irak untuk “ikut serta dengan warga Irak yang menuntut reformasi.” Kedubes AS menyatakan, turut menyesalkan pembunuhan dan penculikan demonstran yang tidak bersenjata, ancaman terhadap kebebasan berekspresi, dan siklus kekerasan yang terjadi.  Pihak Kedubes AS menyatakan, Rakyat Irak harus bebas untuk membuat pilihan sendiri tentang masa depan bangsa mereka.

Juru bicara angkatan bersenjata, Mayor Jenderal Abdul-Karim Khalaf, mengatakan  penghalangan jalan dan blokade pengunjuk rasa di pelabuhan utama Umm Qasr di Teluk Persia telah menyebabkan kerugian besar. 

Juru Bicara itu mengatakan pasukan keamanan tidak menggunakan peluru hidup. Akan tetapi akan menangkap siapa pun yang mencoba memblokir jalan atau jembatan.

Pelabuhan Umm Qasr, adalah pelabuhan yang menampung terminal minyak utama di Irak. pelabuhan itujuga merupakan titik masuk untuk pasokan makanan dan barang-barang pokok. Kawasan itu telah diblokir selama lima hari.

Bentrokan pecah ketika pasukan keamanan berusaha membuka blokade itu pada Selasa 5 November. Akibatnya, seorang pemrotes tewas dan delapan lainnya luka-luka.

Hingga saat ini, pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 273 pemrotes dalam dua gelombang besar demonstrasi sejak awal Oktober lalu. Korban tewas termasuk empat korban tewas pada Rabu 6 November karena luka-luka yang diderita sebelumnya. 

Para pemimpin Irak telah menjanjikan reformasi dan pemilu lebih awal. Akan tetapi proses membutuhkan waktu berbulan-bulan. Sedangkan aksi protes hanya tumbuh dalam beberapa hari terakhir.

Irak telah mengadakan pemilu secara rutin sejak penggulingan Saddam Hussein setelah invasi pimpinan AS tahun 2003. Akan tetapi, masih didominasi oleh partai-partai Islam Syiah yang gagal memenuhi janji untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. 

Aksi protes menimbulkan tantangan terbesar bagi pemerintah, tak lama menyatakan kemenangan atas militan dari kelompok ISIS  hampir dua tahun lalu.

Sementara itu, Mantan Presiden Iran, Abolhassan Bani Sadr yang tinggal dalam pengasingan di Perancis dikutip oleh VOAIndonesia mengatakan, aksi protes di Irak dan Lebanon, telah menghancurkan usaha Iran hampir 40 tahun untuk membentuk persatuan negara Irak, Iran, Suriah, dan Lebanon.

Menurut dia, Pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei,  tidak bisa menjelaskan kepada rakyat Iran bagaimana usaha yang telah berlangsung lama ini bisa hancur berantakan dengan cepat. Adapun, Akses internet tetap terbatas pada hari Rabu 6 November setelah pemerintah memblokade internet pada awal minggu ini. 

Netblocks, kelompok masyarakat sipil yang melacak pembatasan internet, mengatakan penggunaan internet turun menjadi 19% dari tingkat normal pada Selasa malam, sebelum sebagian kembali dipulihkan.

Netblocks mengatakan bahwa Irak “sebagian besar tetap offline.” Serangkaian pemadaman internet sebelumnya selama protes bulan lalu telah merugikan negara lebih dari 1 miliar dolar AS. (asr)

Share

Video Popular