- Erabaru - http://m.erabaru.net -

(Video) Badai Unjuk Rasa Kembali Melanda Irak, Sudah 273 Demonstran Tewas Hingga Petugas Medis Ditembaki

Associated Press/VOAIndonesia/The Epochtimes

Erabaru.net. Pengunjuk rasa anti-pemerintah di Irak menyerbu sebuah jembatan di pusat Kota Baghdad, Irak, pada Rabu 6 November.  Melansir dari Associated Press, lokasi itu adalah tempat pasukan keamanan memukul mundur demonstran dengan pentungan dan gas air mata. Akibatnya, melukai puluhan orang.

Seorang petugas medis juga tewas ketika menolong para demonstran. Pihak militer meminta kepada pemrotes untuk berhenti memblokir jalanan dan pelabuhan. 

Militer mengatakan, aksi massa telah menelan kerugian miliaran dolar. Aparat berjanji untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab. Aksi protes yang kembali terjadi itu, turut menyasar kedubes Iran. Massa sempat membakar foto pemimpin tertinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei.  

Puluhan ribu rakyat Irak turun ke jalan-jalan dalam beberapa pekan terakhir di pusat ibu kota dan di wilayah selatan yang didominasi Syiah. Massa dalam aksinya menuntut perubahan politik. 

Para pengunjuk rasa memprotes maraknya korupsi yang meluas, kurangnya kesempatan kerja dan layanan dasar yang buruk. Massa juga memprotes  pemadaman listrik secara teratur meskipun cadangan minyak Irak masih sangat besar.

Para pengunjuk rasa memusatkan kemarahan mereka pada partai-partai politik Syiah dan milisi, yang banyak di antaranya memiliki hubungan dekat dengan Iran. 

Di seberang selatan, mereka telah menyerang markas partai Syiah dan milisi dan membakar beberapa dari markas tersebut.

Di kota suci Syiah, Karbala, pengunjuk rasa menyerang Konsulat Iran awal pekan ini, melemparkan bom api ke temboknya. Pasukan keamanan membunuh setidaknya tiga orang ketika mereka membubarkan aksi protes. 

Sedangkan laporan VOA Indonesia menyebutkan, demonstran juga turut membakar foto-foto pemimpin tertinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei dan komandan militernya Jenderal Qassem Suleimani di Karbala. 

Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei minggu lalu, memicu kemarahan banyak warga Irak.  Ia menuduh adanya negara asing yang mengobarkan aksi protes di Irak dan Lebanon.

Khamenei menuding, Amerika dan beberapa negara Teluk Persia menggunakan badan-badan intelijen mereka untuk mendukung kerusuhan di Irak dan Lebanon.

Insiden itu agaknya menghancurkan usaha Iran yang telah berlangsung 40 tahun untuk menciptakan kawasan Sabit Hijau yang mencakup Iran, Irak, Suriah dan Lebanon.

Laporan Associated Press yang dikutip The Epochtimes menyebutkan, beberapa hari sebelumnya, orang-orang bertopeng yang dicurigai memiliki hubungan dengan pasukan keamanan, melepaskan tembakan dalam sebuah unjuk rasa. Akibatnya menewaskan sedikitnya 18 orang.

Sebelumnya, setidaknya dua pengunjuk rasa tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan di dekat markas provinsi di Karbala, menurut seorang pengunjuk rasa dan seorang petugas medis yang berbicara dengan syarat anonim karena khawatir akan keselamatannya.

Di Baghdad, pengunjuk rasa bentrok dengan pasukan keamanan di jembatan keempat di atas Sungai Tigris. Kejadian itu setelah bentrokan sebelumnya memaksa penutupan tiga jembatan lainnya hingga melumpuhkan pusat kota. 

Aksi Protes telah dipusatkan di kawasan Tahrir Square, di tepi timur sungai Tigris. Para demonstran telah berusaha untuk mencapai Zona Hijau, yang menampung kantor-kantor pemerintah dan kedutaan asing di sisi lain sungai Tigris.

Ketika para pemrotes bergerak menuju Jembatan Martir, massa melewati di dekat bank sentral Irak. Pasukan keamanan Irak dikerahkan dalam jumlah besar di sekitar bank dan mengevakuasi karyawan. Akan tetapi para pengunjuk rasa tidak menargetkan bangunan itu.

Pejabat keamanan dan petugas  medis mengatakan, setidaknya 29 orang terluka setelah dipukul mundur dengan tongkat atau terkena gas air mata dekat Jembatan Martir. 

Mereka mengatakan seorang petugas medis terbunuh di dekat Jembatan Al-Ahrar. Perugas medis itu telah melihat bentrokan skala berat dalam beberapa hari terakhir, sedangkan korban lainnya turut terluka. Narasumber yang diwawancarai Associated Press ini,  berbicara dengan syarat anonim sesuai dengan peraturan.

Di kawasan Tahrir Square,  pihak keluarga dan teman-temannya menyerukan pembebasan Siba al-Mahdawi, seorang aktivis dan sukarelawan medis berusia 37 tahun yang diculik pada akhir pekan lalu. 

Saudaranya, Ahmed al-Mahdawi, mengatakan Siba Al-Mahdawi dibawa oleh pria bertopeng berpakaian hitam saat dia pulang dari aksi protes pada  Sabtu lalu. Dia mengatakan, pihak keluarga tidak menerima kabar keberadaannya sejak dia menghilang empat hari lalu.

Pihak keluarga mengatakan, Siba al-Mahdawi adalah tulang punggung keluarga. Ia telah merawat ibunya dan empat adik kandung ketika keluarga mereka masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan tetap.

Kedutaan Besar Amerika Serikat,  di Baghdad menyerukan kepada pemerintah Irak untuk “ikut serta dengan warga Irak yang menuntut reformasi.” Kedubes AS menyatakan, turut menyesalkan pembunuhan dan penculikan demonstran yang tidak bersenjata, ancaman terhadap kebebasan berekspresi, dan siklus kekerasan yang terjadi.  Pihak Kedubes AS menyatakan, Rakyat Irak harus bebas untuk membuat pilihan sendiri tentang masa depan bangsa mereka.

Juru bicara angkatan bersenjata, Mayor Jenderal Abdul-Karim Khalaf, mengatakan  penghalangan jalan dan blokade pengunjuk rasa di pelabuhan utama Umm Qasr di Teluk Persia telah menyebabkan kerugian besar. 

Juru Bicara itu mengatakan pasukan keamanan tidak menggunakan peluru hidup. Akan tetapi akan menangkap siapa pun yang mencoba memblokir jalan atau jembatan.

Pelabuhan Umm Qasr, adalah pelabuhan yang menampung terminal minyak utama di Irak. pelabuhan itujuga merupakan titik masuk untuk pasokan makanan dan barang-barang pokok. Kawasan itu telah diblokir selama lima hari.

Bentrokan pecah ketika pasukan keamanan berusaha membuka blokade itu pada Selasa 5 November. Akibatnya, seorang pemrotes tewas dan delapan lainnya luka-luka.

Hingga saat ini, pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 273 pemrotes dalam dua gelombang besar demonstrasi sejak awal Oktober lalu. Korban tewas termasuk empat korban tewas pada Rabu 6 November karena luka-luka yang diderita sebelumnya. 

Para pemimpin Irak telah menjanjikan reformasi dan pemilu lebih awal. Akan tetapi proses membutuhkan waktu berbulan-bulan. Sedangkan aksi protes hanya tumbuh dalam beberapa hari terakhir.

Irak telah mengadakan pemilu secara rutin sejak penggulingan Saddam Hussein setelah invasi pimpinan AS tahun 2003. Akan tetapi, masih didominasi oleh partai-partai Islam Syiah yang gagal memenuhi janji untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. 

Aksi protes menimbulkan tantangan terbesar bagi pemerintah, tak lama menyatakan kemenangan atas militan dari kelompok ISIS  hampir dua tahun lalu.

Sementara itu, Mantan Presiden Iran, Abolhassan Bani Sadr yang tinggal dalam pengasingan di Perancis dikutip oleh VOAIndonesia mengatakan, aksi protes di Irak dan Lebanon, telah menghancurkan usaha Iran hampir 40 tahun untuk membentuk persatuan negara Irak, Iran, Suriah, dan Lebanon.

Menurut dia, Pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei,  tidak bisa menjelaskan kepada rakyat Iran bagaimana usaha yang telah berlangsung lama ini bisa hancur berantakan dengan cepat. Adapun, Akses internet tetap terbatas pada hari Rabu 6 November setelah pemerintah memblokade internet pada awal minggu ini. 

Netblocks, kelompok masyarakat sipil yang melacak pembatasan internet, mengatakan penggunaan internet turun menjadi 19% dari tingkat normal pada Selasa malam, sebelum sebagian kembali dipulihkan.

Netblocks mengatakan bahwa Irak “sebagian besar tetap offline.” Serangkaian pemadaman internet sebelumnya selama protes bulan lalu telah merugikan negara lebih dari 1 miliar dolar AS. (asr)