- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Arus Keluar Modal Besar-besaran dari Tiongkok, Cadangan Devisa yang Dapat Digunakan Komunis Tiongkok Menipis

Liputan Jurnalis Epochtimes.com,  Zhang Dun, Zhong Yuan dan Chen Han

Tingkat pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun ke level terendah dalam 27 tahun terakhir, ditambah dengan dampak perang dagang Amerika Serikat  dengan Tiongkok, dan aksi protes di Hong Kong, membuat lingkungan ekonomi Tiongkok semakin memburuk. Pada awal September 2019, total arus keluar modal dari daratan Tiongkok hampir US$ 90 miliar, dan cadangan devisa turun US$ 14,7 miliar.

Sejumlah ekonom mengatakan bahwa ketidakstabilan cadangan devisa komunis Tiongkok, menimbulkan masalah pada pasokan dana, yang akan memicu pada pelarian modal. Renminbi akan mengalami depresiasi dan kenaikan tajam pada dolar Amerika Serikat. 

Selain itu, Hong Kong, sebagai saluran untuk menarik investasi dan teknologi asing, serta posisinya sebagai pusat keuangan yang tak tergantikan, perkembangannya secara langsung juga mengancam ekonomi dan cadangan devisa Tiongkok.

Arus modal keluar, cadangan devisa turun lebih dari yang diperkirakan

Pada 28 Oktober 2019, surat kabar Hong Kong berbahasa Inggris – South China Morning Post mengutip pernyataan Alicia Garcia-Herrero, kepala ekonom AsiaPasifik untuk bank investasi Prancis, Natixis. Kutipan menyebutkan bahwa jumlah total dana yang keluar dari daratan Tiongkok pada September 2019 mencapai US$ 89 miliar.

Pada 6 Oktober 2019, pejabat komunis Tiongkok mengumumkan bahwa cadangan devisa Tiongkok tercatat US$ 3,0924 triliun pada bulan September 2019, turun US$ 14,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 3,1071 triliun. Angka itu, tidak hanya lebih rendah dari yang diperkirakan yaitu US$ 3,1056 triliun, tetapi juga terendah sejak Februari 2019.

Selanjutnya, Liu Ligang, kepala ekonom Tiongkok untuk Citibank Hong Kong, mengatakan bahwa cadangan devisa Tiongkok merosot lebih dari yang diperkirakan pada September 2019. Ketika arus keluar modal bersih pada September 2019 itu sekitar US$ 27 miliar, komunis Tiongkok mungkin akan memperketat control arus modal untuk mencegah arus keluar modal dalam skala besar.

Sejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menandatangani memorandum pada Maret tahun lalu, cadangan devisa komunis Tiongkok yang mencapai US$ 3,1428 triliun dari Maret 2018 turun menjadi US$ 3,0924 triliun pada September 2019. Angka itu turun tajam sebesar US$ 50,4 miliar. Saat itu, Trump berencana untuk mengenakan tarif pada hampir US$ 60 miliar produk impor Tiongkok, dan ketika eskalasi perang perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok terus meningkat. 

Selain pengurangan cadangan devisa, ekonomi Tiongkok juga memburuk secara serius. Tingkat pertumbuhan Produk Domestic Bruto – PDB Tiongkok pada kuartal ketiga 2019 meningkat sebesar 6% YoY atau Year on Year, terendah sejak komunis Tiongkok sejak mencatat rekor PDB kuartalan pada tahun 1992.

Ekonomi terus memburuk, komunis Tiongkok segera menstabilkan investasi asing.

Menghadapi ekonomi Tiongkok yang terus memburuk, dan pelarian dana besar-besaran, pejabat komunis Tiongkok mulai mengambil langkah-langkah mendesak untuk “menarik investasi asing” dan “menstabilkan investasi asing”.

Pada 25 Oktober 2019, The Seventh Chnstone October Management Forum 2019 diselenggarakan di Beijing. Wei Jie, ekonom Tiongkok dan profesor Sekolah Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua, Beijing menyampaikan pidatonya tentang situasi ekonomi Tiongkok saat ini dan masalah serta tindakan penanggulangan yang dihadapi tahun depan.

Wei Jie mengatakan, karena suntikan dana Tiongkok dari tahun 2014 – 2016 menyebabkan utang yang terlalu tinggi, sehingga tahun 2018 hingga 2020 adalah masa puncak pembayaran utang Tiongkok.  Di masa puncak pembayaran utang itu, perlu untuk memastikan pasokan dana berjalan normal. Jika pasokan dana tidak normal, maka akan terjadi krisis utang besar, yang akan berimbas pada krisis keuangan.

Wei Jie mengatakan bahwa cadangan devisa pada bulan September hanya 3,09 triliun dolar Amerika Serikat, menurun dari 3,1 triliun dolar Amerika Serikat menjadi 3,09 triliun dolar Amerika Serikat.

Jika pasokan valuta asing dapat distabilkan, maka tidak akan terjadi masalah yang terlalu besar pada pasokan dana, jadi Tiongkok harus menstabilkan nilai tukar. Sumber pasokan valuta asing adalah uang dari hasil sendiri, uang pinjaman, dan uang dari modal asing yang masuk ke Tiongkok. 

“Dari tiga jenis sumber uang ini, adalah uang yang dapat digunakan. Saya telah melihatnya, ada ratusan miliar dollar Amerika Serikat. Jika pasokan valuta asing berfluktuasi, itu pasti akan mempengaruhi mata uang lokal dan mempengaruhi pasokan dana domestik,” kata Wei Jie.

Kekurangan cadangan devisa, mungkin akan menyebabkan renminbi terjun bebas

Ekonom Taiwan Wu Jialong juga mengatakan dalam sebuah wawancaranya dengan the Epoch Times, bahwa komunis Tiongkok harus membayar lebih dari US$ 1,2 triliun hutang jangka pendeknya dan sekitar US$ 0,8 triliun utang jangka menengah dan jangka panjang. 

Setelah utang dilunasi, komunis Tongkok hanya memiliki sekitar US$ 1 triliun valuta asing yang tersisa. Namun, tekanan utang luar negeri akan mengurangi cadangan devisa. Sementara pengurangan cadangan valuta asing mencerminkan kontraksi penerbitan mata uang domestik.

Begitu cadangan devisa tidak cukup, komunis Tiongkok akan lebih memperketat kontrol modal, yang mana akan mendorong pelarian modal.

Bagi mereka yang mungkin tidak ingin lari membawa modal keluar, mau tidak mau juga harus keluar dari Tiongkok. Sejumlah besar mata uang domestik akan muncul dan dijual ke bank.

Tiba saat itu, orang-orang akan membeli dolar Amerika Serikat, akibatnya renminbi akan terjun bebas, depresiasi, dan dollar Amerika Serikat akan melonjak. Orang-orang akan menawar nilai tukar dolar Amerika Serikat dan membelinya.

Hong Kong adalah saluran modal Tiongkok, statusnya tak tergantikan.

Wei Jie, mantan direktur the Stateowned Assets Administration Bureau, juga menyebutkan dalam pidato tersebut di atas bahwa masalah Hong Kong akan mempengaruhi cadangan devisa komunis Tiongkok.

Dia mengatakan bahwa 70% dari investasi asing komunis Tiongkok berasal dari Hong Kong. Peminjaman uang dan berbagai operasional modal komunis Tiongkok semuanya terkait dengan Hong Kong. Begitu Hong Kong kena dampak yang lebih besar, akan terjadi masalah pada pasokan valuta asing Tiongkok, yang menyebabkan masalah dalam hubungan antara penawaran dan permintaan valuta asing. Jika nilai tukar tidak stabil, seluruh pasokan dana akan bermasalah.

[1]
Sejak tahun 2013 Hongkong berhasil menggeser Tokyo dan menduduki peringkat ketiga sebagai pusat keuangan dunia yang hingga saat ini masih dipertahankan. (Song Xianglong/Epoch Times)

Menurut Wei Jie, baik itu Shenzhen maupun Shanghai tidak dapat menggantikan posisi Hong Kong dalam menarik investasi asing dan pusat keuangannya.

Ahli keuangan Tiongkok Ren Zhongdao mengatakan kepada the Epoch Times bahwa aksi protes terkait Rancangan Undang Undang – RUU ekstradisi Hong Kong telah berlangsung selama hampir lima bulan dan data cadangan devisa. 

Yang dirilis Otoritas Moneter Hong Kong tidak banyak berubah. Namun, dari informasi di Singapura dan  lainnya, ada indikasi penarikan modal dari Hong Kong.

Sementara itu, saat Wu Jialong diwawancarai, dia mengatakan bahwa berdasarkan informasi dari pengusaha Taiwan, sejumlah dana Hong Kong telah mengalir ke Kamboja.

Situasi di Hong Kong saat ini juga telah menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam volume perdagangan bitcoin – BTC atau uang elektronik lokal. Menurut data platform dari LocalBitcoins, yakni perdagangan mata uang lokal yang dijual bebas, bahwa pada minggu pertama Oktober 2019, volume transaksi BTC Hong Kong mencapai tingkat tertinggi ketiga di dunia, yakni sekitar 1,42 juta dolar Amerika Serikat. Itu  setara dengan 172,8 BTC. Nilai itu hampir mencatatkan rekor tertinggi 1,53 juta dolar Amerika Serikat pada Desember 2017.

Tekanan terhadap Hong Kong akan menimbulkan bencana pada ekonomi Tiongkok. “Jika komunis Tiongkok menekan Hong Kong dengan kekerasan, Hong Kong yang menjadi jendela modal komunis Tiongkok akan terkena dampak yang besar, mengancam stabilitas ekonomi Tiongkok dan bahkan menyebabkan keruntuhan ekonomi Tiongkok,” kata ekonom Taiwan Wu Jialong.

Wu Jialong menjelaskan bahwa setelah ekonomi Tiongkok berorientasi ekspor, sumber utama pertumbuhan ekonomi adalah investasi asing langsung, perusahaan asing mendatangkan modal, teknologi, manajemen dan sebagainya. Sementara 70% investasi asing berasal dari Hong Kong ke daratan Tiongkok.

Wu Jialong menilai,  secara permukaan, komunis Tiongkok memang tidak mengerahkan pasukannya untuk menekan Hong Kong, tetapi pada kenyataannya, telah mengirim polisi bersenjata ke Hong Kong untuk menekan secara terselubung. 

Banyak orang hilang, dihajar hingga cacat fisik, mengalami pelecehan seksual, atau polisi komunis Tiongkok berbaur dengan massa untuk menciptakan konflik, menyerang polisi, dan kemudian menyalahkan demonstran.

Menurut Wu Jialong, komunis Tiongkok menggunakan tindakan kekerasan seperti itu untuk mengintimidasi orang-orang Hong Kong agar tidak turun ke jalan melakukan aksi protes. 

Namun, sudah terlanjur, demonstran Hong Kong sekarang tidak bisa mundur lagi, dan tidak mungkin untuk mundur. Polisi mafia Hong Kong menyerang orang-orang tanpa pandang bulu. Hong Kong bukan lagi sebuah masyarakat yang diatur oleh hukum, sehingga tidak ada lagi yang namanya “satu negara, dua sistem”. Bagi orang-orang Hong Kong, mereka harus berjuang sampai akhir.

Kas negara kosong, cadangan devisa ketat, dan efek karam komunis Tiongkok

Wu Jialong menilai, kas negara Tiongkok sekarang kosong, dan kekurangan cadangan devisa dolar Amerika Serikat.

Oleh karena itu, pihak berwenang di Beijing ingin menarik uang yang disembunyikan di Hong Kong melalui “Ordonansi pelanggar hukum” Hong Kong. Gagasan kedua otoritas Beijing adalah mengeruk cadangan devisa Hong Kong, tidak peduli dengan dampak jangka panjangnya.

“Komunis Tiongkok jelas tahu Hong Kong itu sangat penting, tetapi pada saat kritis, mereka tidak peduli lagi dengan dampaknya ke depan,” kata Wu Jialong.

Dia mengatakan bahwa itu mengindikasikan komunis Tiongkok mengalami krisis yang sangat serius. Karena komunis Tiongkok telah menghabiskan banyak uang untuk menjaga stabilitas, pengeluaran militer, kapal induk, pesawat terbang, dan “Belt and Road.”

Terakhir Wu Jialong mengatakan bahwa sejak pecahnya aksi unjuk rasa Hong Kong, banyak titik yang dapat dilihat bahwa “fenomena kapal karam” komunis Tiongkok akan segera terjadi. Istilah “Kapal karam”  merujuk pada pejabat korup komunis Tiongkok yang mencari selamat. Misalnya, para pejabat korup komunis Tiongkok sedang sibuk mencari jalan keluar, mengalihkan aset dan mengirim istri dan anak-anak atau keluarga mereka ke luar negeri. Mereka membeli aset di luar negeri dan sebagainya. Singkatnya memindahkan atau membawa kabur apa pun yang berharga dan bisa dibawa.

Sementara bagi rakyat Tiongkok yang mampu, mereka pindah keluar negeri, atau menyelundup ke luar negeri jika terpaksa. Singkatnya, orang-orang berbondong-bondong keluar dari Tiongkok untuk bisa kabur. Itu dilakukan dari semua lapisan. Tidak peduli lapisan masyarakat kelas atas ataupun bawah. (jon)