Emel Akan – The Epochtimes

Sudah 30 tahun sejak dunia menyaksikan dengan kagum dan haru, ketika ribuan orang-orang membantu meruntuhkan Tembok Berlin dengan palu dan kapak.

Dinding fisik sebagai penghalang beton berjaga sepanjang 155 kilometer yang memisahkan Berlin, dirobohkan dengan cepat, seperti halnya Tirai Besi, sebuah simbol pembagian ideologis antara Timur dan Barat.

Banyak yang optimis dan percaya bahwa komunisme telah menjadi peninggalan masa lalu. Akan tetapi pada hari ini, 1 dari 5 orang di dunia masih hidup di bawah kediktatoran komunis. 

Selain itu, komunisme mendapatkan landasan global dan membentuk ancaman bagi demokrasi Barat.

Pada Sabtu 9 November 2019, menandai peringatan 30 tahun robohnya Tembok Berlin, yang membuka jalan bagi penyatuan kembali Jerman. 

Peristiwa bersejarah itu memicu perubahan besar di dunia, termasuk kekalahan rezim komunis di Eropa, jatuhnya Uni Soviet, dan perjanjian damai dari Perang Dingin yang telah berlangsung setengah abad.

Berbicara dalam diskusi “30 Tahun Kemudian: Pelajaran dari Ambruknya Tembok Berlin,” yang diselenggarakan oleh The Ronald Reagan Institute dengan berkoordinasi bersama  The George & Barbara Bush Foundation, The Atlantic Council, and Georgetown University di Washington, AS,  pada 6 November lalu, mantan Menlu AS James Baker mengatakan, Presiden Amerika Serikat dari Harry Truman kepada George H.W. Bush memainkan peran penting dalam mengalahkan komunisme.

Ia mengatakan, setiap presiden Amerika sejak Truman memainkan peran yang sangat diperlukan. Tetapi di atas segalanya, peranan itu adalah semangat abadi bagi warga negara-negara tawanan yang akhirnya  menjadi kebebasan.

Selama satu abad, komunisme membentuk kediktatoran secara besar-besaran di Uni Soviet dan Tiongkok, dan lebih dari 100 juta orang tewas di tangan ideologi merah itu. 

Pada hari ini, Tiongkok, Laos, Vietnam, Korea Utara, dan Kuba masih memiliki kediktatoran partai tunggal. Bulan lalu, Komunis Tiongkok melampaui Uni Soviet sebagai rezim komunis yang bertahan paling lama dalam sejarah. 

Tiga puluh tahun setelah jatuhnya Tembok Berlin, “Kami masih terhuyung-huyung dan bergulat dengan pertumbuhan “rezim totaliter yang anti-demokrasi” di Beijing,” hal demikian disampaikan oleh Marion Smith, direktur eksekutif Victims of Communism Memorial Foundation atau Yayasan Peringatan Korban Komunisme.

Menurut Marion Smith, salah satu pelajaran utama yang dipelajari dari robohnya tembok Berlin adalah  orang-orang di mana-mana ingin hidup bebas dan kemenangan atas kebebasan yang sama, dapat terjadi kepada orang-orang seperti yang terjadi terhadap orang Jerman dan Eropa pada 30 tahun silam. Namun, hanya sekadar memiliki keinginan untuk kebebasan dan demokrasi tidak akan cukup.

Marion Smith mengatakan, semuanya harus sangat jernih tentang fakta bahwa partai komunis Tiongkok – dan semua orang sudah menyaksikannya di seluruh daratan Tiongkok – Komunis Tiongkok masih bersedia membunuh rakyat mereka sendiri untuk tetap berkuasa. Pernyataan Marion Smith merujuk pada peristiwa di Xinjiang dan Hong Kong.

Beberapa bulan sebelum runtuhnya Tembok Berlin, pengunjuk rasa di Tiongkok, sebagian besar mahasiswa, menyerukan demokrasi di Lapangan Tiananmen. Akan tetapi, aksi mahasiswa pro Demokrasi dihancurkan dalam penumpasan militer secara besar-besaran.  Karena itu, hasil gerakan pro-demokrasi di seluruh Tiongkok dan di seluruh blok Timur pada tahun 1989, tidak berubah dengan cara yang sama. 

Marion Smith juga mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat. terhadap Tiongkok pada Tahun 1980-an yang memberdayakan Beijing.

Ia mengatakan, Amerika Serikat pada tahun 1980-an menerima semacam perjanjian, bahwa musuh utamanya adalah Uni Soviet, dan teman serta kebutuhan AS adalah Republik Rakyat Tiongkok. Keputusan saat itu justru tidak menguntungkan.

Sayang sekali, setelah runtuhnya Uni Soviet, pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991, AS tidak melihat lagi hubungan negeri paman SAM itu dengan Tiongkok.

Kembalinya Komunis

Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa komunisme telah mengalami peningkatan popularitas di Amerika Serikat. Lebih dari 1 dalam 3  orang milenial memandang komunisme dengan baik. Mereka juga memandang kapitalisme dan komunisme sama kerasnya.

Dukungan untuk komunisme di kalangan generasi muda tumbuh hampir 10 poin persentase selama setahun terakhir. Meningkatnya porsentase itu dinilai terkait masalah pendidikan.

Marion Smith menguraikan, salah satu peran paling penting dari pendidikan yang baik adalah untuk mempelajari beberapa pelajaran yang mengerikan dan sulit didapat pada abad terakhir, yakni tentang ide-ide yang cacat, ideologi kekerasan fasisme dan kegagalan Marxisme.

Potongan Robohnya Tembok Berlin

Semakin banyak warga di Amerika Serikat percaya bahwa sosialisme dan komunisme adalah mulia, Meski demikian tetapi mereka tidak pernah pergi ke negara-negara yang telah mempraktikkan ideologi tersebut. 

Hal demikian disampaikan oleh Art Harman, yang menyaksikan secara langsung runtuhnya tembok di Berlin pada tahun 1989 silam.

Terinspirasi oleh liputan langsung acara TV di Berlin pada 9 November 1989, Harman dan dua temannya memutuskan untuk terbang ke Jerman dari Washington dan bergabung dengan kerumunan orang-orang di Berlin. 

Dalam suasana perayaan, mereka membantu memotong bagian dinding dengan palu dan pahat. Art Harman menulis dalam blognya, tindakan pada saat itu seperti musik ajaib yakni Musik kebebasan. 

Dia membawa ribuan keping tembok kembali ke Amerika Serikat. Ia pun menjualnya kepada orang-orang dari seluruh dunia, termasuk orang Jerman. Sementara saat di Jerman, Harman sangat tersentuh oleh perubahan cepat dalam suasana penjaga perbatasan Jerman Timur, yang memiliki “senyum terbesar di wajah mereka.”

Art Harman mengatakan, Pekerjaan para pasukan penjaga sebelumnya hanya duduk di sana dengan jari pelatuk senjata. Ketika tembok berlin runtuh, untuk pertama kalinya mereka tidak perlu lagi melakukannya. Bagi para penjaga, dinilai sangat membebaskan dan meningkatkan spirit mereka. 

Menurut Art Harman, ada pelajaran yang bisa dipetik dari runtuhnya Tembok Berlin. Ia mengatakan, Tidak peduli seberapa represif pemerintahan apapun pada hari ini, maka itu dapat berubah dalam sekejap.  Ia mengatakan, beberapa tahun sebelum tembok dibuka, Uni Soviet tampak sekuat besi. Apa yang disampaikannya menyiratkan bahwa rezim Soviet ketika itu berada di puncak kekuatan militernya.

Untuk menyaksikan bahwa “hancur tanpa berdarah” adalah “sangat ajaib.” Ia menambahkan bahwa hal yang serupa juga dapat terjadi di Tiongkok, Venezuela, Kuba, dan Iran. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular