Frank Fang – The Epochtimes

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam membela tindakan polisi dan mengutuk serangan pengunjuk rasa sebagai “perusuh.”  Hal demikian disampaikannya selama konferensi pers pada Senin 11 November malam. 

Pernyataan perusuh selama ini sesuai dengan narasi-narasi yang digunakan oleh media-media corong komunis Tiongkok. 

Melansir dari The Epochtimes, insiden terbaru pada 11 November Senin pagi. Saat itu seorang pemrotes berusia 21 tahun ditembak di perutnya dari jarak dekat oleh seorang petugas polisi di kawasan Sai Wan Ho. Hingga saat ini kondisi korban masih dalam keadaan kritis.

Sedangkan di kawasan Kwai Fong, seorang polisi terlihat mengendarai sepeda motor polisi ke kerumunan demonstran. Polisi itu terlihat melaju dengan kecepatan tinggi dengan mengarah kepada pengunjukrasa. 

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam, mengatakan petugas yang terlibat dalam insiden itu telah cuti kerja dan akan diselidiki. Sedangkan, aksi kekerasan menyebar ke berbagai universitas di Hong Kong, ketika polisi memasuki halaman sekolah dan menembakkan gas air mata dalam konfrontasi dengan para pemrotes. 

Di Chinese University of Hong Kong, pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke petugas polisi. Polisi membalasnya dengan peluru karet dan gas air mata. Di Universitas Politeknik Hong Kong, polisi memasuki kampus dan mengejar pengunjuk rasa. Akan tetapi meninggalkan kampus tanpa melakukan penangkapan.

Bagaimana respon Carrie Lam? pemimpin Hong Kong itu mengatakan, jika masih ada angan-angan, bahwa dengan meningkatkan kekerasan, pemerintah Hong Kong akan menyerah kepada tekanan, untuk memenuhi apa yang disebut tuntutan politik — Carrie lam menyatakan dengan jelas dan tegas, bahwa hal demikian  tidak akan terjadi. 

Dia menambahkan  dengan menyampaikan narasi bahwa jika tuntutan “perusuh” dipenuhi, dia akan “diyakinkan” bahwa akan ada lebih banyak kekerasan. Dia juga mengecam pengunjuk rasa karena mengorganisir pemogokan seluruh kota pada hari Senin lalu. 

Kepala Eksekutif Hong Kong saat bertemu dengan wartawan di kantor pusat pemerintahan pada pukul 4 sore pada tanggal 4 September 2019. (Li Yi / Epochtimes)

Carrie Lam yang belum lama ini bertemu dengan pemimpin Komunis Tiongkok di Tiongkok mengatakan, bahwa “aksi kekerasan dan gangguan” telah mempengaruhi banyak orang di Hong Kong, dikarenakan orang-orang tidak bisa bekerja atau berangkat ke sekolah.

Pada hari itu, massa bergerak sebagai respon kematian Alex Chow Tsz-lok, seorang mahasiswa ilmu komputer berusia 22 tahun yang meninggal  pada 8 November lalu. Pengunjuk rasa memblokir jalanan pada hari Senin itu. Mereka juga menyerukan pemogokan umum, memblokir jalanan dengan barikade darurat. 

Beberapa juga menghadang transportasi umum dengan menggunakan cara yang berbeda: mencegah pintu kereta bawah tanah menutup, melempar barang-barang di rel. Banyak stasiun metro ditutup sementara beberapa layanan kereta tertunda.

Kematian Chow telah dikaitkan dengan tindakan polisi. Kala itu, petugas telah menembakkan gas air mata ke garasi parkir di kawasan Tseung Kwan O. Kejadian itu tak lama sebelum seorang mahasiswa jatuh dari lantai satu dan menderita cedera otak yang parah. Polisi membantah bertanggung jawab atas kematiannya.

Lam mengatakan, pemogokan itu mengakibatkan lebih dari 60 orang terluka, termasuk pemrotes yang ditembak dan seorang pria yang dibakar. Lam mengatakan keduanya dalam kondisi kritis.

Menurut media Hong Kong, RTHK, seorang pria paruh baya berdebat dengan sekelompok orang pada sore hari di kawasan Ma On Shan. Sementara rincian yang tepat dari perdebatan itu tidak diketahui, kelompok itu berteriak kepada pria itu untuk kembali ke kawasan Greater Bay Area, merujuk pada wilayah Tiongkok selatan yang berbatasan dengan Hong Kong.

Perselisihan meningkat, dengan satu orang menuangkan cairan kepada orang itu dan membakarnya. Polisi kemudian mengatakan, pria itu terlibat dalam pertengkaran dengan para demonstran pro-demokrasi, tetapi tidak mengidentifikasi pelaku. 

Namun demikian, Lam dengan cepat menuding dengan narasi bahwa “perusuh” bertanggung jawab. Selain itu,  tindakan mereka “tidak manusiawi.” Carrie lam juga menyebutkan mereka dengan narasi “musuh rakyat.”

Seorang reporter bertanya tentang pemrotes yang ditembak dan mengapa petugas polisi menggunakan senjata dinasnya, ketika pemrotes tidak mencoba menyerang secara fisik kelompok petugas tersebut. 

Lam menanggapinya dengan mengatakan bahwa konferensi pers polisi sebelumnya telah membahas hal tersebut. Dia menambahkan bahwa polisi akan menonton rekaman video dan mengambil pernyataan untuk menyelidiki insiden tersebut.

Selama konferensi pers harian polisi pada hari Senin, Kwok Pak-chung, komandan regional Hong Kong, mengklaim bahwa petugas polisi yang melepaskan tembakan demi membela keselamatannya sendiri. Ia mengklaim, karena  seorang pengunjuk rasa di dekatnya memegang batang logam.

Dalam sebuah video yang beredar luas tentang insiden itu, seorang petugas polisi mengarahkan senjatanya ke jarak dekat pada seorang pemrotes yang mengenakan hoodie putih sebelum memegang lehernya.

Seorang pengunjuk rasa kedua berpakaian hitam mendekati petugas dan kemudian mencoba untuk memukul pistol dari tangannya. Dia ditembak oleh petugas polisi dari jarak dekat dan langsung tersungkur.

Dua pengunjuk rasa lagi mendekati petugas dari belakang. Petugas kemudian menembakkan dua lagi dari jarak dekat. Salah satu pengunjuk rasa juga langsung tersungkur.

Mengenai kematian Chow, Lam mengatakan akan ada penyelidikan. Ia mengatakan polisi akan bekerja sama dengan penyelidikan untuk mengetahui penyebab di balik kematiannya.

Mengomentari slogan baru pemrotes yakni “membubarkan polisi,” pemimpin Hong Kong itu mengatakan, orang-orang perlu berpikir  apa jadinya Hong Hong tanpa kekuatan kepolisiannya. Dia mengklaim bahwa polisi telah berulang kali dinodai. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular