Emel Akan – The Epochtimes

Senator Amerika Serikat Josh Hawley mengatakan pada Selasa 12 November, bahwa situasi di Hong Kong menunjukkan niat nyata Komunis Tiongkok, yaitu untuk mendorong Amerika Serikat keluar dari kawasan Indo-Pasifik. Ia mengatakan, kebijakan luar negeri AS saat ini tidak memadai untuk mengatasi masalah tersebut. 

Berbicara di Center for a New American Security, sebuah wadah pemikir bipartisan, Hawley menyerukan perubahan dalam pendekatan kebijakan luar negeri sehubungan dengan era baru persaingan dengan Komunis Tiongkok.

Mengutip dari The Epochtimes, senator muda AS itu mengatakan, tawaran Komunis Tiongkok untuk mendominasi adalah ancaman keamanan terbesar bagi AS pada abad ini. 

Menurut politikus Partai Republika AS itu,  kebijakan luar negeri AS di seluruh dunia harus berorientasi pada tantangan tersebut dan terutama berfokus pada ancaman yang ditimbulkan.

Mantan Jaksa negara bagian Missouri, AS itu mengatakan, respons  Komunis Tiongkok terhadap protes pro-demokrasi Hong Kong menunjukkan dengan jelas “apa yang mampu dilakukan Beijing dan apa niat Beijing.”

Ia mengatakan, hal yang pertama yang dilakukan terhadap Hong Kong, lalu Taiwan, kemudian di seluruh wilayah.  Seraya menambahkan bahwa rezim Tiongkok “telah melakukan telegraphing” yang ia inginkan “untuk menjauhkan AS dari kawasan fasifik.

Hawley menguraikan, Dominasi komunis Tiongkok adalah ancaman langsung terhadap keamanan dan kemakmuran nasional AS.  Dia menambahkan, Indo-Pasifik adalah wilayah yang sangat vital bagi AS. Karena itu, negeri Paman SAM itu harus bisa berdagang di wilayah tersebut. Oleh karenanya, AS harus dapat memiliki akses ke wilayah pasifik dengan syarat-syarat yang bebas dan setara. Josh Hawley  mencatat, pentingnya wilayah indo pasifik untuk” kemakmuran kelas menengah dan pekerja AS.

Dia berargumen bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat, harus mengatasi tantangan baru. Selain itu, mampu “memastikan Komunis Tiongkok tidak menjadi kekuatan kekaisaran yang mendominasi kawasan dan sistem internasional.

Generasi Berlin

Josh Hawley telah mengunjungi Hong Kong pada bulan lalu dan berbicara dengan para aktivis di jalan-jalan. Setelah perjalanannya, ia memperkenalkan Rancangan Undang-Undang “Hong Kong Be Water Act,” bersama dengan Senator Rick Scott dan John Cornyn. Isinya menyerukan penggunaan Undang-Undang Global Magnitsky Act untuk menjatuhkan sanksi kepada Beijing dan Pejabat Hong Kong yang bertanggung jawab  menekan kebebasan di Hong Kong.

Josh Hawley mengatakan, dirinya benar-benar berpikir bahwa Hong Kong adalah Berlin dari generasi zaman sekarang.  Dalam arti bahwa Hong Kong melakukan perjuangan yang jelas untuk generasi saat ini, yaitu dengan Komunis Tiongkok yang mana semakin membela diri dan memperluas ekspansinya. Hal demikianlah, jurus yang sedang dimainkan di Hong Kong.”

Parlemen AS pada 15 Oktober lalu, dengan suara bulat mengesahkan Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong. 

RUU itu akan meminta pemerintah AS untuk melakukan tinjauan tahunan, apakah Hong Kong “cukup otonom” dari daratan Tiongkok. Langkah itu bertujuan, apakah layak mempertahankan hak perdagangan khusus dengan Amerika Serikat.

Sejak Juni lalu, aksi protes meletus di jalan-jalan Hong Kong. Dikarenakan khawatir RUU ekstradisi tersebut yang kini sudah ditarik, akan membuat Komunis tiongkok memperluas pengaruhnya di Hong Kong. Aksi demonstrasi telah berkembang menjadi gerakan yang mengadvokasi hak pilih universal dan kebebasan yang lebih besar bagi warga Hong Kong.

Josh Hawley juga telah menjadi kritikus secara blak-blakan terhadap perusahaan-perusahaan AS yang tunduk kepada tuntutan rezim Komunis Tiongkok. Seperti yang terjadi dengan NBA, Disney, dan lainnya,  adalah preview dari atraksi mendatang. Lebih jauh, perusahaan Amerika Serikat diserukan tidak boleh menjadi mesin senjata propaganda Komunis Tiongkok.

‘Universalisme Progresif

Senator dari negara bagian Missouri itu, juga mengkritik konsensus kebijakan luar negeri AS yang mana saat ini  dianut oleh kedua partai politik, yang menyebutnya “universalisme progresif.” 

Dia menilai Amerika Serikat masih hidup dengan “mabuk pasca-Perang Dingin.  Ia mengatakan, pada hari ini konsensus kebijakan luar negeri AS, pemikiran dan harapan yang dianut oleh kedua partai AS selama 20 tahun terakhir, tidak memadai untuk waktu saat ini dan  tidak tepat untuk masa depan AS.  

Konsensus yang ada telah membuat negara AS mengalihkan perhatian dari bahaya yang ada. Oleh karena itu, telah membuat AS tidak siap menghadapi tantangan yang  dihadapi, dan telah ditolak oleh orang-orang di dalam negeri. 

Hawley mengatakan bahwa, prinsip universalisme progresif telah mendorong “pola kerjasama berbasis aturan multilateral dengan seluruh sistem internasional. Selain itu,  memprioritaskan lembaga internasional seperti Organisasi Perjanjian Atlantik Utara dan PBB. (asr)

Share

Video Popular