Frank Fang – The Epochtimes

Kekerasan meningkat baru-baru ini di Hong Kong, khususnya dengan intensnya bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di sebuah universitas. Insiden tersebut telah memicu kecaman dari beberapa pejabat pemerintah AS.

Sebuah komisi Parlemen AS,  Congressional-Executive Commission on China -CECC – dalam cuitannya pada 13 Nov 2019 menyatakan, kekerasan yang meningkat di #HongKong sangat memprihatinkan. 

Komisi itu menyatakan, serangan yang direncanakan di kampus-kampus di mana lebih dari ribuan putaran gas air mata digunakan, menimbulkan pertanyaan yang mengganggu apakah strategi pemerintah Tiongkok adalah menciptakan lebih banyak kekacauan dan aksi protes baru.  

Seperti diketahui, polisi mengepung Chinese University of Hong Kong (CUHK) dalam kebuntuan selama berjam-jam, dengan mahasiswa di jembatan pada malam tanggal 12 November lalu. 

Pengunjuk rasa melemparkan batu bata dan bom bensin sebagai upaya untuk menghentikan pergerakan polisi ke kampus.  Sementara itu, petugas polisi menembakkan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.

Dalam jumpa pers harian pada 13 November, polisi mengatakan pihaknya menembakkan 1.567 tabung gas air mata, 1.312 butir peluru karet, dan 380 butir peluru kantong kacang pada 12 November. Mayoritas senjata aparat digunakan selama bentrokan di  Chinese University of Hong Kong. Satu-satunya aksi protes skala besar lainnya pada hari itu terjadi pada siang hari di kawasan Central.

Sebelumnya pada 12 November, mahasiswa telah memasang penghalang jalan di luar kampus. Aksi itu sebagai bagian dari aksi pemogokan di seluruh Hong kong. Aksi tesebut dipicu oleh kemarahan publik sebagai tanggapan atas kematian seorang mahasiswa berusia 22 tahun Alex chow Tsz-lok pada 8 November.

Alex Chow dirawat di rumah sakit pada 8 November, setelah bentrokan antara pemrotes dan polisi di kawasan Tseung Kwan O. Polisi telah membantah bertanggung jawab atas kematiannya.


Pada 13 November 2019, polisi menerobos masuk ke kampus-kampus universitas Hong Kong dan bergegas untuk menangkap mahasiswa muda. Para siswa sekolah menengah telah mengangkat spanduk “pemulihan Hong Kong, revolusi zaman”. (Wen Yulin /Epochtimes)

Congressional-Executive Commission on China menyatakan,  mengutuk pihak berwenang yang menggunakan kekuatan berlebihan dan mendukung tuntutan akuntabilitas, dialog politik, dan perlindungan kebebasan demokratis yang dijanjikan oleh #Beijing dalam Deklarasi Sino-Inggris.

Menanggapi bentrokan hebat, presiden serikat mahasiswa Chinese University of Hong Kong, Jacky So mengajukan permohonan pengadilan pada 13 November. Tuntutan itu berusaha untuk melarang polisi memasuki halaman kampus tanpa persetujuan sekolah atau surat perintah, serta  menggunakan senjata kendali kerumunan di kampus, menurut media lokal RTHK.

Share

Video Popular