- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Reporters Without Borders Mengecam Serangan Pembakaran Terhadap Tempat Percetakan Epochtimes Hong Kong

Erabaru.net. Organisasi Non-pemerintah Internasional yang melakukan penelitian mengenai dan mendukung kebebasan pers, Reporters Without Borders, mendesak pemimpin Hong Kong untuk mengakhiri kekerasan terhadap media.  Hal demikian menyusul serangan pembakaran terhadap tempat percetakan Epoch Times edisi Hong Kong.

Pada dini hari 19 November, empat orang penyusup bertopeng, termasuk dua orang yang  memegang tongkat, memasuki gudang tempat percetakan dan menyalakan api. Akibatnya merusak dua mesin cetak. Insiden tersebut tertangkap di rekaman pengawasan.

Cédric Alviani, kepala biro Reporters Without Borders Asia Timur, dalam pernyataan (22/11/2019) menyatakan, tingkat kekerasan terhadap jurnalis di Hong Kong telah melewati batas, di mana  pelaporan yang sederhana dapat membahayakan hidup jurnlis yang sama sekali tidak dapat diterima.  

Ia menambahkan bahwa Epoch Times Hong Kong telah secara aktif melaporkan aksi protes yang sedang berlangsung. Selama hampir 6 bulan, Hong Kong telah dilanda protes yang meluas sebagai perlawanan terhadap pengetatan penguasaan Beijing atas urusan Hong Kong.

Alviani juga mendesak Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam untuk “menjunjung tinggi tanpa menunda komitmen untuk melindungi kebebasan pers yang dia buat pada Agustus lalu dalam tanggapan tertulisnya kepada Reporters Without Borders.”

[1]

Alviani menambahkan, sejak awal demonstrasi Hong Kong pada Juni, jurnlis telah berada di bawah tekanan luar biasa dan banyak dari mereka menjadi korban tekanan dari penegak hukum dan mafia pro-Beijing.

Dalam satu kasus, seorang jurnalis Indonesia Veby Mega Indah secara permanen kehilangan penglihatan pada bagian mata kanannya setelah terkena peluru karet yang ditembakkan oleh polisi.

Ketika Hong Kong kembali ke pemerintahan Komunis Tiongkok pada tahun 1997 silam, rezim Komunsi Tiongkok pernah berjanji untuk mengizinkan Hong Kong mempertahankan otonomi dan kebebasannya di bawah kerangka kerja yang dikenal sebagai “satu negara, dua sistem.

Sejak itu, kebebasan pers di kota ini menjadi tegang. Peringkat Hong Kong pada RSF World Press Freedom Index telah anjlok dari peringkat 18 pada 2002 menjadi ke-73 tahun ini. 

Sementara itu, Tiongkok daratan berada di peringkat 177 dari 180 negara dan wilayah yang termasuk di dalam daftar.

Komentar Reporters Without Borders  setelah beberapa senator AS turut mengecam pembakaran tersebut. Senator AS menyebutnya sebagai serangan terhadap kebebasan pers.

“Menekan kebebasan berbicara dan kebebasan pers adalah tugas pertama para tiran, dan saya pikir itulah yang mereka coba lakukan,” demikian pernyataan Senator John Cornyn pada 19 November. (asr)

Video Rekomendasi :