The Epochtimes/Reuters

Lebih dari satu juta pemilih memadati tempat pemungutan suara di seluruh Hong Kong pada Minggu (24/11/2019). Kehadiran mereka sebagai rangka partisipasi dalam pemilu distrik yang dinilai sebagai barometer utama dukungan bagi pemimpin Hong Kong Carrie Lam. Hong Kong sudah dilanda aksi protes selama hampir enam bulan terkait protes meluasnya pengaruh komunis Tiongkok.

Melansir dari Reuters, jumlah pemilih dalam empat jam pertama sesuai dengan angka yang hanya tercapai pada malam hari saat pemilu empat tahun lalu, menurut data pemerintah. Ada kekhawatiran di kota yang berpenduduk 7,4 juta jiwa itu, bahwa pemungutan suara dapat dihentikan jika kekerasan meletus.

Reuters menyaksikan hanya ada sedikit kehadiran polisi saat pemungutan suara dimulai, berbeda dengan laporan bahwa polisi anti huru hara berencana untuk menjaga semua TPS dan hampir seluruh pasukan berjumlah 31.000 akan bertugas.

Sebanyak 1.104 kandidat bersaing untuk 452 kursi anggota dewan distrik Hong Kong. Jika para pembela kebebasan dan pro-demokrasi mendapatkan kendali di kursi anggota dewan distrik, mereka dapat memperoleh enam kursi di Dewan Legislatif atau parlemen Hong Kong, dan 117 kursi di panel beranggotakan 1.200 orang yang memilih kepala eksekutif Hong Kong.

Sedangkan Carie Lam yang didukung Komunis Tiongkok saat memasukkan  surat suara di kotak suara di depan kamera televisi, ia berjanji bahwa pemerintahnya, akan mendengarkan “lebih intensif” pandangan dewan distrik. Meskipun secara luas pemerintahannya dinilai tidak berhubungan dengan penduduk. 

Carie Lam juga menyatakan harapan bahwa ketenangan yang jarang terjadi dalam kekerasan selama beberapa hari terakhir akan bertahan. Carrie Lam selama ini selama kerap melontarkan tuduhan dengan narasi-narasi bahwa demonstran sebagai perusuh. 

Pada 24 November 2019, Hong Kong mengadakan pemilihan dewan distrik dan kawasan pemilihan Dewan Distrik Tuen Mun. (Yu Tianyou / Epoch Times)

Aksi protes terhadap  Komunis Tiongkok kadang-kadang membuat  penutupan kantor pemerintah, bisnis, dan sekolah dalam krisis politik terburuk di kota ini dalam beberapa dasawarsa. Itu terjadi ketika polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, dan meriam air. Demonstran menolak kekerasan dan kebrutalan polisi. Tuntutan itu merupakan salah satu tema aksi perlawanan massa. 

Aksi protes di Hong Kong telah menjadi tantangan terbesar bagi pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping sejak ia berkuasa pada Tahun 2012 silam.

Pada Hari Minggu 24 November, adalah hari ketujuh pertikaian di Universitas Politeknik Hong Kong. Suasana kampus dikelilingi oleh polisi ketika beberapa pemrotes bersembunyi di lapangan yang luas dipenuhi oleh pekerja pertolongan pertama.

Pada 24 November 2019, Hong Kong mengadakan pemilihan dewan distrik dan situs pemilihan Dewan Distrik Tuen Mun. (Yu Tianyou / Epoch Times)

Demonstran menolak keras meluasnya campur tangan Komunis Tiongkok atas kebebasan yang dijanjikan, ketika kembali ke pemerintahan Komunis Tiongkok pada tahun 1997 silam. 

Serangan brutal terhadap para kandidat pemilu telah mendorong peringkat pemerintahan Hong Kong menjadi sorotan dunia, ketika pemerintah berjuang untuk mengendalikan protes. Bahkan kandidat Pro Demokrasi Joshua Wong dilarang menjadi calon kandidat anggota distrik. 

Manajer transaksi bank, Wong ketika ia menunggu untuk memilih di kawasan Yuen Long, dekat perbatasan Tiongkok kepada Reuters mengatakan, dirinya sangat bangga ketika melihat begitu banyak orang hadir pada saat itu. Ia menyatakan tidak menyukai pemerintah, bertepatan pada 21 Juli lalu  ada banyak kemarahan di wilayah tersebut. 

Apa yang disampaikan Wong, merujuk kepada serangan dari tersangka mafia terhadap pengunjuk rasa pro Demokrasi di stasiun Komuter terdekat.Aktivis muda pro-demokrasi kini berjuang pada beberapa kursi yang dulunya didominasi oleh kandidat pro-Beijing. Joshua Wong, salah satu aktivis paling terkemuka, pada hari Minggu mendesak warga ikut memilih untuk menunjukkan “ketidakpuasan kepada Beijing.”

Pada 24 November 2019, dalam pemilihan Dewan Distrik 2019 di Hong Kong, Carrie Lam memilih di High Bishop’s College di Robinson Road pagi-pagi sekali, dan dilindungi oleh sejumlah besar polisi dan petugas polisi berpakaian preman. (Song Bilong / Epoch Times)

Jimmy Sham, seorang kandidat dari Front Hak Asasi Manusia Sipil, yang mengorganisir beberapa demonstrasi massa anti-pemerintah dalam beberapa bulan terakhir, dipukuli oleh preman dengan palu pada bulan Oktober lalu.

Jimmy Sham mengatakan, pihaknya bisa melihat warga Hongkong merindukan kesempatan untuk mengekspresikan pendirian mereka. Ia berharap warga Hong Kong dapat memilih masa depan Hong Kong. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular