Bowen Xiao – The Epochtimes 

Amerika Serikat pada (5/12/2019) menuding pasukan keamanan Iran berpotensi membunuh lebih dari 1.000 jiwa. Tindakan tersebut sebagai bagian dari pemberangusan terhadap aksi protes baru-baru ini.

Sementara itu, Pentagon sedang mempertimbangkan apakah akan mengirim pasukan tambahan untuk membantu memerangi penindasan dengan kekerasan.

Brian Hook, perwakilan khusus AS untuk Iran, kepada wartawan yang dikutip dari Associated Press mengatakan, penghitungan didasarkan pada berbagai laporan yang keluar dari Iran serta analisis intelijen.

Angka terbaru jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Presiden Donald Trump pada 3 Desember menyerukan agar media masuk ke Iran untuk membantu memantau dan melaporkan situasi yang sedang berkembang.

Berbicara di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Brian Hook mengatakan Amerika Serikat telah menerima dan meninjau video satu insiden penindasan khusus di kota Mahshahr, di mana Korps Pengawal Garda Revolusi Iran telah menumbangkan setidaknya 100 pengunjuk rasa dengan tembakan senapan mesin.

Pemerintahan Trump pada bulan April lalu, secara resmi menetapkan Korps Pengawal Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris asing. Larangan tersebut sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Iran langsung mengutuk kebijakan AS itu.

John Rood, wakil menteri pertahanan AS untuk kebijakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS bahwa Menteri Pertahanan Mark Esper “bermaksud untuk melakukan perubahan” terhadap jumlah pasukan yang dikerahkan di wilayah tersebut.

Pejabat lainnya mengatakan opsi yang dipertimbangkan dapat melibatkan pengiriman antara 5.000 dan 7.000 tentara ke Timur Tengah. Akan tetapi menekankan belum ada keputusan akhir.

Menyusul pemberitahuan dari Kemenlu AS, Senator AS Ben Sasse dari Anggota Komite Senat untuk Intelijen, mengutuk tindakan yang dilakukan oleh Korps Pengawal Garda Revolusi Iran.

Korps Pengawal Garda Revolusi Iran adalah cabang militer Iran yang dikendalikan oleh Pemimpin Tertinggi Syiah Iran, Ali Khamenei.

Senator AS Ben Sasse berkata : “Mullah Iran direndam dalam darah. Pembantaian setidaknya seribu pria, wanita, dan anak-anak menunjukkan sebenarnya kediktatoran Iran yakni kekuatan yang komplet dan brutal.”

Senator AS Ben Sasse menambahkan : “Jika para Mullah melayani orang-orang Iran daripada ideologi mereka yang jahat, mereka tidak akan menebang pemrotes yang tidak bersalah dan menumpuk mayat-mayat seperti kayu bakar.”

Lebih jauh ditegaskan bahwa sanksi Amerika telah membuat para preman yang sebenarnya di Teheran gelisah, dan mereka mencaci makinya. Karena itu, AS harus terus merapatkan kendali, dan sekutu-sekutunya di seluruh dunia akan membantu.

Amnesty International melaporkan pada 2 Desember, bahwa setidaknya 208 orang diyakini telah tewas selama demonstrasi anti-pemerintah di Iran.

Protes anti-pemerintah juga telah mencengkeram tetangganya Irak sejak 1 Oktober lalu. Ketika ribuan orang turun ke jalan-jalan di Baghdad dan selatan yang didominasi oleh penganut Syiah.

Gerakan yang sebagian besar tanpa pemimpin itu, menuduh korupnya pemerintah dan mengecam pengaruh rezim Iran yang semakin besar dalam urusan negara Irak.

Brian Hook mengungkapkan salah satu video dari puluhan ribu pengiriman yang telah diterima Amerika Serikat. Laporan tersebut sejak Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengimbau kepada Iran pada November lalu untuk menyerahkan bukti kekejaman oleh pihak berwenang dalam meredam protes.

Rezim Iran mengakui bahwa pada 27 November, lebih dari 200.000 orang berpartisipasi dalam aksi protes. Sebanyak 7.000 orang ditangkap. Aksi tersebut menandai kemungkinan demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam sejarah selama 40 tahun rezim Iran.

Aksi protes meluas di Iran pada 15 November, setelah pihak berwenang mengumumkan skema penjatahan BBM terbaru. Dampaknya menyebabkan kenaikan harga BBM hingga 50 persen.

Dalam satu contoh bentrokan kekerasan sebelumnya, setidaknya 45 pengunjuk rasa ditembak mati oleh pasukan keamanan Irak pada 28 November. Kejadian itu setelah demonstran membakar konsulat Iran pada malam sebelumnya. (asr) 

The Associated Press berkontribusi dalam laporan ini

 

 Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular