The Associated Press via The Epochtimes

Investigasi terhadap perdagangan lebih dari 600 anak gadis dan wanita Pakistan telah dihentikan. Mereka-mereka ini  diduga dijual untuk pengantin pria Tiongkok dan dibawa ke Tiongkok dalam kurun waktu 18 bulan. Penyelidikan tersebut dikhawatirkan akan merusak hubungan dengan Beijing. Laporan tersebut dikonfirmasi dari sebuah laporan yang ditemukan oleh Kantor berita Associated Press.

Hasil investigasi The Associated Press yang dilaporkan pada 4 Desember menemukan, para saksi dan penyelidik kasus perdagangan wanita ke Tiongkok, diancam dan dipaksa untuk bungkam dengan suap dari pejabat pemerintah Pakistan.  Pejabat-pejabat ini  takut penyelidikan tersebut akan merusak hubungan yang menguntungkan antara Islamabad dengan Beijing.  

Kantor berita memperoleh daftar berisi nama-nama 629 anak gadis dan perempuan, yang disusun oleh penyelidik Pakistan. Mereka-mereka ini  awalnya bertekad untuk membongkar jaringan perdagangan manusia. Yang mana, mengeksploitasi warga miskin dan kelompok rentan di negara itu.

Akan tetapi, kasus terbesar terhadap perdagangan manusia tersebut menjadi berantakan, ketika pengadilan di Faisalabad pada bulan Oktober lalu membebaskan 31 warga negara Tiongkok. Sebelumnya semua warga Tiongkok itu didakwa sehubungan dengan kasus perdagangan manusia. 

Beberapa wanita yang awalnya diwawancarai polisi, menolak untuk memberikan kesaksian karena ancaman dari pejabat pemerintah. Hal demikian diungkapkan oleh seorang pejabat pengadilan dan seorang penyidik polisi yang akrab dengan kasus tersebut kepada Associated Press.

Saleem Iqbal, seorang aktivis Kristen yang membantu orangtua korban menyelamatkan sejumlah gadis muda dari Tiongkok dan mencegah perdagangan orang lainnya, kepada Associated Press mengatakan, bahwa pemerintah telah memberikan “tekanan besar” kepada para pejabat dari Biro Investigasi Federal. Tak lain, ketika untuk mengejar jaringan perdagangan manusia, yang secara efektif membatasi penyelidikan.

Iqbal mengatakan, beberapa pejabat Biro Investigasi Federal bahkan dipindahkan. Ditambah lagi, Ketika pihaknya berbicara dengan penguasa Pakistan, mereka tidak memperhatikan apa pun.

“Pihak berwenang menolak untuk menindaklanjuti dengan penyelidikan penyelundupan di wilayah ini. Akibatnya, situasinya memburuk,” hal demikian dibeberkan oleh seorang pejabat senior yang mengetahui kejadian tersebut kepada Associated Press dengan syarat anonimitas.

Salah seorang perwira yang menolak menyebutkan namanya mengatakan : “Tidak seorang pun berbuat sesuatu untuk menyelamatkan perempuan-perempuan ini.” 

Bisnis gelap itu “kini berlanjut dan bahkan berkembang. Kenapa? Karena mereka tahu tidak akan lolos begitu saja. Otoritas tidak akan menindaklanjuti dugaan kasus dan semua didesak agar tidak menyelidiki kasusnya. Perdagangan manusia sekarang meningkat.”

Seorang perwira mengatakan, “saya harus hidup dengan diri sendiri. Di mana rasa kemanusiaan kita?”

Dalam sebuah pernyataan pada 2 Desember yang dikirim melalui faksimili ke biro Associated Press Beijing, Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok mengklaim  tidak mengetahui daftar yang disusun oleh para penyelidik Pakistan.

Laporan Deutsche Welle Indonesia menyebutkan, saat ini Pakistan juga banyak bergantung dari bantuan finansial untuk proyek raksasa jalur sutera abad ke21 milik Tiongkok. Koridor ekonomi antara kedua negara misalnya mendapat kucuran dana senilai USD 75 miliar. Antara lain digunakan untuk pembangunan infrastruktur atau pembangkit listrik.

Saat ini di Tiongkok, permintaan untuk pengantin asing telah meningkat, sebuah warisan dari kebijakan satu anak yang condong menyebabkan ketidakseimbangan gender antara laki-laki dan wanita.  

Pada awal tahun 2019, Investigasi Associated Press telah berhasil membongkar praktik bagaimana minoritas Kristen Pakistan dijadikan target oleh makelar. Mereka  membayar para orangtua untuk menikahkan anak perempuannya dengan pria Tiongkok. Para pengantin wanita itu hidup terisolasi. Mereka juga mengalami penganiayaan atau dijual untuk prostitusi.

 Associated Press telah berbicara dengan belasan korban, sebagian berhasil pulang ke kampung halaman, sementara yang lain terjebak di Tiongkok. Kesaksian juga dikumpulkan dari orangtua, tetangga, saudara korban dan pegiat Hak Asasi Manusia. Umat Kristen dibidik karena tergolong kelompok paling miskin di Pakistan.

 Laporan Associated Press menyebutkan, sindikat kejahatan kemanusiaan tersebut biasanya digerakkan oleh makelar Tiongkok dan Pakistan. Serta sejumlah pemuka agama lokal, biasanya dari gereja yang menerima uang suap untuk membujuk jemaat masing-masing agar mau menjual anak perempuannya.

Walaupun pengantin wanita awalnya sebagian besar berasal dari Vietnam, Laos, dan Korea Utara.  Ternyata pengantin wanita tersebut juga berasal dari negara-negara seperti Pakistan, Myanmar, bahkan pernah ada berasal dari Indonesia. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular