Nicole Hao – The Epochtimes

Pihak berwenang di wilayah kota Tiongkok Selatan menarik rencana pembangunan krematorium. Itu setelah warga setempat menggelar aksi protes berhari-hari. Aksi tersebut mendorong perbandingan dengan gerakan protes yang sedang berlangsung di Hong Kong.

Pekan lalu, warga di kota Wenlou di Provinsi Guangzhou, Tiongkok berselisih dengan polisi anti huru hara. Itu terjadi selama aksi protes terhadap rencana untuk pembangunan krematorium terbesar di daerah yang sebelumnya  dikatakan akan menjadi “taman ekologis.”

Cuplikan video yang dibagikan di media sosial menunjukkan polisi anti huru-hara tampaknya menembakkan gas air mata. Polisi juga memukuli pengunjuk rasa dengan tongkat. Video lainnya menunjukkan warga melemparkan petasan ke arah polisi dan membalik-balikkan mobil.

Warga mulai menggelar aksi protes pada Kamis 28 November dan berlanjut selama akhir pekan. Bahkan setelah pemerintah setempat mengumumkan penangguhan proyek pada akhir 29 November. 

Aksi demonstrasi berhenti setelah para pejabat mengumumkan penarikan rencana pada Minggu 1 Desember 2019. Pada sore 30 November, pemerintah setempat membebaskan semua pengunjuk rasa yang ditahan dan mengirim mereka kembali ke kota, menurut laporan media Hong Kong Apple Daily. 

Tetapi beberapa pengunjuk rasa yang dibebaskan mengatakan kepada media itu, bahwa polisi memberi tahu kepada mereka bahwa dibebaskan dengan status “persidangan yang tertunda,” dan dapat dikenakan proses hukum.

Sementara itu, protes skala kecil terhadap pabrik kimia, krematorium, dan fasilitas industri lainnya tidak jarang terjadi di daerah pedesaan Tiongkok, berita tentang peristiwa semacam itu paling disensor oleh rezim Komunis Tiongkok. 

Aksi protes di Wenlou — yang terletak sekitar 110 KM sebelah utara Hong Kong — terjadi di tengah kekhawatiran pemerintahan Komunis tiongkok bahwa demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong yang sekarang memasuki bulan keenam akan menyebar ke daratan Tiongkok.

Cuplikan video yang dibagikan di Twitter dan media sosial lainnya menunjukkan, warga Wenlou mengenakan topeng dan mengadopsi slogan mirip dengan yang digunakan oleh pengunjuk rasa di Hong Kong.

Para pengunjuk rasa terlihat berteriak, “Bebaskan Mao Ming [kota tempat Wenlou berada], revolusi zaman kita,” sebuah adaptasi dari slogan yang sangat populer digunakan oleh para pengunjuk rasa Hong Kong.  

Penduduk desa juga memiliki “lima tuntutan” kepada pemerintah daerah. Tuntutan termasuk: menghentikan proyek krematorium, menginvestigasi polisi atas penggunaan kekuatan untuk  menumpas protes, melepaskan para demonstran yang ditahan, dan merehabilitasi lokasi konstruksi.

Ungkapan Ketidakpuasan

Seorang penduduk setempat yang menolak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan aparat, kepada Epoch Times edisi bahasa Tionghoa mengatakan, bahwa beberapa hari sebelumnya  pejabat dari pemerintah kota Huazhou mengunjungi Wenlou dan memberi tahu penduduk setempat bahwa sebuah taman ekologis akan dibangun di kota itu.

Menurut penduduk tersebut, Kala itu, penduduk desa  sangat mendukung. Banyak warga desa senior yang tanahnya akan ditempati oleh taman menandatangani dokumen. Yang mana, memungkinkan proyek untuk dilanjutkan.

Namun demikian, semuanya berubah total. Pada 27 November pemerintah kota Huazhou merilis pernyataan yang mengatakan proyek itu termasuk krematorium. Penduduk desa selanjutnya menelusuri secara online tentang apa itu krematorium. Hasilnya menemukan bahwa emisi dari krematorium berbahaya bagi lingkungan. 

Pada pagi hari 28 November, penduduk setempat berencana untuk berkumpul di depan kantor pemerintah kotapraja setempat. Akan tetapi, mereka harus berhadapan dengan sekitar seribu polisi anti huru hara, menurut penduduk tersebut. “Kami belum pernah melihat polisi anti huru hara di kota kami sebelumnya,” demikian pengakuan  warga. 

Warga menambahkan, pemerintah kemudian mengerahkan ribuan polisi anti huru hara,  ambulance, drone, dan kendaraan anti huru hara di kota itu pada 28 November. Warga mengatakan, bahwa polisi mengendalikan jalan di dalam desa, dan menghalangi penduduk setempat untuk pergi ke kantor pemerintah setempat.

Warga itu mengatakan, Hanya penduduk yang tinggal di pusat kota pergi ke kantor pemerintahan kota yang berjumlah sekitar 100 orang. 

Sebelum pukul 11 pagi waktu setempat, seorang warga senior di desa itu dipukuli hingga tersungkur oleh polisi anti huru hara. Ternyata insiden tersebut direkam oleh penduduk desa yang berada di lokasi dan dibagikan di akun WeChat, sebuah media sosial populer Tiongkok yang mirip dengan Facebook.

Pemukulan aparat kepolisian tersebut membuat marah penduduk setempat. Kemudian warga menyerbu ke kantor pemerintah kota sebelum diusir oleh polisi. Kemudian kedua pihak mulai saling melempar batu.Warga mengatakan, dia menyaksikan dua siswa dan dua warga desa senior terluka akibat bentrokan. Dia juga melihat polisi menahan seorang siswa, seorang wanita, dan seorang pria tua.

Penduduk itu mengatakan, polisi sempat memobilisasi lebih dari belasan truk anti huru hara dari Kota Maoming. Selanjutnya, semakin banyak warga desa bergabung dalam aksi protes.

Selama konflik terjadi, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air. Ketika aksi protes meningkat, penduduk desa menemukan bahwa mereka tidak dapat berbagi video dan foto bentrokan secara online. Selain itu, tidak ada media pemerintahan Komunis Tiongkok yang setuju untuk melaporkan insiden tersebut.

Warga setempat menegaskan, Polusi krematorium akan membahayakan mereka. Warga juga menambahkan bahwa pemerintah Kota Huazhou sebelumnya berencana membangun krematorium di kota lain. Akan tetapi gagal setelah penduduk desa di kota itu juga menolak pembangunan krematorium tersebut. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular