Erabaru.net. Setiap hari, Pak Dam secara teratur berjalan sejauh 6 km ke tempat ia berjualan di Bangkok (Thailand) untuk menjual es serut dagangannya, yang hasilnya ia gunakan untuk merawat putranya yang cacat.

Sebuah kisah emosional tentang ayah dan anak diposting di situs web Wongnai Thailand. Gerobak es krim Pak Dam selalu mangkal di distrik Rat Burana, Bangkok. Setiap hari ia dan putranya berjalan 6 km di bawah terik Matahari ke tempat ini menjual es serut untuk mendapatkan uang.

Mungkin orang yang lewat hanya mempertimbangkan gerobak es krim Dam yang kecil seperti kebanyakan gerobak makanan cepat saji di Bangkok lainya. Namun, jika Anda mendengarkan ceritanya, mungkin banyak orang ingin berhenti menikmati es serut dan mendukung ayah tunggal ini.

Uang yang didapat Pak Dam terutama digunakan untuk merawat putra satu-satunya yang cacat. Putranya mulai menunjukkan tanda-tanda cacat fisik pada usia 8 bulan. Menyadari bahwa anaknya berkembang secara tidak normal, istrinya tanpa ampun meninggalkan mereka.

Pada saat itu, saat memikirkan nasibnya hidupnya membuat Pak Dim bahkan ingin bunuh diri. Tetapi dia tidak melakukannya, dia mengatasi rasa sakit dan berpikir untuk membuka usaha kecil-kecilan untuk membesarkan anak.

Ketika ditanya oleh reporter bagaimana dia bisa mengatasi kehidupan yang bergejolak, dia berkata dia mencoba untuk fokus pada hidupnya saat ini dan menemukan kegembiraannya sendiri.

“Masa lalu harus hanya masa lalu dan kita harus berusaha bahagia di masa sekarang. Masa depan juga tidak dapat diprediksi, tidak perlu dikhawatirkan, ” katanya.

Menurut World of Buzz, es serut Pak Dam sangat menarik, pelanggan dapat memilih jenis sirup atau topping seperti jelly, roti, jagung … Semangkuk es serut dijual seharga 15 Bath (sekitar Rp 7 ribu) tetapi kemudian karena pelanggan mengkritik mahal, ia menurunkan harganya menjadi 10 Bath (sekitar Rp 4,6 ribu).

Saat berbicara dengan Reporter Wongnai, Pak Dam tiba-tiba berhenti dan membuat semangkuk es serut untuk seorang laki-laki buta di pinggir jalan.

Dia bilang dia juga membuat es krim untuk orang miskin. Ketika ditanya, dia hanya tertawa bahwa hanya satu mangkuk Rp 4,6 ribu tidak terlalu berharga, apalagi dirinya juga mendapat untung cukup.

Dia berkata bahwa dia dulu sangat miskin dan tidak punya apa-apa untuk dimakan. Dia mengerti apa itu “kelaparan” dan ingin berbagi dengan orang lain sedikit ketika dia memiliki kesempatan.(yn)

Sumber: dkn.tv

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular