Erabaru.net. Pengguna media sosial Indonesia diramaikan dengan puluhan ribu tagar #IndonesiaStandsWithUyghur. Bersamaan itu, ada berita yang menyebutkan punggawa Arsenal dan mantan bintang Real Madrid, Mesut Oezil mengutuk penindasan Muslim Uighur. Ia juga menyindir negara-negara Islam yang membisu atas penindasan tersebut.

Tagar  #IndonesiaStandsWithUyghur ramai di medsos bersamaan dengan adanya perlawanan yang malah menyerang balik dengan tudingan bahwa media Wall Street Journal adalah media propaganda. 

 Salah satu akun menulis : “Sedikit lagi masuk Indonesia. Diawali dengan membungkam Tokoh agama yang keras terhadap kedzholiman.”

Sedangkan akun lainnya menuliskan dengan berbunyi : “Begitulah cara Pemerintah KOMUNIS China membungkam mulut Pemerintah Indonesia, Meski Pemerintah & NU Mengabaikan, Kami (Muslim INDONESIA) akan tetap bersama saudara/i Muslim kami di Uighur.” Cuitan tersebut juga menyertakan berita daring dari CNN Indonesia yang berjudul, Riset: Indonesia Diam Soal Uighur karena Investasi China.

Adapun netizen lainnya dengan akun @zapinm70 menuliskan dengan kata-kata Ketika akhirat dijual untuk segenggam Yuan… #IndonesiaStandsWithUyghur. Ada juga netizen yang menyindir :  Ini tidak akan disebut radikal intoleran ataupun ekstrem dengan tagar#IndonesiaStandsWithUyghur.

Ada juga netizen @abuhiraq yang mencantumkan China Cables. Dokumen-dokumen yang bocor mengungkapkan tentang penahanan dan perlakuan buruk terhadap Muslim Uighur. 

Netizen itu juga menulis tentang video drone memperlihatkan sekitar 600 orang kemungkinan Muslim Uighur dengan mata tertutup, kepala dicukur, dan tangan diikat. 

Ada juga netizen yang turut menuliskan #IndonesiaStandsWithUyghur  Semoga Allah membantu dan membebaskan mereka dr penjajahan komunis China.

“Ini bukan soal agama, ini soal hak asasi manusia. #IndonesiaStandsWithUyghur #SaveUyghurMoslem,” tulis netizen @NMoekijat.

Laporan The Wall Street Journal 

Kehebohan tagar tersebut bersamaan dengan laporan sebelumnya yang diterbitkan The Wall Street Journal pada 11 Desember 2019 dengan judul “How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps.”

Isi laporan tersebut menyebutkan bagaimana pihak Komunis Tiongkok disebut merayu sejumlah organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, sejumlah media Indonesia, akademisi hingga blogger agar tak lagi bersuara untuk mengkritik dugaan penindasan yang dialami oleh etnis Uighur di Xinjiang.

Laporan WSJ mengatakan pihak Tiongkok membiayai mereka berkunjung langsung ke kamp-kamp yang justru diklaim Komunis Tiongkok sebagai tempat pendidikan vokasi. Sebagaimana diketahui, pihak Komunis Tiongkok selalu memperluas narasi-narasinya ke seluruh dunia kamp-kamp tersebut bertujuan untuk memberantas radikalisme.

Laporan The Wall Street Journal

NU yang disebutkan dalam laporan tersebut langsung angkat bicara dengan penolakannya yang diterbitkan sejumlah media. Bahkan, Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, Robikim Emas angkat bicara saat diwawancarai secara live dalam Kabar Petang TV One Sabtu 14 Desember 2019.

Saat diwawancarai TV One, Robikim Emas secara terbuka menolak dalam laporan Wall Street Journal. Ia juga menegaskan tak bisa didikte dan dibeli oleh Tiongkok. Ia tak menampik adanya kunjungan secara langsung terhadap Kam-kamp yang ada di Xinjiang dan bertemu secara langsung tokoh-tokoh yang disebutnya sebagai Tokoh agama.  

Sedangkan dalam laporan sebelumnya yang dikutip oleh VOA Indonesia menyebutkan, bahwa PBNU secara yakin memastikan tidak ada kamp konsentrasi bagi Muslim Uighur. Sedangkan dalam kesempatan berbeda Dubes Tiongkok di Indonesia pernah menyambangi kantor PBNU. Dubes Tiongkok juga beberapa kali menyambangi petinggi PBNU. 

Bantahan serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah  Abdul M’uti ketika dikonfirmasi oleh CNN Indonesia.

Suasana bela Uighur di depan Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta Jumat 21 Desember 2018. Massa meneriakkan usir Komunis sekarang juga (Foto : M.Asari/erabaru.net)

Adapun, Majelis Ulama Indonesia juga membantah laporan WSJ tersebut. Akan tetapi, Kepala Hubungan Internasional MUI, Muhyiddin Junaidi dalam laporan CNN Indonesia menegaskan, tak semua petinggi agama yang ikut tur ke Xinjiang mendukung sikap Komunis Tiongkok terkait kebijakannya di wilayah itu.

Muhyiddin tak membantah bahwa kunjungannya ke Xinjiang pada Februari lalu, sangat dipantau ketat oleh pihak berwenang. Ia juga mengatakan bahwa orang-orang Uighur yang ia temui di sana terlihat ketakutan.

Muhyiddin mengatakan upaya Tiongkok untuk mengundang tokoh-tokoh Islam berpengaruh di Indonesia ke Xinjiang, didesain untuk “mencuci otak opini publik. Menurut dia, sejumlah tokoh Muslim Indonesia yang pernah mengkritik Tiongkok soal Uighur malah jadi membela Tiongkok.

Mesut Özil Bela Uighur

Adapun bintang Arsenal dan mantan punggawa Real Madrid, Mesut Oezil dalam akun twitter dengan 24 juta lebih follower dan akun instagramnya mengutuk penindasan komunis Tiongkok terhadap Uighur. Tentunya cuitan dan statusnya di akun medsosnya mendapat serangan balik dari netizen daratan Tiongkok yang pro Komunis Tiongkok. Walaupun akun-akun tersebut adalah akun boot, bahkan terlihat seperti baru menetas. Meskipun masih banyak netizen lainnya yang memberikan dukungan kepada Mesut Özil. 

Gelandang Jerman Mesut Özil merayakan pencetak gol saat pertandingan 16 Besar antara Jerman dan Aljazair di Stadion Beira-Rio di Porto Alegre selama Piala Dunia FIFA 2014 pada 30 Juni 2014. (PATRIK STOLLARZ / AFP / Getty Images)

“(Di Tiongkok), Al-Qur’an dibakar, masjid ditutup, sekolah-sekolah teologi Islam, madrasah dilarang, cendekiawan Muslim dibunuh satu per satu,” demikian tulisan Oezil.

Mesut Oezil dalam cuitannya menyindir negara-negara Islam yang tetap membisu atas terjadinya penindasan tersebut.

“Turkistan Timur. Luka berdarah umat. Mereka melawan kekuatan yang coba memisahkan mereka dari agama mereka. Para laki-laki ditahan di kamp, sementara keluarga mereka dipaksa hidup dengan orang-orang China. Para wanita juga dipaksa menikah dengan orang China,” tulis mantan bintang Timnas Sepakbola Jerman itu melanjutkan.

“Tak tahukah mereka bahwa menutup mata terhadap penindasan adalah sesuatu yang keji? Tak tahukah mereka bahwa bukan derita saudara-saudara kita yang akan dikenang, melainkan sikap diam kita? Oh, Tuhan, tolong saudara-saudara kami di Turkistan Timur,” demikian lanjutan tulisan Oezil.

FPI Serukan Ormas Islam Bertobat

Sementara itu, Juru Bicara FPI Munarman kepada CNNIndonesia mengatakan, ethnic cleansing terhadap muslim Uighur adalah bentuk musuh peradaban. Ia menyerukan kepada ormas Islam harus berada terdepan ketika mengecam komunis Tiongkok.

“Harusnya justru ormas-ormas Islam paling depan menyuarakan kekejaman komunis China terhadap saudara muslim Uighur. Bukan malah menyerukan agar umat Islam tidak mengganggu politik China,” demikian  keterangan Munarman kepada CNNIndonesia.com, Jumat 13 Desember 2019.

Pada wawancara itu, Juru Bicara Ormas yang terkenal dengan Imam Besarnya Habib Rizieq Syihab itu mengecam beberapa ormas Islam di Indonesia yang berhenti mengkritik pemerintahan Komunis Tiongkok karena mendapat suap dari Beijing. Munarman menegaskan bahwa suap-menyuap adalah tradisi komunis.

Aksi bela Uighur di Depan Kedubes RRT di Jakarta, 21 Desember 2018 (Foto : erabaru.net)

Munarman menyerukan kepada orang-orang dari ormas Islam segera bertobat. Ia menyerukan agar tak tergoda dengan rayuan seperti itu.  Ia menyayangkan, ormas Islam di Indonesia yang menuruti kemauan dari pemerintah Komunis Tiongkok.

“Dalam kaidah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, maka sudah pasti si penerima suap akan jadi kacung dan menyelipkan ekornya di antara kaki serta membungkuk takzim pada pemberi suap, semoga segera bertobat,” tutup mantan Ketua YLBHI itu. 

Upaya Komunis Tiongkok Bungkam Muslim Indonesia Soal Uighur

Melihat lagi dalam laporan Wall Street Journal, media itu menyebutkan bermula para ulama di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia itu menyatakan kekhawatirannya atas perlakuan Tiongkok terhadap Muslim minoritas etnik. Yang mana dalam laporan kelompok-kelompok HAM sekitar satu juta di antaranya telah ditahan di kamp-kamp pendidikan ulang.

Masih dalam laporan WSJ, para pemimpin Muhammadiyah, organisasi Muslim terbesar kedua di Indonesia, mengeluarkan surat terbuka pada bulan Desember 2018. Isinya mencatat laporan kekerasan terhadap komunitas Uighur yang “lemah dan tidak bersalah”, yang sebagian besar Muslim, dan meminta Beijing untuk menjelaskannya.

Segera setelah itu, Beijing mulai bertindak dengan kampanye bersama untuk meyakinkan otoritas agama dan jurnalis Indonesia. Pihak Beijing berdalih bahwa kamp pendidikan ulang di wilayah Xinjiang barat laut Tiongkok adalah upaya menyediakan pelatihan kerja dan memerangi ekstremisme.

Masih dalam laporannya, WSJ menyebutkan, sejumlah pemimpin agama Indonesia dibawa ke Xinjiang dan mengunjungi fasilitas pendidikan ulang. Tur gratis tersebut diikuti wartawan dan akademisi.

Saat itu, otoritas komunis Tiongkok memberikan presentasi tentang serangan teroris oleh Uighur dan mengundang pengunjung untuk bersembahyang di masjid-masjid lokal.

Lebih dari 1 juta warga Uighur dan warga minoritas lainnya dipenjara di Kamp Penataran, foto adalah para etnis Uighur yang dipenjara. (microblog administrasi yudisial Xinjiang)

Setelah itu, WSJ melaporkan, tampilan di Indonesia berubah. Seorang ulama yang melakukan tur dikutip dalam majalah resmi kelompok itu mengatakan bahwa sebuah kamp yang dia kunjungi sangat bagus, memiliki ruang kelas yang nyaman dan tidak seperti penjara.

Masih dalam laporannya, WSJ menyebutkan, upaya Tiongkok untuk membentuk opini — yang didukung oleh sumbangan dan dukungan finansial lainnya — telah membantu menumpulkan kritik terhadap perlakuannya terhadap orang-orang Uighur oleh negara-negara mayoritas Muslim — berbeda dengan kecaman secara blak-blakan yang disampaikan dari AS dan negara-negara Barat lainnya.

Menurut WSJ, Indonesia telah berada di garis depan upaya tersebut. Selama berbulan-bulan disebutkan, Komunis Tiongkok telah berupaya membujuk para ulama, politisi, dan jurnalis untuk mendukung kebijakannya di Xinjiang. Selain itu, mendorong para Influencer untuk mempromosikan pandangan yang lebih baik tentang Komunis Tiongkok dan menampilkan budaya Islam di negara itu.

Laporan Republika Dipermasalahkan Pegawai di Kedubes Tiongkok

WSJ juga turut melaporkan  soal jurnalis Surat Kabar Republika, Bayu Hermawan, yang turut melakukan perjalanan ke Xinjiang dalam sebuah tur yang diselenggarakan di Beijing pada bulan Februari lalu. Akan tetapi laporannya malah berbeda dengan tulisan lainnya. 

Hermawan mengatakan menerima pesan WhatsApp dari seorang pegawai kedutaan Tiongkok di Jakarta. Karyawan itu mengatakan dia kecewa dengan artikel tersebut karena memiliki kesalahan dan tidak fokus pada aspek-aspek positif dari perjalanan, menurut pesan yang diperlihatkannya kepada The Wall Street Journal.

Melihat lagi dalam laporannya di Surat Kabar Republik ternyata tulisan tersebut berjudul ‘Tuhan tak Diizinkan Disembah di Kamp Vokasi Xinjiang.’ 

Gedung Pusat Layanan Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan Kejuruan di Artux, Xinjiang, yang diambil pada 2 Juni 2019. Bangunan itu diyakini sebagai kamp penahanan yang terletak di utara Kashgar di Xinjiang, Tiongkok. Diperkirakan sebanyak 1 juta etnis Uighur dan sebagian besar minoritas Muslim lainnya ditahan di kamp penahanan di Xinjiang, namun, Komunis Tiongkok tidak memberikan rincian angkanya dan menyebut fasilitas ini sebagai pusat pendidikan kejuruan. (GREG BAKER / AFP via Getty Images)

Laporan tersebut menggaris bawahi bahwa selama di kamp vokasi yang mana nama itu selalu digembor-gemborkan Komunis Tiongkok ke mana-mana, Muslim Xinjiang tidak boleh melakukan shalat lima waktu.

“Meski kebanyakan penghuni kamar-kamar tersebut adalah pemeluk agama Islam, nyaris tak ada ruang untuk berdiri, rukuk, dan bersujud ke arah Makkah. Seperti Tuhan tidak diizinkan disembah di sana.”

“Tak ada sajadah, tak ada penanda kiblat, tak ada tasbih, tak nampak selembar pun Alquran. Aksesori milik penghuni hanya sebuah cangkir besar berisi sikat gigi dan pasta gigi semata.” Demikian tulisan jurnalis Republika itu.

“Perempuan yang ikut dalam program pendidikan, tidak ada satu pun yang mengenakan jilbab atau sekadar berkerudung. Semuanya sama dengan peserta pria, yakni mengenakan setelan jaket dan celana berwarna merah dengan aksen hitam,” demikian lanjutan  tersebut. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular