- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Dari Mesut Özil Hingga Guns N’ Roses yang Pernah Ditekan Komunis Tiongkok Karena Mengkritik Pelanggaran HAM di Tiongkok

Erabaru.net. Mesut Özil mencuit lantang atas kekejaman yang dialami oleh Muslim Uighur di Xinjiang, Tiongkok. Ia bertanya-tanya atas bungkamnya negara-negara Islam atas penindasan tersebut.

“(Di Tiongkok) Al-quran dibakar, masjid ditutup, sekolah-sekolah teologi Islam, madrasah dilarang, cendekiawan agama dibunuh satu per satu. Meski demikian, umat Islam tetap diam,” kata Özil dalam sebuah unggahan di akun Twitter dan Instagramnya yang memiliki puluhan juta follower.

Tak pelak, serangan keras dilakukan oleh Komunis Tiongkok dengan memberedel tayangan siaran Liga Primer Inggris Arsenal versus Manchester City pada Minggu 17 Desember 2019 lalu. Ia juga dituduh hanya mempercayai berita-berita palsu. Özil pun dirayu agar berkunjung ke Xinjiang.

Aksi itu lalu diikuti oleh buzzer pro Komunis Tiongkok  di medsos dengan serangan sumpah serapah. Insiden ini adalah yang terbaru antara industri olahraga dengan Komunis Tiongkok. 

Tak sebatas itu, perlakuan dihinakan dialami oleh Özil. Sebuah akunnya di Weibo, banjir serangan membabibuta. Bahkan, situs web berita olahraga di Tiongkok, Hupu, menghapus segala macam yang berkaitan dengan Ozil dari berita hingga pencarian.  Namanya juga dihilangkan dari video game Pro Evolution Soccer (PES) 2020 versi Tiongkok.

Nicholas Bequelin, Direktur Regional di Amnesty International, dalam situs resminya, mengungkapkan pihaknya telah banyak mendokumentasikan situasi di Xinjiang selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, telah mewawancarai lebih dari 400 orang di luar Tiongkok yang kerabatnya di Xinjiang masih hilang, serta orang-orang yang mengatakan mereka disiksa saat berada di kamp-kamp penahanan di sana. Amensty juga telah mengumpulkan foto-foto satelit kamp dan menganalisis dokumen resmi yang merinci program kamp massal.

Dinukil dari rilis di Amensty International Indonesia di situs resminya Amnesty.id [1], disebutkan pemerintah setempat dalam setahun 2018 terakhir meningkatkan kampanye penahanan massal, pengawasan intrusif, indoktrinasi politik, asimilasi paksa terhadap etnis Uighur dan Kazakhs serta kelompok etnis lainnya.

Mayoritas keluarga korban tidak mendapatkan informasi mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai. Mereka juga ketakutan untuk berbicara mengenai penahanan tersebut.

Menurut Amnesty, penahanan orang-orang dari kelompok etnis mayoritas Muslim di Xinjiang meningkat sejak Maret 2017, ketika aturan terkait “Deradikalisasi” diadopsi di daerah tersebut.

Secara terbuka atau pribadi menunjukkan afiliasi agama dan budaya termasuk menumbuhkan jengggot yang “tidak normal”, menggunakan hijab, melaksanakan ibadah, berpuasa atau tidak meminum alkohol, atau memiliki buku atau artikel terkait Islam ataupun budaya Uighur dapat dianggap sebagai “ekstremis”.

[2]
Sebuah gerbang dari apa yang secara resmi dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan yang sedang dibangun di Dabancheng, di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang, Tiongkok pada 4 September 2018. (Thomas Peter / Reuters)

Pemeriksaan keamanan yang hampir ada di setiap wilayah dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari bagi mereka yang tinggal di Xinjiang. Sering petugas keamanan memerika telepon genggam untuk memeriksa konten-konten yang mencurigakan atau memeriksa identitas orang-orang menggunakan software pendeteksi wajah.

Orang-orang dengan mudah dicurigai melalui pemantuan pesan-pesan yang dikirimkan di aplikasi media sosial seperti WeChat yang tidak menggunakan sistem enkripsi. Menggunakan aplikasi alternatif berenkripsi seperti WhatsApp bisa berujung pada penahanan.

Otoritas setempat menyebut kamp-kamp tersebut sebagai pusat “transformasi-melalui-pendidikan”, tapi banyak juga yang menyebutnya “kamp-kamp pendidikan ulang”. Mereka yang dikirim ke kamp-kamp tidak akan menjalani pengadilan dan tidak memiliki akses pengacara dan tidak memiliki hak untuk menggugat penahanan tersebut.

Orang-orang akan menderita berbulan-bulan di kamp-kamp penahanan karena hanya otoritas setempat yang berhak untuk menyatakan apakah seseorang telah “berubah” atau belum.

Otoritas setempat menjustifikasi penggunaan tindakan ekstrim tersebut dengan dalih untuk melawan “terorisme” dan menjamin “keamanan nasional”. Bagaimanapun juga, tindakan untuk melindungi warga negara dari ancaman harus proporsional.

“Kamp-kamp penahanan massal tersebut adalah tempat untuk mencuci otak dan menyiksa. Penahanan karena menghubungi keluarga di luar negeri menunjukkan betapa tindakan otoritas Tiongkok sangat tidak dapat dibenarkan,” kata Nicholas Bequelin.

[3]
Axl Rose of Guns N ’Roses tampil di The Joint di dalam Hard Rock Hotel & Casino pada malam pembukaan residensi band kedua,” Guns N ‘Roses Pada 21 Mei 2014 di Las Vegas, Nevada. (Foto oleh Ethan Miller / Getty Images)

Guns N’ Roses juga pernah mengalaminya. Komunis Tiongkok marah lalu melarang masuknya album dan lagunya ke Tiongkok. Hingga semua konten yang berbau GNR menjadi  terlarang. Sebenarnya, Komunis Tiongkok sudah terkenal dengan apa yang namanya “Great Firewall of China”.  Komunis Tiongkok benar-benar sepenuhnya melarang pihak-pihak yang tak sepaham dengan versi yang dimilikinya.

Pencekalan tersebut bermula albumnya yang berjudul Chinese Democracy yang dirilis pada 23 November 2008. Sebagian liriknya berbunyi “//Blame it on the Falun Gong, they’ve seen the end and you can’t hold on now//” artinya kira-kira Walaupun kalian menindas Falun Gong semaunya. Mereka akan menyambut hari berakhirnya penindasan, dan kalian sudah tidak bisa mempertahankan lagi penindasan itu.

Tak ada yang salah dari lirik lagu ini bagi orang terbuka mata hati dan nuraninya ketika melihat sebuah penindasan dan kekejaman.

Mengutip dari buku Deane Campbell Robinson yang berjudul Music At The Margin yang diterbitkan oleh Sage Publication, California,1991 menyebutkan bahwa “Musik, sebagai salah satu karya seni dapat dipahami sebagai sebuah simbol dalam komunikasi. Maka musikpun harus mampu merefleksikan realitas sosial di sekitarnya. Seperti simbol lainnya, musik mempunyai kemampuan untuk menghasilkan kembali atau menentang struktur sosial yang dominan.”

[4]
Sumber : Amazon

Falun Dafa [5] atau disebut juga Falun Gong adalah sebuah latihan kultivasi jiwa dan raga yang “berasimilasi dengan karakter tertinggi alam semesta – Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar) – sebagai fundamental, dengan karakter tertinggi alam semesta sebagai pembimbing, melakukan Xiulian sesuai prinsip evolusi alam semesta.”

Latihan Falun Gong ini terdiri dengan 5 perangkat gerakan termasuk meditasi yang mulai diperkenalkan di Tiongkok sejak 1992 silam. Akan tetapi, atas dasar kecemburuan, pada  20 Juli 1999 silam maka dicetuskan penindasan terhadap Falun Gong oleh  oleh Jiang Zemin selaku Sekjen Partai Komunis Tiongkok  pada saat itu.

Jiang Zemin dalam perintahnya menginstruksikan tiga instruksi yakni cemarkan reputasinya, bangkrutkan secara finansial dan hancurkan secara fisik.

Parahnya, semua itu dilakukan tanpa ada batasan apa pun. Bahkan, terhadap Falun Gong tak perlu mengatasnamakan hukum, boleh dianiaya sampai mati, dan mayatnya dibakar untuk menghilangkan jejak serta berbagai kejahatan genosida lainnya. Targetnya adalah memusnahkan Falun Gong dalam tempo tiga bulan.

Citra para praktisi Falun Gong pun dirusak dengan penyebaran berbagai hoax-hoax yang berseliweran. Menyedihkan lagi, banyak praktisi Falun Gong menjadi korban penindasan, dikirim ke kamp kerja paksa hingga organ tubuh mereka dicuri untuk diperdagangkan. (asr)

Video Rekomendasi :