Spionase perusahaan sering memiliki tiga jenis: Menyuap personel teknis untuk mencuri teknologi, menyelundupkan produk teknologi tinggi yang dilarang oleh negara-negara Barat ke Tiongkok. Atau mengirim departemen intelijen militer untuk mencuri intelijen teknis melalui peretasan database pemerintah dan perusahaan Amerika Serikat.

Alasan mengapa Komunis Tiongkok berusaha mendapatkan teknologi Barat yang canggih secara ilegal adalah tidak hanya untuk penggunaan domestik. Ada juga tujuan yang lebih besar. Komunis Tiongkok berupaya mengubah kekayaan intelektual curian menjadi keuntungan ekonominya sendiri.

Dengan kata lain, setelah memperoleh hak kekayaan intelektual perusahaan asing secara tidak patut, Komunis Tiongkok berbalik dan meluncurkan produk tiruan untuk dijual kembali ke pasar internasional. Seringkali dengan harga lebih murah.

Ini telah menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional Tiongkok dan cara bagi banyak perusahaan Tiongkok. Tak lain, untuk menghasilkan banyak uang. Ini juga menciptakan kerugian ekonomi yang besar bagi perusahaan-perusahaan Barat.

Meskipun ini merupakan pelanggaran langsung dari konvensi internasional mengenai perlindungan hak kekayaan intelektual, Komunis Tiongkok tidak pernah mengakui hal ini. Dikarenakan, konvensi internasional mengenai perlindungan hak kekayaan intelektual adalah sebanyak “perjanjian yang sopan” dan kendala lunak seperti aturan WTO.

konferensi WTO
Markas Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Jenewa pada 12 April 2018. (FABRICE COFFRINI / AFP / Getty Images)

Pada tanggal 25 September, publikasi propaganda asing resmi oleh Komunis Tiongkok, Duowei News (www.dwnews.com) menerbitkan editorial berikut:

“Setiap perjanjian internasional dapat dilanggar…ini karena perjanjian dalam suatu negara dapat dikatakan dan diawasi oleh pemerintah negara, sementara perjanjian internasional tidak menugaskan siapa pun untuk mengesahkan dan mengawasi. PBB, Pengadilan Internasional dan organisasi lain tanpa kekuatan eksekutif hanya dapat menjadi alat kekuasaan di dunia ini.”

Ini bukan hanya argumen yang mementingkan diri sendiri, tetapi juga mengungkapkan niat Komunis Tiongkok yang sebenarnya. Karena Komunis Tiongkok tahu bahwa tidak ada badan internasional dengan kekuatan penegakan hukum yang nyata. Yang mana, untuk mengawasi dan memberi sanksi secara efektif terhadap tindakan negara yang melanggar hukum dan peraturan internasional. Maka mengeksploitasi celah dalam sistem ini adalah hal yang harus dilakukan.

Terlebih lagi, Komunis Tiongkok bahkan berharap untuk menjadi “kekuatan internasional” pada suatu hari. Supaya Komunis Tiongkok dapat secara terbuka dan efektif memanipulasi PBB dan badan internasional lainnya.

Mengapa Hanya Amerika Serikat yang Menghantam Komunis Tiongkok?

Di dunia saat ini, sebagian besar negara maju telah bersikap lunak terhadap Komunis Tiongkok.

Sebagian besar negara maju memiliki ketidakpuasan, namun tidak berani menyinggung Tiongkok. Pasalnya, takut kehilangan peluang bisnis. Jika ini adalah benar untuk semua negara maju, maka Komunis Tiongkok dapat melakukan hampir semua yang diinginkannya.

Tetapi sejak tahun lalu, Amerika Serikat menentang upaya Komunis Tiongkok untuk menuai manfaat ekonomi dan teknologi yang sangat besar, dengan melanggar komitmen WTO dan pelanggaran mencolok dari konvensi kekayaan intelektual dunia.

Amerika Serikat memainkan peran ini, tentu saja, pertama karena Amerika Serikat adalah korban terbesar dari tindakan Komunis Tiongkok.

Amerika Serikat telah mampu memainkan peran ini, bukan dengan menggunakan kekuatan militer, melainkan kekuatan pasar. Yang berarti bahwa ekonomi Tiongkok telah menjadi sangat tergantung pada pasar Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Sehingga tindakan balasan dari Amerika Serikat akan sangat membebani Komunis Tiongkok.

Menurut laporan media asal Jepang Nikkei, Amerika Serikat telah membentuk struktur industri yang menghasilkan pendapatan dari aset tidak berwujud seperti kekayaan intelektual.

Dari perspektif struktur aset yang dipegang oleh perusahaan Amerika Serikat, aset tidak berwujud seperti paten yang mewakili pengetahuan teknologi dan merek dagang yang mewakili pengaruh merek telah mencapai 4,4 triliun dolar AS. Jumlahnya melebihi aset berwujud seperti pabrik dan peralatan.

Aset tidak berwujud merupakan 26 persen dari total aset di perusahaan Amerika Serikat, lebih dari dua kali lipat proporsi 10 tahun yang lalu. Akibatnya, bagian laba bersih global perusahaan-perusahaan Amerika Serikat telah melonjak menjadi 39 persen dari 25 persen satu dekade lalu. Angka itu dibandingkan dengan 6,4 persen di Jepang dan bahkan lebih kecil di Tiongkok.

Hal ini menyarankan dua hal :

Pertama, kekayaan intelektual Amerika Serikat adalah di antara yang terbesar di dunia. Oleh karena itu sangat didambakan oleh Komunis Tiongkok.

Kedua, jika Komunis Tiongkok terus mencuri kekayaan intelektual Amerika Serikat, maka Komunis Tiongkok mencuri yang terbaik dari kekayaan Amerika Serikat. Tindakan Komunis Tiongkok akan langsung mengarah pada “hasil zero-sum atau yang satu diuntungkan, yang satu dirugikan” dari kedua kekuatan tersebut.

Oleh karena itu, strategi ekonomi dan perdagangan Amerika Serikat saat ini terhadap Tiongkok adalah tidak memungkinkan Tiongkok untuk tetap mengambil keuntungan dari Amerika Serikat, atau menggunakan kekayaan dan teknologi Amerika Serikat untuk “senjata makan tuan.”

Namun, dalam negosiasi ekonomi dan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok, Amerika Serikat juga tidak memiliki sarana yang efektif untuk secara langsung menekan pelanggaran hak kekayaan intelektual.

Mengetahui hal ini, Tiongkok menolak membahasnya secara mendalam dengan dalih “urusan dalam negeri dan kedaulatan.”

Pelanggaran terhadap hak kekayaan intelektual adalah salah satu masalah inti dalam negosiasi Amerika Serikat-Tiongkok. Tetapi di sebagian besar negara, ini merupakan masalah yudisial dan tidak pantas bagi pemerintah untuk menegosiasikan kasus-kasus individual antara kedua pemerintah.

Di Amerika Serikat, penjualan barang bajakan dan barang palsu serta aktivitas lainnya, diatur oleh hukum komersial. Sedangkan pencurian kekayaan intelektual diatur oleh hukum pidana.

Penegakkan hukum perdata dan hukum pidana hanya dapat ditangani oleh Departemen Kehakiman yang independen. Sedangkan otoritas kehakiman di Amerika Serikat tidak dapat campur tangan dalam negosiasi diplomatik mengenai pelanggaran kekayaan intelektual.

Amerika Serikat tidak dapat berkomunikasi secara langsung dan efektif dengan Komunis Tiongkok mengenai pelanggaran hak-hak kekayaan intelektual, apalagi menahan Komunis Tiongkok. Sanksi yang efektif perlu ditemukan, dan menaikkan tarif hanyalah satu cara yang tersedia.

Karena masalah pelanggaran hak kekayaan intelektual tidak dapat didiskusikan secara langsung, Amerika Serikat hanya dapat menghubungkan dua masalah defisit perdagangan dengan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Serta menggunakan tarif hukuman sebagai sarana tekanan. Tujuannya, untuk membuat Tiongkok menahan pelanggaran hak kekayaan intelektual yang dilakukannya.

Penawaran Komunis Tiongkok pada bulan Oktober lalu menunjukkan, bahwa pendekatan Amerika Serikat telah memperoleh keberhasilan tertentu.

Akan tetapi masih ada jalan panjang dalam negosiasi antara kedua negara untuk menghentikan pelanggaran kekayaan intelektual yang dilakukan oleh Komunis Tiongkok. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular