oleh Chen Juncun

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada hari Rabu 18 Desember, bahwa rakyat Tiongkok berbeda dengan Partai Komunis Tiongkok. Rakyat Tiongkok ingin hidup dalam masyarakat bebas dan tidak mendukung Partai Komunis. Bahkan, Rakyat Tiongkok sedang memboikot Partai Komunis Tiongkok.

Pompeo membuat pernyataan di atas dalam sebuah wawancara dengan Washington Times pada hari itu. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak berniat mencalonkan diri dalam pemilihan Senat tahun depan. Ia akan tetap membantu Presiden Trump.

Ketika berbicara tentang kebijakan Tiongkok, Pompeo mengatakan bahwa pemerintah AS telah membuat kemajuan praktis tahun ini dalam memberitakan kepada dunia tentang ancaman dari pihak komunis Tiongkok.

 Pompeo percaya bahwa sementara ancaman komunis Tiongkok terus meningkat selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat justru sedang tidur nyenyak. Sedangkan Trump yang mulai mengungkap ancaman komunis Tiongkok kepada dunia dan berpikir tentang bagaimana menanggulanginya.

Pompeo dalam mengungkapkan tentang sifat dasar dari komunis Tiongkok mengatakan, partai komunis yang mengendalikan Tiongkok itu adalah partai yang bersifat dasar diktator, adalah nasionalisme etnis Han yang menggabungkan Marxisme-Leninisme. Partai tersebut  menolak kebebasan rakyat yang paling dasar, dan hal ini sedang terjadi di Xinjiang dan Hongkong.

Ia menyebutkan, bahwa lembaga-lembaga milik komunis Tiongkok mengendalikan informasi dan kegiatan militer, sekarang mereka sedang mengubah perilaku masyarakat Tiongkok melalui penerapan sistem kredit sosial yang ketat.

Amerika Serikat mengakui kebesaran rakyat Tiongkok, merasakan bahwa rakyat Tiongkok mendambakan adanya kebebasan dan menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Akan tetapi Partai Komunis Tiongkok menuntut yang sebaliknya.

Pompeo juga menekankan dalam wawancara tersebut bahwa ia tidak mendukung maupun menganjurkan untuk memutuskan hubungan ekonomi dengan Tiongkok. 

“Kebijakan kita tidak menganjurkan memutuskan hubungan. Kebijakan kita hanya meminta Tiongkok untuk menjalankan perdagangan secara adil, seimbang dan transparan”, kata Pompeo.

Ia mengatakan : “Memutuskan Hubungan hanya akan terjadi jika pihak Tiongkok memutuskan untuk tidak melakukan perdagangan dengan cara ini. Itu adalah keputusan negara mereka”.

Komunis Tiongkok mengembangkan diplomasi perangkap utang melalui melepas pinjaman kepada negara lain untuk pembangunan infrastruktur. Sedangkan, komunis Tiongkok memperoleh hak kendali atas aset ketika negara debitur tidak mampu membayar utang. Hal ini dapat memicu pemutusan ekonomi antara AS dengan Tiongkok.

Pompeo mengatakan, bahwa tujuan Trump memungut tambahan tarif impor dan penerapan langkah-langkah perdagangan yang ketat adalah untuk mengubah perilaku komunis Tiongkok dalam perdagangan. Selain itu, untuk mempromosikan perdagangan yang lebih adil.

Ia mengatakan bahwa dengan berlangsungnya negosiasi perdagangan AS – Tiongkok, Amerika Serikat berharap bahwa hambatan tarif dan non-tarif dapat berkurang di kemudian hari. Sedangkan perdagangan meningkat dan transparansi yang lebih besar. Jika Amerika Serikat berhasil membuat kemajuan ini, pemutusan hubungan tidak akan terjadi. Tetapi apakah komunis Tiongkok juga  bersedia melakukan hal ini, ini tergantung pada keputusan mereka. (sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular