- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Forum Mereview Gerakan Akar Rumput Rakyat Tiongkok Mundur dari Partai Komunis Tiongkok

Mandy Thompson – The Epochtimes

Gerakan mengundurkan diri dari Partai Komunis Tiongkok menandai Hari HAM Internasional dalam sebuah forum yang digelar di Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, pada 10 Desember 2019. 

Disponsori oleh Global Tuidang Center atau gerakan pengunduran diri dari Partai Komunis Tiongkok, sejumlah pembicara mereview gerakan akar rumput ini. Mereka menceritakan penganiayaan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok. 

Turut berbicara pada kesempatan tersebut komisioner dari Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional atau United States Commission on International Religious Freedom -USCIRF-  menanggapi penganiayaan di Tiongkok.

Gerakan pengunduran diri dari Partai Komunis Tiongkok adalah gerakan perlawanan sipil terbesar di dunia. 

[1]
Komisioner Gary Bauer dari U.S. Commission on International Religious Freedom atau Komisi Kebebasan Beragama Internasional A.S. berbicara di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Global Tuidang Center di Capitol A.S. pada 10 Desember 2019. (Lynn Lin / Epoch Times)

Menurut informasi yang tersedia di situs web Tuidang Center, kini sudah mencapai sebanyak 348 juta rakyat Tiongkok per  tanggal 26 Desember 2019, telah menyatakan mengundurkan diri dari Partai Komunis Tiongkok dan organisasi yang berafiliasi dengannya.

Dr. Charles Lee, seorang perwakilan dari Pusat Tuidang Center, mengatakan penganiayaan Komunis Tiongkok terhadap para praktisi dari disiplin spiritual Falun Gong telah menjadi “pelanggaran hak asasi manusia yang paling brutal, paling kejam dan paling meluas” di dunia. 

Falun Gong terdiri latihan meditasi dan hidup sesuai dengan ajaran berdasarkan prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar.

Dr. Charles Lee mengatakan, buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis Tiongkok,” sebuah serial editorial yang pertama kali diterbitkan oleh The Epoch Times pada tahun 2004, membantu orang-orang untuk mengetahui watak sebenarnya dari Partai Komunis Tiongkok. Hingga membuat mereka memutuskan untuk mundur dari partai Komunis dan organisasi yang berafiliasi dengannya. 

[2]
Charles Lee berbicara di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Global Tuidang Center di Capitol A.S. pada 10 Desember 2019. (Lynn Lin / Epoch Times)

Gerakan untuk mundur dari Partai Komunis juga membantu rakyat Tiongkok kembali kepada kebudayaan dan kepercayaan tradisional Tionghoa, yang telah dicoba dilenyapkan oleh Partai Komunis Tiongkok selama enam dekade terakhir.

Upaya damai selama dua puluh tahun dari praktisi Falun Gong untuk menentang penganiayaan telah membentuk “standar emas bagi orang-orang untuk memilih antara yang baik dan yang jahat, kebenaran dan kebohongan, belas kasih dan kebencian, kesabaran dan kehancuran, surga dan neraka.” 

Dr. Charles Lee  mengatakan, Mendukung Falun Gong berarti berdiri kepada kebenaran dan keadilan, dan menjauhkan diri dari Partai Komunis

Yijie Zhang, mantan kepala divisi di Departemen Perdagangan Tiongkok, telah menjadi praktisi Falun Gong sejak 1994 silam. 

Dia berbagi pengalamannya menjadi korban penganiayaan Komunis Tiongkok selama dua puluh tahun terakhir. Karena dia tidak melepaskan keyakinannya, Zhang akhirnya dicopot dari jabatannya dan diberhentikan oleh Kementerian.

Suaminya, yang juga seorang pejabat pemerintah tingkat menengah di Kementerian Perdagangan, dibebaskantugaskan dari promosi dan kariernya dipengaruhi secara negatif oleh penganiayaan terhadap istrinya. 

Begitu juga yang menimpa anak-anak Zhang. Ia ditangkap sebanyak tujuh kali oleh  Komunis Tiongkok dan disiksa hampir tewas ketika dipenjara secara ilegal. Dia akhirnya melarikan diri ke Amerika Serikat pada Oktober 2017, dengan bantuan anggota Kongres Amerika Serikat dan komunitas internasional. 

Zhang menyerukan kepada orang-orang di seluruh dunia yang menjunjung tinggi keadilan untuk membantu mengakhiri partai Komunis Tiongkok dan penganiayaan terhadap Falun Gong.

[3]
Yijie Zhang berbicara di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Global Tuidang Center di Capitol A.S. pada 10 Desember 2019. (Lynn Lin / Epoch Times)

Gary L. Bauer, president of American Values dan komisioner Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS  mengatakan dia “selalu terinspirasi dan terkesan” oleh “martabat dan keberanian praktisi Falun Gong dalam menghadapi kejahatan seperti itu, untuk melewati semua kesulitan dan ancaman kematian di Tiongkok.

Salah satu peran USCIRF, kata Bauer, adalah mengidentifikasi pemerintah yang melanggar hak asasi manusia termasuk kebebasan berkeyakinan dan beragama. 

Jika pihaknya menciutkan anggaran dan sumber daya agar dapat memantau hanya pada satu pemerintah  terkait hak asasi manusia, itu sangat baik bagi menjadi komunis Tiongkok. Dikarenakan, rezim komunis itu “memiliki meluasnya penyebaran pelanggaran hak asasi manusia. “

Ketika ia bekerja sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Asisten Presiden Reagan untuk Pengembangan Kebijakan, Bauer mengatakan bahwa ada banyak perdebatan di akhir tahun 1980-an di Washington. Saat itu, tentang apakah Amerika Serikat harus terus mempromosikan perdagangan dengan Tiongkok,  harapan kala itu akan membawa perubahan positif ke Tiongkok.

“Saya bangga mengatakan bahwa saya adalah salah satu dari mereka yang berpendapat bahwa itu tidak akan mengubah Tiongkok,” kata Bauer. 

“Faktanya, lebih banyak perdagangan dengan Tiongkok pada akhirnya akan mengubah Amerika Serikat,” ujarnya.

Lebih miris lagi seperti yang disaksikan orang-orang, Bauer mengatakan bahwa orang Amerika memahami apa yang terjadi di Tiongkok, tetapi mereka kurang berminat untuk memecahkan status quo. Berbagai kalangan di komunitas bisnis lebih tertarik pada keuntungan bisnis semata daripada menjadi suara bagi rakyat Tiongkok dan hak asasi mereka. Situasi ini semakin memperumit tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dengan Tiongkok pada saat ini.

Bauer mengutip kata-kata Presiden Reagan yang mengatakan “dunia tidak dapat bertahan hidup setengah perbudakan dan setengah kebebasan.” Untuk mengubah dunia yang lebih baik,  Reagan mengabdikan dirinya untuk mengakhiri perbudakan di negara-negara bekas Uni Soviet.

Diangkat di USCIRF oleh Presiden Donald Trump, Bauer percaya Trump memahami masalah hak asasi manusia di Tiongkok. Trump juga  akan terus bekerja kepada mereka saat ia menghadapi masalah perdagangan dan keamanan nasional AS.

Turut berbicara pada forum itu: Anggota Kongres Steve King (R-Iowa); Pembelot Pengacara HAM Tiongkok Chen Guangcheng; Chris Chappell, pembawa acara program NTD “China Uncensored”; dan Dr. Wang Zhiyuan, presiden Organisasi Dunia untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong. (asr)

Video Rekomendasi :