oleh Ren Zhong – Epochtimes.com

Baru-baru ini, banyak warga daratan Tiongkok bergegas ke bank untuk membeli  50.000 dolar AS atau setara dalam mata uang asing per orang per tahun yang telah diizinkan pemerintah. Seperti diwartakan Epochtimes.com pada 27 Desember 2019, warga mencoba segala cara untuk mentransfernya ke luar negeri, atau dibawa sendiri saat ke luar negeri, atau memegang uang tunai dalam dolar AS.

Namun, keinginan rakyat yang sah belum tentu berhasil diwujudkan. Karena setiap bank memiliki caranya sendiri untuk menghalangi pembelian valas bagi masyarakat. Lihat saja kota Beijing yang lebih longgar dalam kontrol pembelian valas, bagaimana cara perbankan menghambat.

Cara pertama, bank berusaha menghambat atau mengurangi jumlah pembelian valas warga. Pertama-tama, bank akan mengajukan berbagai pertanyaan untuk mempersulit warga. Jika jawabannya dianggap oleh petugas bank sebagai tidak masuk akal, jangan pernah berpikir untuk mengubah sepeser pun, langsung akan ditolak. Jika jawabannya diterima, bank akan bertanya lebih banyak. 

Misalnya saja, jawaban tujuan tukar valas adalah belanja saat berpariwisata yang merupakan salah satu alasan yang diijinkan pemerintah, maka petugas bank akan coba menawar untuk mempengaruhi warga agar tidak membeli sebanyak itu yakni 50 ribu dolar AS untuk bepergian dan berbelanja. Singkatnya, jika mereka bisa menghalau maka mereka akan menghalau rencana pembelian valas warga.

Cara kedua, bank berusaha mencegah masyarakat mengirim devisa ke luar negeri. Mengirim valas ke luar negeri setelah pertukaran lebih dipersulit daripada menyimpannya di bank dalam negeri. 

Beberapa bank malahan mengharuskan nasabah menunjukkan paspor dan visa, bahkan  beberapa bank meminta nasabah untuk menunjukkan tiket pesawat dan bukti memesan hotel, atau memberikan bukti tagihan biaya studi dari sekolah di luar negeri dan sebagainya. Singkatnya, sedapat mungkin menghalau pengiriman valas ke luar negeri.

Cara ketiga untuk menghambat, yakni mengontrol secara ketat valas  dalam bentuk kontan yang dibawa ke luar negeri atau yang diedarkan dalam negeri. 

Menurut aturan perbankan Tiongkok saat ini, setiap warga hanya diperkenankan untuk membawa ke luar negeri uang kontan dalam bentuk valas senilai 10.000 dolar AS atau jika membawa surat bukti, yakni ‘Ijin Membawa Uang Valas Ke Luar Negeri’ yang dikeluarkan oleh bank penjual valas. Namun demikian, pada kenyataannya banyak bank penjual valas yang tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan surat ini.

 Selain itu, perbankan Tiongkok sekarang meminta nasabah untuk membuat janji terlebih dahulu jika membutuhkan uang kontan dalam bentuk valas. Tanpa janji untuk mendapatkan seratus dolar saja sulit. 

Terlebih lagi, membuat janji bertemu dengan petugas bank membutuhkan kesabaran karena antriannya panjang, mungkin bisa sampai minggu depan. 

Menurut karyawan bank, hal ini karena kuota uang kontan valas yang dialokasikan kepada bank sangat terbatas. Ambil banyakan salah, tanpa perjanjian pun salah. Konon, upaya mempersulit nasabah menukarkan dan membawa keluar dananya dalam bentuk uang kontan valas itu merupakan instruksi dari pihak berwenang Tiongkok.

Situasi ini terjadi pada setiap bank kecil maupun besar di Beijing, kontrol ketat yang diterapkan pemerintah membuat situasi demikian terjadi di seluruh perbankan. 

Jika saja Anda adalah seorang kenalan dari seorang karyawan bank atau seorang nasabah VIP suatu bank, paling-paling petugas bank secara pribadi merekomendasikan Anda untuk pergi ke cabang-cabang lainnya untuk coba “mengadu nasib”, barangkali saja ada nasabah lain yang lupa atau membatalkan janji pertemuan untuk mengambil valasnya ?!? 

Jadi bahkan sesuai dengan peraturan pun, untuk membawa 10.000 dolar AS keluar dari Tiongkok kini semakin sulit. Adapun mengambil uang kontan dolar AS sesuai kuota valuta asing setiap tahun untuk digunakan membantu teman baik juga bisa dikenakan batasan, seperti setoran atau pengambilan harian tidak melebihi 5.000 dolar AS. Bahkan jika sudah melakukan 2 atau 3 kali transaksi dalam valas, bank bisa menghambat atau menolak nasabah untuk melakukan transaksi lagi.

Jadi, apakah langkah pengendalian valuta asing yang tampaknya ketat tersebut membawa hasil ? Jawabannya adalah tidak.

Coba saja Anda pergi ke bank mana saja di daratan Tiongkok untuk melihat, apakah itu adalah Bank ICBC, China Merchants Bank, Bank of Communications, Huaxia Bank dan lainnya. 

Counter di bank yang paling banyak nasabahnya saat ini adalah counter penukaran valuta asing, baik untuk ditransfer ke luar negeri maupun diambil fisiknya, terutama dolar AS. 

Pada kenyataannya, banyak warga Tiongkok bersikeras untuk menukarkan kuota valas asing tahunan mereka, keluarga, kerabat dan teman-teman sebelum akhir tahun, dan kemudian mencari peluang untuk membawa uang kertas dolar itu ke luar negeri. 

Selain itu, masih banyak warga yang menggunakan jasa perusahaan penukaran valas di Hongkong untuk mentransfer keluar uangnya meski sedikit demi sedikit tetapi berulang kali. Layaknya semut-semut yang sedang pindah sarang dengan membawa semua makanan mereka. 

Tampaknya pengontrolan valas yang ketat membawa hasil. Namun demikian, komunis Tiongkok tidak mampu mengendalikan tekad masyarakat mengalihkan kekayaannya yang dilakukan ala semut pindah sarang.

Sangat sulit, tetapi tidak menggoyahkan tekad masyarakat yang bergerak ala semut pindah sarang. Itu adalah akibat rakyat sudah tidak percaya terhadap rezim komunis Tiongkok. Rakyat sendiri melihat, bagaimana para pejabat komunis Tiongkok baik yang besar maupun kecil. Secara terang-terangan mengeruk habis harta kekayaan negara, dan sisa devisa negara sudah tidak lagi cukup untuk mendukung korupsi mereka. Devisa semakin habis, komunis Tiongkok akan semakin mempererat kontrol. 

Namun demikian, semakin kuat pengendaliannya, semakin banyak semut memindahkan sarangnya. Barangkali semut-semut akan memindahkan sarangnya sampai seluruh devisa komunis Tiongkok ludes. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular