- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Perangkat Monitoring Huawei Error, Tingkat Kejahatan dari Konsep ‘Kota Aman’ Meningkat di Sejumlah Negara

NTDTV.com

Lembaga think tank Amerika Serikat baru-baru ini merilis sebuah laporan yang mengatakan bahwa “Safe-city atau  kota aman” yang diluncurkan perusahaan Huawei Tiongkok di negara-negara berkembang seperti Pakistan tiga tahun lalu hanyalah tipuan. Pada kenyataannya, setelah sejumlah besar kota di negara-negara terkait menghabiskan banyak dana untuk memasang monitoring Huawei, tingkat kejahatan justru meningkat drastis. Polisi Nasional Pakistan mengatakan bahwa itu mungkin terkait dengan kegagalan dari kamera pengintai yang disediakan oleh Huawei.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh lembaga Think Tank Amerika Serikat dan Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebagai simpul penting dari jaringan global proyek Safe City Huawei, Islamabad, ibukota Pakistan, menghabiskan sekitar 100 juta dolar Amerika Serikat pada 2016, untuk membangun Pusat komando darurat di sebuah bangunan tahan ledakan yang dibangun di pinggiran ibukota Islamabad.

Di pusat komando ini dilengkapi dengan dinding video yang terdiri dari 72 layar yang terhubung langsung dengan total 1950 kamera pengintai.

CSIS adalah sebuah wadah pemikir untuk kebijakan luar negeri yang berbasis di Washington, D.C., Amerika Serikat.

Namun, statistik dari Biro Kepolisian Nasional Pakistan menunjukkan bahwa pada tahun 2018, kejahatan pembunuhan, penculikan dan pencurian di Islamabad meningkat sebesar 33% dibandingkan dengan tahun 2015 sebelum dipasangi fasilitas pengawasan “Kota Aman” Huawei. 

Di antaranya, 24% dari kasus baru adalah perampokan dan pencurian, sementara 11% adalah kasus pembunuhan dan percobaan pembunuhan. 

Menurut Komite legislatif Pakistan, itu mungkin terkait dengan kegagalan dari lensa kamera pengintai Huawei yang dipasang di kota itu.

Selain itu, delapan kota lain di Pakistan juga telah bergabung dengan proyek terkait, tetapi tahun kedua setelah pemasangan sistem pemantauan “kota aman”, tingkat kejahatan di seantero negeri Pakistan justru naik sebesar 11%.

  Sebagai contoh misalnya Lahore, ibukota Punjab, kota kedua terbesar di Pakistan, di mana sebanyak 8.000 unit kamera pengintai telah dipasang pada 2016, tetapi tingkat kejahatan total kota itu justru naik 6,5% , dan naik 1,3% pada tahun 2018.

Laporan itu mengatakan, bahwa meskipun total biaya dari delapan proyek kota aman di Pakistan tidak diketahui secara pasti, tetapi pengeluaran itu merupakan beban berat lainnya pada saat negara itu dililit utang. Dari tingkat tertentu, jumlah utang Pakistan itu juga disebabkan oleh proyek pembangunan infrastruktur “Belt and Road” seperti pembangkit listrik, jalan, dan jalur kereta api yang digarap oleh pemerintah Tiongkok di Pakistan.

 Nasib serupa terjadi di  ibu kota negara Afrika Timur Kenya, Nairobi. Setelah bergabung dengan proyek Kota Aman pada tahun 2015,  meskipun tingkat kejahatan pernah menurun dalam jangka pendek, namun, pada tahun 2017, tingkat kejahatan yang dilaporkan di Nairobi sudah lebih tinggi dan semakin parah daripada sebelum dipasangi perangkat pemantau Huawei. 

Menurut data kepolisian dari Mombasa, kota lain di negara itu, tingkat kejahatan juga meningkat setelah sistem pengawasan kota dipasang.

Jonathan Hillman, seorang peneliti senior di Centre for Strategic and International Studies – CSIS mengatakan: “Pemerintah dan masyarakat setempat telah mengorbankan privasi dan dana dengan imbalan sistem ini, dan mereka seharusnya menuntut pengawasan publik untuk melacak apakah mereka benar-benar mendapatkan keamanan yang  Huawei janjikan.”

Laporan CSIS juga menyebutkan bahwa hampir 60% proyek kota aman Huawei berada di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika. Sementara beberapa negara itu mungkin mengalami kesulitan menanggung biaya pemasangan dan pemeliharaan perangkat yang disediakan Huawei.  (jon)

Video Rekomendasi :