Penny Zhou – NTD

Pakar kesehatan masyarakat di luar Daratan Tiongkok menyerukan kepada pihak berwenang Komunis Tiongkok untuk melakukan transparansi, setelah wabah pneumonia misterius dilaporkan menginfeksi 59 orang sejak bulan Desember di kota Wuhan di Tiongkok. Pada 5 Januari 2020, sebanyak 7 dari 59 kasus dinyatakan “parah.”

Menurut para ahli, upaya untuk menutupi wabah dapat memiliki konsekuensi serius bagi pengendalian penyakit di daerah negara tetangga Tiongkok. Kini rumah sakit di Hong Kong melaporkan lima pasien yang pernah berkunjung ke Wuhan menunjukkan gejala pneumonia atau infeksi pernapasan termasuk demam, menurut Otoritas Rumah Sakit Hong Kong.

Pada hari Sabtu lalu, Singapura juga melaporkan kasus pertama yang diduga sebagai virus Wuhan yang misterius, menurut The Straits Times. Riwayat perjalanan pasien mengungkapkan waktu yang dihabiskannya di Wuhan.

Wabah itu mendesak Singapura, Hong Kong, dan Taiwan pada awal minggu untuk meningkatkan pemeriksaan terhadap para pelancong dan pasien rumah sakit yang menunjukkan gejala pneumonia.

 Menutupi Kasus Wabah?

 Pihak berwenang Komunis Tiongkok tidak mengungkapkan wabah apa yang disebutnya sebagai “pneumonia virus” sampai rumor online selama sebulan terakhir mengaitkan wabah tersebut dengan Sindrom Pernapasan Akut Parah atau SARS. Pada tahun 2003 silam, wabah tersebut menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan 775 orang.

Pada tanggal 3 Januari 2020, pejabat Komunis Tiongkok mengatakan bahwa penyebab pneumonia adalah tidak jelas dan tidak mengesampingkan SARS, menurut sebuah pernyataan oleh Komisi Kesehatan Kota Wuhan. 

Dalam sebuah laporan pembaruan pada tanggal 5 Januari, Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengumumkan bahwa mereka telah mengesampingkan SARS, MERS, dan flu burung sebagai penyebab wabah tersebut. Akan tetapi masih berusaha mengidentifikasi virus yang bertanggung jawab atas wabah tersebut.

 Para pejabat juga tidak memberikan tanggal kasus pertama yang mereka temukan terkait dengan wabah Wuhan hingga tanggal 5 Januari 2020. Kasus pertama terjadi pada tanggal 12 Desember 2019.

Kasus yang diduga telah muncul di Hong Kong dan Singapura. Para pejabat Komunis Tiongkok mengatakan belum ada bukti nyata untuk penularan dari manusia ke manusia.

 Rumah Sakit Pusat Wuhan, tempat beberapa kasus dirawat, menolak berkomentar saat dihubungi oleh media Tiongkok atau asing.

 “Masalah saya dengan wabah saat ini dan respons Tiongkok adalah bahwa sangat sedikit informasi dalam bentuk apa pun yang disediakan oleh pihak berwenang di Wuhan atau Beijing,” kata Laurie Garrett, seorang analis kebijakan kesehatan dunia dan jurnalis sains pemenang Hadiah Pulitzer,  kepada NTD dalam sebuah email pada tanggal 3 Januari 2020.

 Polisi Tiongkok memanggil delapan orang pada tanggal 1 Januari karena “menyebarkan desas-desus” online mengenai wabah pneumonia.

 “Tiongkok tampaknya lebih tertarik untuk mempertahankan kendali daripada mematuhi prinsip-prinsip Peraturan Kesehatan Internasional,” kata Laurie Garrett.

 Majelis Kesehatan Dunia pada tahun 2005, mengeluarkan Peraturan Kesehatan Internasional yang mengikat secara hukum, yang mensyaratkan pemberitahuan cepat kepada WHO mengenai setiap wabah yang bermakna. Tiongkok menandatangani  Peraturan Kesehatan Internasional itu.

 “Adalah sangat penting untuk segera mempublikasikan informasi mengenai wabah tersebut,” kata Kuo Hsu-Tah, seorang ahli paru Taiwan yang bekerja sebagai direktur Pusat Respons SARS di Rumah Sakit Memorial Mackay Taipei selama wabah SARS tahun 2003, kepada The Epoch Times edisi bahasa Tionghoa.

 “Semakin pemerintah berusaha untuk menutupi, semakin buruk untuk pengendalian penyakit,” tambahnya. 

 Ahli: Pejabat Mungkin Tahu Lebih Banyak

 Sean Lin, seorang ahli mikrobiologi yang bekerja di cabang penyakit virus di Angkatan Darat Amerika Serikat, mengatakan bahwa pihak berwenang Tiongkok mungkin sudah mengetahui sumber virus, atau setidaknya beberapa calon virus yang berpotensi.

 “Ini bukan hanya dua hari, tiga hari… mungkin sudah lebih dari sebulan,” kata Sean Lin kepada NTD pada tanggal 3 Januari 2020.

Menurut Sean Lin, Pusat Pengendalian Penyakit Tiongkok, yang mengikuti model Pusat Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat, dihormati di Tiongkok karena program pengawasan penyakit menularnya  yang kuat. Ia percaya bahwa jika sampel pasien telah diuji di laboratorium di sana, informasi yang tersedia kini tidak akan sebatas yang disarankan oleh pernyataan resmi.

Sean Lin mengatakan keterlambatan informasi adalah karena ada beberapa mutasi virus yang perlu waktu untuk diidentifikasi atau “Saya pikir pihak berwenang memiliki lebih banyak informasi di tangan,” kata Sean Lin. 

“Tetapi masyarakat tidak diizinkan untuk mengetahui situasi ini secara lebih rinci,” tambah Sean Lin.

 Sean Lin mengatakan rezim Tiongkok setidaknya harus mengizinkan media untuk menindaklanjuti dengan rumah sakit dan pasien setempat, mewawancarai para ilmuwan, dan menginformasikan langkah-langkah pencegahan kepada masyarakat.

Akan tetapi “di Tiongkok, masalahnya adalah bahwa pemerintah memiliki reputasi yang sangat menyedihkan di arena kesehatan masyarakat,” kata Sean Lin.

Komunis Tiongkok Menutupi Wabah SARS

 Paralel karena keterlambatan informasi resmi antara wabah ini dengan wabah SARS 2003 menciptakan kepanikan di Tiongkok dan wilayah negara tetangganya. 

Pada tahun 2002-2003, rezim Komunis Tiongkok menutupi epidemi SARS selama berminggu-minggu, sebelum meningkatnya jumlah korban jiwa dan desas-desus memaksa pihak berwenang untuk mengungkap kebenaran.

Rezim Komunis Tiongkok tidak memperingatkan WHO atau hak hukum negara tetangga, akibatnya memungkinkan seorang pasien melarikan diri ke Hong Kong. Virus ini menyebar, mengakibatkan 774 kasus kematian di 37 negara.

Laurie Garrett berada di Hong Kong dan Tiongkok selama epidemi tahun 2003, dan kemudian saat berada di Vietnam, Singapura, dan Hong Kong. Ia mengunjungi rumah sakit di mana para petugas kesehatan berjuang demi penyakit tersebut. Ia juga mengunjungi tugu peringatan di mana para petugas kesehatan tewas akibat penyakit tersebut.

 “Pelajaran ini adalah jelas bagi seluruh dunia: jangan menutupi wabah,” kata Laurie Garrett.

“Melawan wabah membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan membutuhkan keterbukaan. Dunia kesehatan masyarakat kehilangan kepercayaannya pada informasi pemerintah Tiongkok,” kata Laurie Garrett. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular