Cathy He – The Epochtimes

Rezim Komunis Tiongkok pada tahun 2019 menghukum sebanyak 774 praktisi Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang dianiaya secara intens oleh rezim komunis Tiongkok selama lebih dari 20 tahun.

Falun Gong atau juga dikenal sebagai Falun Dafa, sebuah latihan meditasi yang mencakup serangkaian ajaran moral dengan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini berkembang  sangat populer di Tiongkok pada tahun 1990-an, di mana perkiraan resmi menempatkan jumlah praktisi sebanyak 70 juta hingga 100 juta pada akhir dekade ini. 

Merasa terancam oleh meluasnya popularitas Falun Gong, rezim komunis Tiongkok melarang Falun Gong pada tahun 1999 silam. Komunis Tiongkok  mengerahkan aparat keamanan negara untuk melacak, menangkap, dan menahan praktisi Falun Gong.

Sejak itu, ratusan ribu praktisi Falun Gong ditahan di kamp kerja paksa, penjara, dan pusat pencucian otak, menurut laporan Pusat Informasi Falun Dafa.

 Saat ditahan, banyak praktisi Falun Gong mengalami penyiksaan sebagai bagian upaya rezim Tiongkok untuk memaksa praktisi Falun Gong meninggalkan keyakinannya. Bahkan praktisi Falun Gong jadi sasaran ujaran kebencian dan tuduhan tak berdasar sebagai aliran sesat hingga sebagai pemberontak.

 Seperti  insiden bakar diri api palsu di Lapangan Tiananmen 23 Januari 2001 silam.  Praktisi Falun Gong secara tegas menyangkal tuduhan tersebut, dikarenakan perbuatan bakar diri sebagai pelanggaran besar terhadap prinsip dan ajaran Falun Gong.  

Media internasional dan berbagai institusi juga menyuarakan keraguan insiden tersebut.  Seorang reporter dari ‘The Washington Post’ mengunjungi kampung halaman Liu Chunling, seorang perempuan yang tewas dalam insiden tersebut, untuk mengadakan penyelidikan independen. 

Dalam artikel di halaman muka terbitan tanggal 4 Februari 2001, ‘The Washington Post’ mengungkapkan bahwa tidak ada tetangga Liu yang memiliki kesan bahwa Liu adalah seorang praktisi Falun Gong, juga tidak pernah mereka melihat Liu pernah berlatih Falun Gong. 

International Education Development (IED) juga membuat pernyataan resmi pada sidang PBB tanggal 14 Agustus 2001: “…Rejim merujuk pada insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen tanggal 23 Januari 2001 sebagai bukti untuk memfitnah Falun Gong. Namun, kami telah memperoleh rekaman video dari insiden tersebut yang menurut pandangan kami membuktikan bahwa kejadian ini direkayasa oleh pemerintah.”

Hingga kemudian propaganda jahat tersebut disebarkan secara meluas ke seluruh dunia melalui Kedubes Tiongkok di setiap negara. 

Hingga saat ini, lebih dari 4.300 kematian dikonfirmasi oleh Minghui.org, sebuah situs web yang berfungsi sebagai tempat klarifikasi penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok. 

Jumlah aktual diyakini jauh lebih tinggi karena kesulitan memperoleh dan membuktikan informasi sensitif dari Tiongkok.

 Minghui.org menerbitkan angka-angka itu dalam laporan tanggal 9 Januari berdasarkan catatan pengadilan Tiongkok. 

Pakar hak asasi manusia seperti Freedom House percaya bahwa lebih dari ribuan praktisi Falun Gong ditahan di penjara kebal hukum, pusat pencucian otak kebal hukum, dan pusat penahanan praperadilan tanpa hukuman formal.

 Komisi Kongres Amerika Serikat yang berpengaruh juga baru-baru ini menegur  Beijing karena penindasan yang meningkat oleh Beijing terhadap kelompok-kelompok agama pada tahun 2019.

 “Para ahli dan kelompok hak asasi internasional menggambarkan penganiayaan agama di Tiongkok selama tahun lalu sebagai intensitas yang tidak terlihat sejak Revolusi Kebudayaan,” kata  Congressional-Executive Commission on China (CECC) Amerika Serikat, dalam sebuah laporan hak asasi manusia tahunan yang dirilis pada tanggal 8 Januari.

 Selama tahun lalu, pejabat Amerika Serikat berulang kali mengutuk rezim Komunis Tiongkok karena melakukan pelanggaran kebebasan beragama yang meluas.

 “Partai Komunis Tiongkok menuntut agar hanyalah Partai Komunis Tiongkok yang  disebut Tuhan,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pada bulan Juni 2018.

 “Di Tiongkok, penganiayaan yang intens oleh pemerintah terhadap banyak agama – di antaranya adalah praktisi Falun Gong, Kristen, dan Buddha Tibet – adalah biasa,” kata Mike Pompeo.

Praktisi Falun Gong yang dihukum pada tahun 2019 berasal dari 28 provinsi dan kota, kata situs web itu, di mana jumlah terbanyak di provinsi Shandong, Heilongjiang, dan Liaoning. Masa tahanan berkisar antara empat bulan hingga 13 tahun.

Selain itu, 271 praktisi Falun Gong didenda oleh pengadilan, dengan total denda sebesar 3,490,400 yuan, kata laporan itu.

Mereka yang dijatuhi hukuman berasal dari semua lapisan masyarakat, termasuk akuntan, insinyur, dokter, eksekutif, guru, dan pensiunan jaksa.

Praktisi Falun Gong yang termuda yang dihukum adalah seorang profesional media berusia 26 tahun, bernama Zheng Feng dari Provinsi Zhejiang, timur Tiongkok, yang dijatuhi hukuman 3 1/2 tahun penjara. Dikarenakan, ia berbagi informasi mengenai Falun Gong kepada teman-teman kuliahnya dan melalui media sosial. 

Praktisi Falun Gong yang tertua yang dihukum adalah Zhang Xinwei yang berusia 89 tahun, dari Provinsi Sichuan, barat daya Tiongkok, yang dijatuhi hukuman tiga tahun.

Beberapa praktisi Falun Gong divonis pengadilan hanya dalam beberapa hari setelah ditangkap. Praktisi Falun Gong lainnya disiksa dalam tahanan dan dipenjara meskipun kondisi kesehatannya mengalami masalah serius, laporan itu mencatat. 

Misalnya, Hu Li, seorang insinyur penerbangan berusia 46 tahun, diperintahkan untuk menjalani hukuman dua tahun meskipun ia dalam kondisi kritis setelah tujuh bulan melakukan mogok makan.

Menurut laporan itu, pihak berwenang “melanggar prosedur hukum di setiap langkah proses penuntutan, dari membuat bukti dan akun saksi hingga mengadakan persidangan rahasia dan memblokir banding.”

Laporan Congressional-Executive Commission on China (CECC) menyoroti beberapa kasus praktisi Falun Gong atau pengacara yang mewakili praktisi Falun Gong yang dipenjara karena menerapkan hak asasinya. Contoh-contoh itu membentuk bagian basis data tahanan politik milik  Congressional-Executive Commission on China (CECC), sebuah portal online yang saat ini berisi 1.598 kasus.

Jiang Wei, seorang praktisi dari Provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok, saat ini menjalani hukuman 12 tahun di Penjara Wanita Liaoning. Dalam penahanan, Jiang Wei dilaporkan dihina, dipukul, dan dikurung sendirian selama 15 hari. Di sel isolasi, ia dikurung dalam sel yang terlalu kecil untuk berdiri. Ia juga dipaksa makan dan buang air besar di dalam sel tersebut, yang dipenuhi dengan lalat dan nyamuk.

Guru Sekolah Menengah Pertama bernama Bian Lichao, seorang praktisi Falun Gong di Provinsi Hebei, utara Tiongkok, saat ini menjalani hukuman 12 tahun. 

Pada tahun 2014, pihak berwenang juga menahan istri, putri, dan saudara perempuan Bian Lichao, atas upaya putri Bian Lichao untuk mengunjunginya di penjara. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular