Masih Ada Rintangan

Masalah paling penting bagi hubungan AS -Tiongkok ditunda untuk negosiasi di masa mendatang. Kesepakatan fase pertama tidak membahas subsidi Negara di Tiongkok, misalnya, salah satu perhatian utama pemerintah dan dorongan untuk memulai perang dagang.

Beijing tidak membuat indikasi bagaimana akan memangkas subsidi negara. Secara politis, tampaknya tidak ada keinginan untuk melakukan itu, menurut para ahli. 

Dalam beberapa dekade terakhir, dengan menyalurkan ratusan miliar dolar subsidi pemerintah, Tiongkok telah berhasil menciptakan juara nasional sendiri pada industri-industri utama.

Selain itu, sikap Tiongkok tentang kekayaan intelektual akan terus menjadi masalah pelik, karena Beijing tidak akan membuat konsesi yang signifikan untuk memenuhi tuntutan Amerika Serikat seperti dikatakan para ahli.

Tiongkok telah menerbitkan undang-undang untuk meningkatkan akses pasar dan memperkuat perlindungan IP dalam beberapa tahun terakhir.  Namun demikian, skeptisisme tetap ada atas penegakan aturan-aturan ini.

Kesepakatan fase pertama adalah “pembayaran uang muka rendah pada apa yang perlu dilakukan,” menurut Peter Morici, seorang ekonom dan profesor bisnis di University of Maryland.

“Karena perjanjian tersebut  sekarang berdiri dalam hal perubahan substantif aktual dalam kebijakan Tiongkok, tidak banyak di sana,” katanya.

“Kita harus melihat apakah orang Tiongkok akan menepati janji mereka, apakah mereka memang akan membeli $ 200 miliar lebih dalam produk AS. Jika mereka melakukan itu, mungkin akan lebih mudah untuk mencapai kesepakatan fase kedua karena liberalisasi di Tiongkok mungkin akan lebih mudah, ” ujarnya.

Namun demikian, Morici, tidak mengantisipasi kemajuan apa pun pada pembicaraan tahap kedua hingga setelah pemilihan presiden Amerika Serikat. 

“Jika Trump tidak terpilih kembali, perjanjian ini menjadi sangat dipertanyakan,” katanya.

Manipulator Mata Uang

Departemen Keuangan AS pada 13 Januari lalu, mencabut penunjukannya terhadap Tiongkok sebagai manipulator mata uang dalam laporan mata uang terbarunya, membalikkan keputusan pada bulan Agustus lalu.

Amerika Serikat menuduh Tiongkok melakukan manipulasi mata uang untuk menciptakan keuntungan perdagangan kompetitif yang tidak adil. 

Penunjukan Departemen Keuangan pada Agustus lalu adalah yang pertama sejak Tahun 1994 silam. Dalam laporan terbaru, Departemen Keuangan menyatakan bahwa Tiongkok telah membuat “komitmen yang dapat ditegakkan untuk menahan diri dari devaluasi kompetitif.” Selain itu, memberikan transparansi pada kegiatan valuta asing sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan fase pertama.

Setelah terdepresiasi hingga 7,18 per dolar AS pada September, renminbi  terapresiasi dan saat ini diperdagangkan pada sekitar 6,90 per dolar AS.

Share

Video Popular