- Erabaru - http://m.erabaru.net -

AS-Tiongkok Tandatangani Kesepakatan Perdagangan Fase Pertama, Meredakan Ketegangan Perang Dagang

Emel Akan – The Epochtimes

Amerika Serikat dan Tiongkok secara resmi menandatangani kesepakatan perdagangan “fase pertama” yang sangat dinanti-nantikan.  Kesepakatan tersebut menjadi terobosan penting dalam perang dagang yang berlangsung hampir selama 2 tahun.

Seperti dilaporkan The Epochtimes edisi Amerika Serikat, Presiden Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He menandatangani perjanjian itu di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat  pada Rabu 15 Januari 2020.

“Bersama-sama kita memperbaiki kesalahan masa lalu dan memberikan masa depan keadilan ekonomi dan keamanan bagi petani dan keluarga pekerja Amerika,” kata Trump. 

“Ini adalah kesempatan yang sangat penting dan luar biasa,” tambahnya.

“Negosiasi kami sangat sulit, jujur, terbuka, dan penuh hormat, membawa kami kepada terobosan yang sangat luar biasa ini. Kebanyakan orang mengira  tidak akan pernah terjadi. Ngomong-omong, seharusnya sudah terjadi 25 tahun silam,” ungkap Trump. 

Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence memuji kepemimpinan Trump dan kesepakatan perdagangan. “Ada pepatah Tiongkok kuno yang mengatakan: Manusia hanya melihat masa kini, tetapi Surga melihat masa depan,” kata Pence.

 “Jadi, biarkan hari ini menjadi awal dari masa depan yang lebih cerah, lebih sejahtera bagi rakyat Amerika, rakyat Tiongkok, dan dunia,” tambah pence.

Trump memberikan serangkaian pujian kepada anggota kabinet dan pejabat yang terlibat dalam negosiasi perjanjian, dan untuk pengusaha yang menghadiri penandatanganan tersebut di Gedung Putih, termasuk eksekutif Mastercard, Honeywell, Boeing, Kamar Dagang AS, AIG, JP Morgan Chase, dan Ford.

Trump juga berjanji untuk mengakhiri tarif hukuman kepada Tiongkok setelah selesainya kesepakatan “fase kedua”, negosiasi yang kata Trump akan dimulai saat fase pertama diberlakukan.

Menjelang akhir sambutannya, Trump mengatakan: “Sejauh ini,  adalah kesepakatan terbesar yang ada di dunia,. Dan, itu bagus. Kami akan melakukan yang lebih besar minggu depan [USMCA atau Perjanjian AS-Meksiko-Kanada dilakukan  pemungutan suara di Senat]. Tapi ini adalah kesepakatan terbesar yang pernah ada. Bisa mengarah pada kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena Tiongkok memiliki 1,5 miliar penduduk, dan pada akhirnya, dalam fase kedua, kami akan membuka Tiongkok untuk semua perusahaan [Amerika] Anda. Jadi saya harap kalian bisa menanganinya. “

Liu He memulai pidatonya dengan berterima kasih kepada presiden Amerika Serikat, dan kemudian berkata dia ingin membaca surat dari Xi Jinping. “Mr. Presiden, ketika Tiongkok dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan fase pertama, saya telah meminta Wakil Perdana Menteri Liu He untuk menyampaikan salam hangat saya,” bunyi surat itu.

Xi mengingatkan kepada Trump akan panggilan telepon pada 20 Desember 2019, di mana ia mengatakan kesimpulan dari kesepakatan itu baik untuk Tiongkok, Amerika Serikat, dan seluruh dunia.  Ia berharap kedua negara sekarang dapat bekerja dengan saling menghormati.

“Dengan semangat itu, saya berharap pihak Amerika Serikat akan memperlakukan perusahaan Tiongkok secara adil dan kegiatan perdagangan dan investasi reguler mereka dan memberikan dukungan untuk kolaborasi antara perusahaan, lembaga penelitian, dan sekolah serta perguruan tinggi dari kedua negara,” tulis Xi.

Xi menyatakan harapan untuk hubungan AS dan Tiongkok yang lebih baik dan ucapan selamat untuk Tahun Baru Imlek.

Liu berbicara dengan optimis tentang pentingnya perjanjian tersebut. “Selama dua tahun terakhir, kedua pihak menghadapi beberapa kesulitan di bidang ekonomi dan perdagangan,” kata Liu. 

“Namun demikian, dua tim ekonomi kami tidak menyerah. Dengan upaya tanpa henti dari kedua pihak berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati, kami telah mencapai perjanjian perdagangan fase pertama ini.”

Kesepakatan Perjanjian

Beijing telah berkomitmen untuk membeli produk dan jasa AS senilai $ 200 miliar selama dua tahun ke depan, termasuk $ 40 miliar hingga $ 50 miliar barang pertanian setiap tahun.

“Petani akan sangat bahagia,” kata Trump.

Selain produk pertanian, Beijing telah berkomitmen untuk membeli barang-barang manufaktur tambahan lebih dari $ 75 miliar, produk energi lebih dari $ 50 miliar, dan jasa mendekati $ 38 miliar selama dua tahun ke depan, kata seorang pejabat senior administrasi kepada wartawan.

Pembelian ini diperkirakan akan berlanjut pada lintasan yang sama selama beberapa tahun setelah 2021. Selain itu, berkontribusi pada penyeimbangan kembali hubungan perdagangan AS – Tiongkok, menurut lembaran fakta tentang kesepakatan yang dirilis oleh pemerintah Trump.

Sebagai imbalannya, Washington telah sepakat untuk memodifikasi sanksi tarif Bagian 301-nya. Yakni,  membatalkan retribusi 15 persen atas hampir $ 160 miliar barang Tiongkok yang dijadwalkan berlaku pertengahan Desember lalu. Ini berart  mengurangi tarif menjadi 7,5 persen dari 15 persen terhadap sekitar 120 miliar dolar AS impor Tiongkok.

Tarif 25 persen terhadap hampir 250 miliar dolar AS produk Tiongkok dipertahankan, alih-alih dinaikkan menjadi 30 persen, seperti yang dijadwalkan. Beijing juga membatalkan pembebanan tarif pada produk-produk Amerika Serikat yang telah dijadwalkan pada 15 Desember sebagai pembalasan.

Trump mengatakan akan menggunakan tarif AS yang tersisa sebagai bagian tawar-menawar untuk fase kedua kesepakatan.

“Saya meninggalkannya, karena jika tidak, kami tidak memiliki kartu untuk dinegosiasikan,” kata Trump. 

“Semuanya akan dilepas begitu kita menyelesaikan fase kedua.”

Perjanjian tersebut juga mencakup beberapa komitmen bagi Tiongkok untuk melindungi kekayaan intelektual, menghentikan transfer teknologi secara paksa, dan memberikan transparansi pada praktik valuta asing.

Tiongkok juga telah berjanji untuk membuka pasar layanan keuangannya kepada bank-bank dan perusahaan kredit Amerika Serikat.

Mekanisme Penegakan

Termasuk dalam kesepakatan adalah sistem penyelesaian sengketa yang menetapkan kerangka waktu untuk tindakan di berbagai tahap: mulai dari tingkat kerja, meningkat hingga ke tingkat Perwakilan Perdagangan AS (United States Trade Representative/USTR) dan Wakil Perdana Menteri kedua negara.

Ini dirancang untuk menjadi periode 75 hari dari awal banding hingga penyelesaian perselisihan, menurut pejabat administrasi senior AS. 

Jika tidak ada resolusi dalam jangka waktu itu, akan ada peluang untuk konsultasi yang dipercepat mengenai pemulihan selama 15 hari tambahan. Jika  gagal mencapai resolusi, mereka memiliki pilihan untuk keluar dari perjanjian seperti yang dikatakan pejabat itu.

“Jika kita memutuskan untuk mengambil tindakan terhadap Tiongkok karena melanggar perjanjian, mereka harus membuat penilaian apakah mereka ingin berada dalam perjanjian atau tidak,” katanya.

Perjanjian tersebut dirancang untuk menghindari Tiongkok membalas atau menantang Amerika Serikat di WTO.

Ketidakpastian Bertahannya Kesepakatan Dagang

Senator Amerika Serikat Rick Scott, seorang kritikus terhadap rezim Beijing, meragukan apakah Tiongkok dapat memenuhi janjinya.

“Meskipun positif, Amerika Serikat sedang berupaya mencapai kesepakatan yang akan meningkatkan penjualan produk pertanian Amerika Serikat., Komunis Tiongkok tidak pernah memenuhi kesepakatan,” katanya kepada The Epoch Times dalam surat elektroniknya. 

“Komunis Tiongkok mencuri teknologi kami dan menolak untuk membuka pasar mereka untuk barang-barang asing seperti yang dipersyaratkan oleh perjanjian mereka untuk menjadi bagian dari WTO, dan perlu bertanggung jawab,” tambahnya.

Terlepas dari kesepakatan parsial ini, ketidakpastian kemungkinan akan berlanjut pada tahun 2020 karena hubungan bilateral AS – Tiongkok melampaui perdagangan. “Ini juga tentang hak asasi manusia,” kata Scott.

Senator Florida itu mengkritik Beijing karena militerisasi Laut Cina Selatan, karena melanggar perjanjian Hong Kong, dan karena memberangus kebebasan beragama.

Masih Ada Rintangan

Masalah paling penting bagi hubungan AS -Tiongkok ditunda untuk negosiasi di masa mendatang. Kesepakatan fase pertama tidak membahas subsidi Negara di Tiongkok, misalnya, salah satu perhatian utama pemerintah dan dorongan untuk memulai perang dagang.

Beijing tidak membuat indikasi bagaimana akan memangkas subsidi negara. Secara politis, tampaknya tidak ada keinginan untuk melakukan itu, menurut para ahli. 

Dalam beberapa dekade terakhir, dengan menyalurkan ratusan miliar dolar subsidi pemerintah, Tiongkok telah berhasil menciptakan juara nasional sendiri pada industri-industri utama.

Selain itu, sikap Tiongkok tentang kekayaan intelektual akan terus menjadi masalah pelik, karena Beijing tidak akan membuat konsesi yang signifikan untuk memenuhi tuntutan Amerika Serikat seperti dikatakan para ahli.

Tiongkok telah menerbitkan undang-undang untuk meningkatkan akses pasar dan memperkuat perlindungan IP dalam beberapa tahun terakhir.  Namun demikian, skeptisisme tetap ada atas penegakan aturan-aturan ini.

Kesepakatan fase pertama adalah “pembayaran uang muka rendah pada apa yang perlu dilakukan,” menurut Peter Morici, seorang ekonom dan profesor bisnis di University of Maryland.

“Karena perjanjian tersebut  sekarang berdiri dalam hal perubahan substantif aktual dalam kebijakan Tiongkok, tidak banyak di sana,” katanya.

“Kita harus melihat apakah orang Tiongkok akan menepati janji mereka, apakah mereka memang akan membeli $ 200 miliar lebih dalam produk AS. Jika mereka melakukan itu, mungkin akan lebih mudah untuk mencapai kesepakatan fase kedua karena liberalisasi di Tiongkok mungkin akan lebih mudah, ” ujarnya.

Namun demikian, Morici, tidak mengantisipasi kemajuan apa pun pada pembicaraan tahap kedua hingga setelah pemilihan presiden Amerika Serikat. 

“Jika Trump tidak terpilih kembali, perjanjian ini menjadi sangat dipertanyakan,” katanya.

Manipulator Mata Uang

Departemen Keuangan AS pada 13 Januari lalu, mencabut penunjukannya terhadap Tiongkok sebagai manipulator mata uang dalam laporan mata uang terbarunya, membalikkan keputusan pada bulan Agustus lalu.

Amerika Serikat menuduh Tiongkok melakukan manipulasi mata uang untuk menciptakan keuntungan perdagangan kompetitif yang tidak adil. 

Penunjukan Departemen Keuangan pada Agustus lalu adalah yang pertama sejak Tahun 1994 silam. Dalam laporan terbaru, Departemen Keuangan menyatakan bahwa Tiongkok telah membuat “komitmen yang dapat ditegakkan untuk menahan diri dari devaluasi kompetitif.” Selain itu, memberikan transparansi pada kegiatan valuta asing sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan fase pertama.

Setelah terdepresiasi hingga 7,18 per dolar AS pada September, renminbi  terapresiasi dan saat ini diperdagangkan pada sekitar 6,90 per dolar AS.

6 Sektor yang Paling Mendapat Manfaat

Kesepakatan perdagangan tersebut merupakan berita sambutan bagi para petani Amerika Serikat. Tarif pembalasan Tiongkok memengaruhi sejumlah produk pertanian, termasuk kedelai, jagung, gandum, kapas, beras, dan sorgum, serta produk-produk ternak. 

Kedelai telah menjadi salah satu yang paling terpukul, karena menyumbang hampir 10 persen dari total ekspor AS ke Tiongkok sebelum perang perdagangan.

Dalam catatan penelitian, Cesar Rojas, seorang ekonom di Citigroup, menulis bahwa Amerika Serikat mungkin perlu meningkatkan output dari enam produk untuk memenuhi ketentuan kesepakatan. 

Produk-produk ini termasuk kedelai, sasis otomotif, body otomotif, pesawat terbang, gas alam cair, dan lampu LED.” Dalam jangka panjang, ini konstruktif untuk investasi domestik dan produksi industri AS, tetapi berpotensi mahal dalam jangka pendek,” kata Rojas. 

“Ini karena AS memiliki potensi terbesar untuk segera mengirimkan kedelai dan biji-bijian ke Tiongkok, tetapi tidak untuk kendaraan bermotor dan pesawat terbang.”

‘Perang Perdagangan Belum Berakhir’

Rezim Komunis Tiongkok mengeluarkan pada 13 Januari sebuah catatan peringatan pada akun media sosial yang berafiliasi dengan surat kabar Economic Daily yang dikelola pemerintahan Komunis Tiongkok. Catatan tersebut mengatakan “perang dagang belum berakhir.”

Rezim Komunis Tiongkok menyebut penandatanganan perjanjian perdagangan fase pertama “hanya putaran pertama pertandingan.”

“Kita harus ingat bahwa perang perdagangan belum berakhir — Amerika Serikat belum mencabut semua tarifnya di Tiongkok dan Tiongkok masih menerapkan tindakan pembalasannya. Masih banyak ketidakpastian di jalan,” demikian kata catatan itu.

Dua negara ekonomi terbesar di dunia selama berbulan-bulan telah terlibat dalam perang dagang yang sulit. 

Trump meluncurkan kampanye tarif pada tahun 2018 sebagai bagian dari strategi untuk mengakhiri praktik perdagangan tidak adil yang telah berlangsung selama beberapa dekade di Beijing.

Setelah bergabung dengan WTO, Tiongkok telah memulai kebijakan untuk mendukung industri utamanya, termasuk hambatan pasar, subsidi negara, manipulasi mata uang, dumping produk, transfer teknologi secara paksa, dan pencurian kekayaan intelektual dan rahasia dagang.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, salah satu negosiator utama dalam pembicaraan dengan Tiongkok, memperingatkan sebelumnya bahwa masih bijak untuk bersikap skeptis apakah Tiongkok akan memenuhi janjinya. 

Amerika Serikat tidak akan mengenakan tarif baru selama Beijing terus bertindak dengan itikad baik, sebagaimana diungkapkan Robert Lighthizer, kepada wartawan.  (asr)

Video Rekomendasi :