NTDTV.com

Terungkap dibalik keputusan serangan militer Amerika Serikat terhadap Jenderal Iran Solemani beberapa waktu lalu. Keputusan Donald Trump untuk melancarkan serangan kepada Iran dan membunuh Qasem Soleimani rupanya bukan berdasarkan atas keinginannya sendiri. 

Melansir dari CNN, keputusan itu merupakan tindakan atas dorongan salah satu orang terdekatnya. Bahkan, orang tersebut telah merencanakan pembunuhan Soleimani selama satu dekade lalu. Orang itu adalah Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Donald Trump, yang menyetir Donald Trump untuk melaksanakan serangan kepada Iran. 

Pompeo dalam sepanjang kariernya percaya bahwa Iran adalah akar dari semua masalah Timur Tengah. Lalu salah satu fokus kekuatan Iran ada pada Soleimani sebagai “komandan bayangan” Iran. Soleimani  dianggap sebagai dalang di balik negara yang dianggap ‘mendukung terorisme’ di seluruh wilayahnya. 

Pompeo juga yakin jika Soleimani adalah pembunuh banyak tentara Amerika di Timur Tengah saat ia menjalankan tugas militernya. Iran menyangkal klaim tersebut, tetapi Pentagon mengatakan Soleimani dan pasukannya “bertanggung jawab pada terbunuhnya ratusan tentara Amerika dan anggota koalisi militer, termasuk yang terluka.”

Pompeo sangat terpaku pada jenderal Iran tersebut sehingga ia bahkan berusaha mendapatkan visa ke Iran pada 2016. Saat itu, ia masih menjadi anggota Kongres dari Kansas. Walau dia mengatakan akan memantau pemilu Iran, dia juga menyarankan kepada orang kepercayaannya bahwa dia ingin mencoba menghadapi Soleimani ketika dia berada di sana. Namun, dia tidak pernah mendapatkan visa. Dia bahkan bersumpah tidak akan pensiun dari jabatannya sebelum melenyapkan Soleimani.

Soleimani adalah tokoh kedua dalam rezim Iran. Identitas yang sebenarnya adalah pemimpin organisasi teroris dan dia adalah pemimpin organisasi teroris yang dituding Amerika Serikat.

Dalam strategi di wilayah Timur Tengah untuk memprovokasi serangan teroris dan mendukung angkatan bersenjata untuk kepentingan regional, Soleimani adalah pelaksana intinya.

Jenderal Soleimani merupakan salah satu tokoh populer di Iran dan dipandang sebagai musuh mematikan bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Sebaliknya, di dalam negeri dia dielu-elukan sebagai pahlawan. 

Hal ini karena dia memimpin Pasukan Quds, unit di bawah Pasukan Garda Revolusi yang bertugas menjalankan misi luar negeri sebagai komandan Pasukan Quds. Perannya setara dengan direktur CIA. Tetapi kekuatan destruktifnya jauh melampaui perannya. Di masa lalu, Solemani berkali-kali lolos dari usaha pembunuhan terhadapnya. 

Pada 3 Januari 2020, ia diserang oleh pesawat tanpa awak Amerika Serikat sesat setelah ia turun dari pesawat di bandara Internasional Baghdad, Irak.

Pentagon mengatakan tujuan serangan itu adalah untuk menghentikan rencana serangan Iran yang sedang berlangsung. Presiden Trump menggambarkan Soleimani sebagai “momok iblis jahat. Tetapi sekarang dia bukan lagi iblis, dia sudah mati.

Sebelumnya, Soleimani telah diberi sanksi oleh Amerika Serikat sejak tahun 2007 dan pada Mei 2019. Amerika Serikat melabeli Revolutionary Guards, beserta dengan seluruh bagiannya, sebagai organisasi teroris. Pasalnya Pasukan Quds atau pasukan khusus dari Pengawal Revolusi Iran menyediakan alat peledak kepada militan Syiah di Irak, yang menyebabkan banyak tentara Amerika tewas di Irak.

Selain itu, pasukan Quds juga bekerja sama dengan Hizbullah Libanon, dan badan intelijen Iran untuk melakukan aksi teroris transnasional. Dalam perang saudara di Suriah dan kekuatan Negara Islam (ISIS), selalu ada bayang-bayang pasukan Quds yang menyerang militer Amerika Serikat.

Seperti yang dikatakan Senator Republik Amerika Serikat Tom Cotton, selama beberapa dekade, Soleimani telah merancang pemerintahan Iran yang mengerikan. Soleimani dituding orang yang  bertanggung jawab atas kematian ratusan prajurit Amerika. Selain Timur Tengah, Soleimani juga merencanakan aksi pembunuhan di luar negeri.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada tahun 2011 mengatakan, adanya konspirasi oleh agen-agen Iran untuk membunuh duta besar Saudi di Amerika Serikat.

Jaksa Agung Amerika Serikat Eric Holder pada saat itu mengatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran dan Pasukan Quds yang berafiliasi dengannya secara langsung bertanggung jawab dalam melaksanakan konspirasi itu.

Soleimani juga dituduh terlibat dalam dua pemboman di kedutaan besar Israel di Argentina pada tahun 1992 dan Pusat Komunitas Yahudi di Buenos Aires pada tahun 1994.

Soleimani telah merajalela di Timur Tengah selama beberapa dekade, mendukung terorisme. Pada saat Soleimani dibunuh dengan serangan drone beberapa waktu lalu, Trump men-tweet bahwa ia berada di balik kematian atau cedera serius ribuan orang Amerika yang masih berencana untuk membunuh lebih banyak orang lagi. (jon)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular