Taktik Komunis Tiongkok

Cook kepada The Epoch Times mengatakan, bahwa Beijing telah menggunakan taktik “rahasia, korup, dan paksaan” dalam mendorong narasi-narasinya ke luar negeri.

Salah satu contoh yang mengilustrasikan unsur terselubung dari pengaruh media Komunis Tiongkok adalah, media pemerintah Komunis Tiongkok sering menggunakan slogan yang menyesatkan. 

Misalnya, corong resmi Partai Komunis China, People’s Daily memiliki tagline “surat kabar terbesar di Tiongkok” di halaman Facebook-nya.

China Global Television Network (CGTN), cabang luar negeri dari siaran negara Komunis Tiongkok, China Central Television (CCTV), memiliki tagline “saluran berita 24 jam unggulan Tiongkok” di halaman Facebook-nya.

Cook menjelaskan, bahwa orang yang tidak mengetahui dengan banyak tentang Tiongkok, mungkin belum tentu mengetahui bahwa media-media ini adalah corong partai Komunis Tiongkok.

Di negara-negara Barat, rezim Komunis Tiongkok membelanjakan jutaan dolar untuk memasukkan propagandanya ke saluran media arus utama. 

China Daily, diawasi oleh Departemen Publisitas Partai Komunis Tiongkok, agensi yang bertugas menyebarkan propaganda, memiliki kemitraan dengan banyak surat kabar Barat, termasuk The Wall Street Journal, The New York Times, dan The Washington Post di Amerika Serikat. 

propaganda tiongkok dalam perang dagang melalui suplemen advertorial
Kotak koran China Daily di Midtown Manhattan, New York City, pada 6 Desember 2017. (Benjamin Chasteen / The Epoch Times)

Publikasi ini telah menerbitkan koran suplemen dalam bentuk cetak atau online, yang mana ditulis oleh koran berbahasa Inggris yang dikelola pemerintah.

Laporan Federal filings oleh China Daily menunjukkan, pengeluaran tahunan outlet meningkat sepuluh kali lipat. Itu terjadi selama dekade terakhir, menjadi lebih dari $ 10 juta dalam beberapa tahun terakhir, kata Cook mencatat.  Ia menambahkan bahwa “banyak dari [pengeluaran] itu sebenarnya membayar media arus utama Amerika untuk memuat konten tersebut.”

Selain itu, “media yang dikelola pemerintah Tiongkok sedang menyuntikkan disinformasi ke platform media sosial global,” kata Cook. 

Upaya-upaya disinformasi yang teridentifikasi yang dilaporkan selama pemilihan presiden terbaru di Taiwan yang ditelusuri kembali ke Tiongkok, termasuk kelompok Facebook yang mendukung kandidat pro-Beijing yang dijalankan oleh pengguna yang berbasis di Tiongkok.  Serta upaya di Twitter untuk melemahkan pedemo pro-demokrasi di Hong Kong.

Komunis Tiongkok juga aktif di sektor penyiaran televisi digital, dengan investasi di seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Misalnya, raksasa telekomunikasi  ZTE menandatangani perjanjian dengan Perusahaan Televisi Pakistan -PTV- milik negara untuk memperluas layanan digital yang terakhir di tahun 2017.

Mencari kata kunci “Taiwan” di situs web PTV tidak mengungkapkan cakupan pada pemilihan Taiwan terbaru, atau pemilihan lokal Taiwan pada tahun 2018. Namun demikian, melaporkan tentang pemilihan Taiwan 2016, ketika Tsai Ing-wen memenangkan masa jabatan pertamanya, tapi itu sebelum adanya kesepakatan PTV dengan ZTE.

Mencari kata “Taiwan” dalam bahasa Urdu, salah satu bahasa yang digunakan di Pakistan, mengungkapkan cerita tentang kemenangan pemilihan ulang Tsai baru-baru ini.

Sedangkan, pencarian dengan kata kunci “Xinjiang” hanya mengungkapkan tujuh artikel. Akan tetapi, tidak satupun dari mereka melaporkan tentang pemenjaraan Komunis Tiongkok terhadap etnis Muslim Uighur di sana.

Taktik ketiga, paksaan, terwujud melalui intimidasi jurnalis, seperti di Rusia dan Swedia.

Menurut laporan itu, kedutaan besar Tiongkok di Swedia mengeluarkan sedikitnya 52 pernyataan yang menargetkan jurnalis dan outlet berita tertentu, mengkritik liputan mereka sambil menghujani mereka dengan penghinaan dan ancaman, antara Januari 2018 hingga Februari 2019.

Laporan itu juga menunjuk pada kasus serangan pembakaran terhadap percetakan The Epoch Times edisi Hong Kong pada 22 November 2019. 

Serangan pembakaran terhadap Percetakan surat kabar Epochtimes, secara luas diyakini sebagai upaya Komunis Tiongkok untuk membungkam Epoch Times, yang telah melaporkan secara meluas tentang aksi protes di Hong Kong dan pelanggaran hak asasi manusia Komunis Tiongkok.

“Kegiatan-kegiatan [Komunis Tiongkok] ini benar-benar merusak aspek mendasar dari pemerintahan yang demokratis, transparansi, supremasi hukum, dan persaingan yang sehat,” kata Cook.

Cook memperingatkan bahwa sebagai bentuk penyensoran, rezim Komunis Tiongkok juga telah menggusur media independen dengan media yang dikelola pemerintah, seperti yang dibuktikan oleh sebuah kasus di Papua Nugini pada Tahun 2018.

Menurut laporan media, pejabat Komunis Tiongkok mencegah jurnalis lokal dan internasional meliput pertemuan Xi Jinping dengan delapan pemimpin daerah di negara kepulauan Pasifik Selatan pada tahun itu. 

Sejumlah pejabat ini kemudian menyampaikan ke[ada para jurnalis bahwa mereka harus menggunakan pelaporan Xinhua – kantor berita yang dikelola pemerintah Komunis Tiongkok atau laporan video CCTV sebagai dasar liputan mereka.

Share

Video Popular