Frank Fang – The Epochtimes

Ribuan massa berkumpul di pusat kota Hong Kong pada Minggu (19/1/2020). Massa menyerukan sanksi internasional terhadap pejabat Komunis Tiongkok dan Hong Kong yang melanggar hak asasi manusia.

Unjuk rasa di kawasan Chater Garden itu diselenggarakan oleh Tim Majelis Sipil kelompok pro-demokrasi lokal, bertemakan “Karma untuk Komune 2020, Pengepungan Universal Komunis.”

Panitia kepada media lokal mengatakan, bahwa sekitar 150.000 orang hadir di puncak rapat umum itu. Sedangkan, Polisi memberikan perkiraan angka jauh lebih rendah sekitar 11.680 orang.

Kelompok itu telah merencanakan untuk mengadakan pawai setelah rapat umum, beranjak dari kawasan Chater Road ke Causeway Bay. Akan tetapi, polisi menolak permintaan mereka, dengan alasan masalah keamanan.

Akan Tetapi rapat umum yang disetujui polisi itu, tiba-tiba dibatalkan oleh polisi. Mereka segera menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa dalam jumlah besar yang berkumpul di dekat kawasan Chater Garden.

Otoritas Rumah Sakit Hong Kong mengumumkan bahwa tujuh orang dari acara protes Minggu itu dikirim ke rumah sakit untuk diobati luka-luka mereka. Pedemo yang dibawa ke rumah sakit mulai dari yang berusia 17 hingga 60 tahun.

“Banish Comunis Party, Liberate Hong Kong”

Sebelum rapat umum dimulai pukul 3 sore waktu setempat, Epochtimes Hong Kong melaporkan bahwa polisi menghentikan dan menggeledah tiga orang muda berpakaian hitam di Edinburgh Place, beberapa blok jauhnya dari kawasan Chater Garden. Ketiganya akhirnya dilepaskan.

Polisi Hong Kong juga mengumumkan bahwa mereka menangkap empat pria di distrik Central yang berdekatan, karena memiliki “senjata ofensif” seperti palu, tongkat, cat semprot, dan sarung tangan, “untuk kemungkinan tujuan yang melanggar hukum.”

Penyelenggara Tim Majelis Sipil Ventus Lau mengecam tindakan polisi karena menanyai dan menggeledah orang-orang dan jurnalis di kawasan dekat rapat umum.

Dia mengatakan, tindakan polisi sama dengan menekan kebebasan pers dan kebebasan berkumpul.

Lau juga meminta para peserta untuk memiliki mentalitas baru pada tahun 2020, tidak hanya menghadiri acara-acara protes tetapi juga terus “menolak.”

Kemudian, penyanyi Italia Stefano Lodola naik ke atas panggung untuk menyanyikan empat lagu terkait aksi protes.

Pada rapat umum itu, orang-orang meneriakkan slogan-slogan yang menggemakan tuntutan mereka: “Langit Akan Memusnahakan Komunis Tiongkok,” “Saya Ingin Hak Pilih Universal Sejati,” dan “Membuang Komunis Tiongkok, Bebaskan Hong Kong.”

Para pengunjuk rasa juga mengibarkan bendera Inggris dan AS.

Salah satu peserta mengangkat poster yang bertuliskan: “Kami menghadapi pemerintahan tidak dipilih yang berdarah, benar-benar menolak untuk mendengarkan orang-orang HK, dan hanya melayani tuannya di Beijing, dan kami mengatakan CUKUP.

Demonstrasi menentang pengaruh Beijing ke bekas jajahan Inggris, yang dikembalikan ke kedaulatan Tiongkok pada tahun 1997, pertama kali disulut pada bulan Juni lalu mengenai Rancangan Undang-Undang ekstradisi. RUU itu dinilai akan membuat rezim Komunis Tiongkok mengirim orang-orang untuk diadili di daratan Tiongkok.

Tuntutan warga Hong Kong sejak itu meluas hingga mencakup seruan untuk pemilihan umum yang bebas dan penyelidikan independen terhadap penggunaan kekuatan polisi terhadap para pemrotes.

Seorang pengunjuk rasa yang mengidentifikasi dirinya sebagai K, mengatakan kepada afiliasi The Epoch Times, NTD, bahwa ia khawatir polisi Hong Kong menjadi lebih agresif dan memukuli para pengunjuk rasa – tidak hanya para pengunjuk rasa yang lebih agresif yang berada di garis depan, tetapi juga mereka yang tanpa kekerasan.

Seorang mahasiswa perempuan, T, mendesak negara-negara lain untuk lebih memperhatikan apa yang terjadi di Hong Kong dan mendengarkan tuntutan para pemrotes.

Demonstrasi serupa diadakan di 22 kota di 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Australia pada 19 Januari 2020.

Upaya terkoordinasi global ini bertujuan untuk meminta pemerintah di seluruh dunia untuk mengeluarkan undang-undang yang serupa dengan Hong Kong Amerika Serikat.

Undang-Undang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong, memungkinkan adanya sanksi, seperti pembekuan aset dan penolakan masuk ke AS, terhadap Hong Kong dan pejabat pemerintah Komunis Tiongkok yang telah melanggar hak asasi manusia.

Tembakan Gas Air Mata dan Penangkapan

Dikarenakan, kapasitas tempat yang terbatas, penyelenggara telah mengumumkan bahwa dalam hal jumlah pemilih yang besar, para peserta harus tinggal selama beberapa waktu, kemudian pergi melalui rute yang ditentukan untuk memberikan ruang bagi orang lain untuk mengambil tempat mereka.

Sekitar 4:30 sore Waktu setempat, polisi Hong Kong meminta penyelenggara untuk membatalkan rapat umum lebih awal, karena mengklaim “kekerasan” oleh para pedemo.

Pernyataan polisi menggambarkan kegiatan tersebut seperti melempar botol air, membangun barikade jalan, dan melemparkan bom cat ke gedung-gedung.

Ketika polisi berpakaian preman tiba untuk bernegosiasi dengan Lau, seorang petugas awalnya menolak untuk menunjukkan kartu identitas kepolisiannya, memicu berangnya kerumunan massa, menurut Lau.

Akhirnya, petugas itu mengalah. Polisi Hong Kong kemudian mengeluarkan pernyataan di halaman Facebook-nya, mengklaim bahwa setidaknya dua staf mereka dipukuli oleh pengunjuk rasa selama huru-hara.

Polisi menambahkan bahwa mereka akan “menegakkan hukum secara ketat untuk menangkap para penyerang.”

Kemudian, Lau mengumumkan bahwa rapat umum dibatalkan. Chan, berusia 70 tahun, mengatakan kepada NTD bahwa dia tidak senang karena pertemuan itu berakhir sebelum waktunya karena tindakan polisi.

Polisi dengan cepat memasuki kawasan Taman Chater untuk membubarkan kerumunan massa. Mereka juga menghentikan dan mencari beberapa wartawan. Di beberapa lokasi di Central, polisi menembakkan gas air mata untuk membersihkan dari para pedemo.

Di kawasan Pedder Street, beberapa blok dari Chater Garden, polisi menangkap setidaknya 12 orang, di antaranya 9 pria.

Lau memberikan konferensi pers sekitar pukul 7 malam. Dia segera ditangkap dengan satu tuduhan “menghasut orang banyak” dan karena melanggar peraturan yang ditetapkan dalam permintaan polisi untuk pertemuan, menurut media Hong Kong.

Sekitar pukul 10 malam di kawasan Mongkok, orang-orang mulai menghalangi jalan. Polisi anti huru hara segera datang untuk membubarkan massa dan menyebarkan semprotan merica.

Epoch Times Hong Kong berkontribusi pada laporan ini.

(asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular